
Firdaus.S.Ip., Dosen Ilmu Politik Sampaikan Kultum Ramadan di Mushollah Nuruddin Fisip Untan. FOTO: Firdaus06/portalbmi.id
PONTIANAK – PORTALBMI.ID – Bulan suci Ramadhan kembali dimaknai sebagai momentum perubahan diri dalam ceramah bertema “Ramadhan: Titik Balik atau Hanya Rutinitas?” yang digelar di Surau Nuruddin Fisip Untan, lingkungan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Tanjungpura.
Kegiatan yang dihadiri mahasiswa dan sivitas akademika Universitas Tanjungpura tersebut menghadirkan Firdaus, S.IP., M.Sos, akademisi sekaligus Dosen Ilmu Politik Untan, sebagai pemateri utama.
Pelaksanaan kegiatan ini merupakan salah satu agenda pembinaan keislaman yang diinisiasi oleh Forum Komunikasi Mahasiswa Islam Nuruddin Fisip Untan (FKMI Nuruddin Fisip Untan) dalam rangka menyemarakkan bulan suci Ramadan di lingkungan kampus.
Dalam penyampaiannya, Firdaus menegaskan bahwa Ramadhan bukan sekadar agenda tahunan, melainkan misi pembentukan karakter dan penguatan spiritual. Ia membuka dengan mengutip firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 183:
“Yā ayyuhalladzīna āmanū kutiba ‘alaikumush-shiyām… la‘allakum tattaqūn.”
Ia menekankan frasa la‘allakum tattaqūn agar kamu menjadi orang bertakwa sebagai tujuan utama puasa. Menurutnya, Allah tidak menyebut tujuan puasa untuk menahan lapar atau haus semata, melainkan membentuk ketakwaan.
“Takwa berasal dari kata waqā yaqī, yang berarti melindungi. Orang bertakwa adalah mereka yang mampu memasang pelindung antara dirinya dan dosa,” ujarnya di hadapan jamaah.
Ramadan dan Al-Qur’an sebagai Panduan Transformasi
Firdaus juga mengutip Surah Al-Baqarah ayat 185:
“Syahru Ramadhān alladzī unzila fīhil-Qur’ān…”
Ramadhan disebut istimewa bukan semata karena puasanya, tetapi karena diturunkannya Al-Qur’an. Tanpa interaksi yang intens dengan Al-Qur’an, puasa dikhawatirkan hanya menjadi ritual fisik tanpa dampak spiritual.
“Perubahan hidup tidak cukup dengan menahan lapar. Perubahan harus dipandu wahyu. Al-Qur’an adalah hudan (petunjuk), bayyināt (penjelas), dan furqān (pembeda antara yang benar dan salah),” jelasnya.

Perubahan Dimulai dari Diri Sendiri
Dalam kesempatan tersebut, ia turut mengingatkan prinsip perubahan berdasarkan Surah Ar-Ra’d ayat 11:
“Innallāha lā yugayyiru mā biqaumin ḥattā yugayyirū mā bi anfusihim.”
Menurutnya, Ramadhan adalah fasilitas yang Allah berikan, namun keputusan untuk berubah tetap berada pada diri masing-masing.
“Kalau tidak ada niat hijrah, Ramadhan hanya menjadi acara tahunan. Namun jika ada kesungguhan, Ramadan menjadi momentum kebangkitan,” tegasnya.
Ramadhan sebagai “Restart” Spiritual
Ia juga mengutip hadis riwayat Al-Bukhari dan Muslim tentang keutamaan puasa Ramadhan yang dilakukan dengan iman dan penuh pengharapan pahala, sehingga dosa-dosa yang telah lalu diampuni.
Firdaus menjelaskan bahwa syarat īmānan (dengan iman) dan iḥtisāban (mengharap pahala) menuntut kesadaran penuh dalam beribadah, bukan sekadar rutinitas.
“Jika Ramadhan menghapus dosa masa lalu, maka ia memberi kita titik nol baru. Pertanyaannya, setelah itu mau diisi dengan apa?” tuturnya.
Dalam hadis lain disebutkan bahwa puasa adalah perisai pelindung dari dorongan syahwat yang tak terkendali, emosi yang meledak, dan ucapan yang menyakiti.
Indikator Keberhasilan Ramadhan
Sebagai penutup, Firdaus menyampaikan indikator keberhasilan Ramadhan, antara lain meningkatnya kualitas shalat, kedekatan dengan Al-Qur’an, kontrol lisan, kedermawanan, dan kelembutan hati.
“Jika setelah Ramadhan kita masih sama seperti sebelumnya, mungkin yang berubah hanya jadwal makan kita. Tapi jika hati dan karakter ikut berubah, itulah tanda Ramadan menjadi titik balik kehidupan,” pungkasnya.
Melalui agenda yang diinisiasi FKMI Nuruddin Fisip Untan ini, diharapkan Ramadhan tidak hanya menjadi ritual tahunan, tetapi benar-benar menjadi sarana transformasi spiritual dan pembentukan karakter mahasiswa di lingkungan kampus.
(Firdaus06-PBMI)








