
Seniman asal Tangerang, Edi Bonetsky, turut meramaikan gelaran Pop Up Market Ramadhan Sale. FOTO: Achie06/portalbmi.id
CILEGON – PORTALBMI.ID – Seniman asal Tangerang, Edi Bonetsky, turut meramaikan gelaran Pop Up Market Ramadhan Sale pada hari keempat yang berlangsung di kawasan Semilir Senja, Kota Cilegon, Rabu (11/3/2026). Kehadirannya menambah warna dalam ruang kreatif yang mempertemukan berbagai komunitas seni, musik, dan kreativitas anak muda di kota industri tersebut.
Edi Bonetsky dikenal sebagai seniman otodidak yang telah menekuni dunia seni sejak duduk di bangku kelas 5 sekolah dasar. Ia mengaku perjalanan kreatifnya bermula dari kegemaran bermusik yang kemudian berkembang menjadi eksplorasi seni visual dan bunyi.
“Awalnya saya dari musik. Dari bunyi dulu baru kemudian masuk ke visual. Jadi audio lebih dulu, baru ke visual,” ujar Edi saat ditemui di lokasi acara.

Dalam proses kreatifnya, Edi banyak bereksperimen dengan interpretasi bunyi dan visual. Ia juga dikenal memainkan musik noise dan perkusi. Salah satu karya musiknya yang pernah dirilis adalah album ordegila bersama proyek musik Serdadu yang masih dapat ditemukan di platform YouTube.
Pada kesempatan tersebut, Edi membawa tema karya bertajuk “Geger Cilegon”, yang menurutnya merupakan cara membaca dinamika anak muda di Kota Cilegon melalui berbagai medium ekspresi.
“Tema ini tentang bagaimana melihat, mendengar, dan merasakan geliat anak muda Cilegon. Sebuah kota bisa diidentifikasi dari gerak kreativitas anak mudanya dari pandangan mata, pendengaran telinga, hingga gerak perbuatannya,” jelasnya.
Menurut Edi, seni memiliki peran penting dalam menjaga kehidupan sebuah kota. Tanpa aktivasi seni dan ruang ekspresi, sebuah kota berpotensi kehilangan ruh kreativitas masyarakatnya.
“Sebuah kota yang tidak punya hasrat seni akan terasa kaku. Kota itu seperti hidup tapi tanpa rasa, seperti kuburan yang berjalan,” katanya.
Ia juga menilai Cilegon memiliki karakter kuat sebagai kota industri yang identik dengan baja dan besi. Namun, menurutnya, karakter kuat tersebut seharusnya juga tercermin pada mental dan kreativitas generasi mudanya.
“Cilegon ini kota baja, gagah. Tapi anak mudanya juga harus diberi ruang untuk menjadi ‘baja’ dalam kreativitas dan budaya,” ujarnya.

Edi turut mengapresiasi komunitas kreatif seperti Deadmore yang berperan dalam menghadirkan ruang pertemuan bagi anak-anak muda untuk berkarya dan berekspresi melalui kegiatan seperti Pop Up Market Ramadhan Sale.
“Ini bukan sekadar kumpul-kumpul, tapi aktivasi kebudayaan urban. Anak-anak muda di sini sudah bergerak, membangun cluster kreativitas mereka sendiri,” katanya.
Ia berharap ruang-ruang alternatif seperti Semilir Senja dapat terus menjadi wadah bagi tumbuhnya energi kreatif di Banten, sekaligus menjadi cermin bahwa kebudayaan bisa hidup dari gerakan komunitas.
“Biarkan energi positif ini menyebar seperti virus yang baik. Yang penting tetap bergerak, tetap berkarya, dan mengajak kepada Gubernur Banten untuk membangun dan menciptakan generasi kreatif “, ujar Edi.
(Achie06-PBMI)








