
Percikan api dan dentuman palu di bengkel tradisional Ubud membuka jendela budaya yang jarang tersorot. FOTO: Ayu05/portalbmi.id
UBUD – PORTALBMI.ID – Percikan api dan dentuman palu di bengkel tradisional Ubud membuka jendela budaya yang jarang tersorot, sekaligus mengundang wisatawan menyaksikan pusaka leluhur lahir dari tangan pengrajin.
Di balik sawah hijau nan Asri dan seni tari yang memikat, Ubud menyimpan denyut tradisi yang terus hidup, salah satunya pandai besi, keterampilan turun-temurun yang sarat makna budaya dan spiritual.
Di bengkel sederhana, percikan api berhamburan saat besi merah membara ditempa di atas landasan, disertai suara dentuman palu berpadu dengan aroma logam panas, menciptakan suasana yang membuat pengunjung serasa kembali ke masa lalu.

Pandai besi di Ubud memiliki peran penting dalam pembuatan keris, pusaka sakral yang diyakini menyimpan energi spiritual dan digunakan dalam berbagai upacara adat.
Ini bukan lebih dari Sekadar Kerajinan, bagi para pandai besi, di setiap pukulan palu adalah doa.
“Kami tidak hanya membentuk besi, tetapi juga menjaga keseimbangan hidup,” ujar seorang pengrajin.
Tradisi ini menyatukan unsur api, tanah, udara, dan spiritualitas, menjadikannya bagian tak terpisahkan dari identitas Bali.

Wisata Budaya di Jantung Bali
Ubud bukan hanya pusat seni lukis dan tari, tetapi juga tempat wisatawan dapat menyaksikan langsung proses pandai besi.
Lokasi: Desa Mas dan Desa Tegallalang dikenal sebagai pusat pengrajin tradisional.
Jam kunjungan: Pagi hingga sore hari, saat proses menempa berlangsung.
Pengalaman: Wisatawan bisa melihat, berfoto, bahkan mencoba memegang palu di bawah bimbingan pengrajin.
Festival budaya: Pada momen tertentu, seperti odalan (hari jadi pura) atau festival seni Ubud, keris dan karya pandai besi ditampilkan sebagai bagian dari ritual dan pameran budaya.
Setiap percikan api di bengkel pandai besi Ubud adalah simbol keteguhan Bali dalam merawat tradisi. Bagi wisatawan, ini adalah undangan untuk melihat sendiri bagaimana api warisan leluhur terus menyala di jantung Bali, dan membawa pulang bukan hanya kenangan, tetapi juga pemahaman lebih dalam tentang budaya yang hidup.
(Ayu05-PBMI)








