
Kepala BAPPERIDA Kalimantan Barat Launching Buku, Pameran Poster dan Seminar dengan tema: “Tanaman Obat Tradsional. FOTO: Aep05/ portalbmi.id
PONTIANAK – PORTALBMI.ID – Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (BAPPERIDA) Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, Rabu (4/2/2025) melakukan lauching Buku, Pameran Poster dan Seminar dengan tema: “Tanaman Obat Tradsional: Ensiklopedia Dayak dan Melayu, Dorong Pelestarian Budaya Kalimantan Barat” bertempat di Gedung Konferensi Universitas Tanjungpura, Ruang Teater 1, Kota Pontianak.
Acara ini dihadiri oleh banyak kalangan mulai dari BAPPERIDA sendiri, Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) XII Kalimantan Barat, Dinas atau Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dosen dan Mahasiswa yang ada di Pontianak, dan juga Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Kalimantan Barat, Dinas terkait Kabupaten/Kota se-kalimantan Barat, Kadin Kalbar, Dewan Adat Dayak (DAD) Kalbar, Majelis Adat Budaya Melayu (MABN) Kalbar) hingga komunitas pecinta Budaya se-Kalbar.
Kepala BAPPERIDA Kalimantan Barat sekaligus membuka acara, Dra. Linda Purnama, M.Si dalam sambutannya mengatakan bahwa sangat penting untuk melestarikan budaya tradisional di Kalimantan Barat terutama tanaman obat tradsional karena Kalimantan Barat kaya akan potensi tersebut.
“Saya ucapkan selamat atas Launching Buku ini, buku dengan judul dan isi yang sangat menarik serta penting dalam rangka kita ikut melestarikan budaya tradisional Kalimantan Barat, terutama obat tradisional yang berasal dari tanama Kalimantan Barat yang sangat kaya akan potensi, sehingga jika ini dikembangkan lebih jauh bisa membantu perekonomian masyarakat “ujarnya.
Buku ini tulis oleh 7 (Tujuh) penulis yang berasal dari berbagai latar belakang, mereka adalah Resky Nanda Pranaka, Jagad Aditya Dewantara, Edy Agustinus, Junaidi, Giopanus Remo Pratama, Arnoid Ferdinand dan Iwan Ramadhan.
Salah satu penulis Edy Agustinus yang juga merupakan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang Riset dan Inovasi Daerah, BAPPERIDA Kalimantan Barat mengatakan bahwa buku ini diteliti dan ditulis untuk mengangkat potensi kearifan lokal yang ada di Kalimantan Barat.
“Terima kasih kami ucapkan kepada semua pihak yang telah membantu hingga terbitnya buku ini, buku ini lahir dari keterpanggilan kami untuk mengangkat nilai – nilai kearifan lokal terutama obat tradisional yang berasal dari tanaman Kalimantan Barat, ujarnya Edy.
Meski tidak mudah untuk mencari 166 tanaman dengan halaman buku sebanyak 364 halaman, karena harus masuk hutan, keluar masuk kampung, dokumentasi, narasi serta bertemu dengan tokoh – tokoh adat dan masyarakat yang mengetahui obat – obatan tersebut.
“Kami bersyukur buku ini telah terbit meski prosesnya tidak mudah harus masuk hutan, keluar masuk kampung, dokumentasi, narasi serta bertemu dengan tokoh – tokoh adat dan masyarakat yang mengetahui tanaman obat” ujar Edy yang merupakan lulusan Pascasarjana, FISIP UNTAN.
Lebih lanjut, Resky Nanda Pranaka selaku Ketua Tim Riset mengatakan buku ini merupakan upaya Tim yang di danai dana Indonesiana Kementerian Kebuadayaan untuk mendokumentasi dan menyebarluaskan pengetahuan Masyarakat Dayak dan Melayu ke semua kalangan agar kekayaan budaya ini dapat eksis dan berkembang dimasa yang akan datang.
Bapak Juliadi, S.S., M.Sc., selaku Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XII (Kalimantan Barat) yang didaulat sebagai Narasumber serta pak Suyanto peneliti Madya Bapperida Prov Kambar menyampaikan pemikiran yg sejalan bahwa juga buku ini dapat dijadikan bahan dalam rangka mengajukan WBTB atau Kekayaan Intelektual Komunal dari Kabupaten Sintang dan Kabupaten Sambas.
(Aep05-PBMI)








