
Pawiwahan Bali, Cinta yang Menjelma dalam Simfoni Adat dan Spiritualitas. FOTO: Ayu05-PBMI
DENPASAR – PORTALBMI.ID – Bali kembali menegaskan dirinya bukan sekadar destinasi wisata, melainkan pusat spiritualitas dan budaya yang hidup. Setiap upacara adat Hindu Bali adalah panggung sakral yang memadukan doa, estetika, dan filosofi hidup, menjadikan pulau ini ikon budaya yang membuat dunia terpesona.
Dalam prosesi adat, masyarakat tampil anggun dengan busana megah berhiaskan emas dan songket berkilau. Sesajen tersusun dari bunga, buah, dan janur, sementara asap dupa yang mengepul berpadu dengan lantunan mantra menciptakan atmosfer yang seolah menghubungkan manusia dengan semesta.
Inilah wajah Bali yang sesungguhnya: pulau yang bernafas dengan tradisi, di mana setiap detail adalah simbol harmoni.
Seorang pemangku adat di Denpasar menuturkan, “Setiap persembahan adalah jembatan antara manusia dan alam. Inilah cara kami menjaga keseimbangan hidup.” Kutipan ini menegaskan bahwa ritual bukan sekadar tradisi, melainkan filosofi yang diwariskan turun-temurun.

Makna sakral juga hadir dalam pawiwahan, pernikahan adat Bali, kata pawiwahan berasal dari Sanskerta vivaaha, yang berarti “penyatuan” bagi masyarakat Bali, pawiwahan adalah ikatan lahir dan batin, penyatuan cinta yang disucikan dengan dharma.
Sebagaimana tertulis dalam Manawa Dharmasastra IX.3

“Dharma, artha, dan kama harus dijalankan bersama oleh suami dan istri yang saling mendukung.”
Generasi muda Bali kini aktif menjaga tradisi ini, belajar dari leluhur, dan menjadikannya bagian dari identitas mereka. Dengan cara itu, budaya Bali tidak hanya bertahan, tetapi juga terus berkembang di tengah arus globalisasi, menjadi inspirasi bagi dunia tentang bagaimana tradisi dapat hidup berdampingan dengan modernitas.
Dalam Bhagavad Gita IX.26 disebutkan
“Patram pushpam phalam toyam yo me bhaktya prayacchati, tad aham bhakty-upahritam asnami prayatatmanah.”
Artinya: “Siapa pun yang mempersembahkan kepada-Ku daun, bunga, buah, atau air dengan penuh bhakti, Aku akan menerimanya.”
Ajaran ini nyata dalam setiap ritual Bali, di mana persembahan sederhana sekalipun menjadi simbol bhakti yang mendalam. Bali bukan hanya pulau indah. Ia adalah guru dunia tentang bagaimana cinta, doa, dan tradisi dapat berjalan seiring.
Setiap upacara adat adalah pesan universal bahwa keindahan sejati lahir dari akar budaya yang dijaga, dari doa yang dihidupkan, dan dari cinta yang disucikan.
Inilah alasan mengapa setiap mata yang memandang Bali selalu berkata: “Bali adalah jiwa budaya dunia.”
(Ayu05-PBMI)








