
Minuman fungsional Lemon-Madu Inovator IPB University. Foto: Dok. IPB University
BOGOR – PORTALBMI.ID – Minuman berbahan lemon dan madu mungkin sudah banyak kita temukan, tapi sayangnya, menurut Guru Besar IPB University, Prof Ahmad Sulaiman, masih banyak yang mengandung tinggi gula serta hanya menonjolkan rasa, bukan manfaat kesehatannya.
Mengutip website resmi IPB, berangkat dari keprihatinan Prof Ahmad Sulaiman, dia mengembangkan minuman fungsional berbahan lemon segar dan madu lokal yang dirancang untuk membantu menjaga kestabilan tekanan darah.
“Sebagian besar minuman lemon atau madu yang beredar masih mengandung gula tinggi dan menggunakan perisa. Selain itu, belum banyak produk yang diformulasikan secara khusus untuk membantu menstabilkan tekanan darah,” ujarnya, seperti dikutip dari ipb.ac.id pada Jumat (3/4).
Lebih lanjut, dia juga menambahkan bahwa minuman rancangannya tersebut menggunakan bahan alami, sehingga masih bisa dikonsumsi oleh mereka yang membatasi asupan gula, seperti pengidap diabetes.
Dalam proses pengembangannya, Prof Ahmad bersama tim menerapkan perlakuan minimal terhadap bahan baku untuk menjaga kandungan bioaktif dari lemon dan madu tetap optimal.
“Kami berupaya mempertahankan komponen bioaktif dari lemon dan madu dengan perlakuan yang sangat minimal. Namun di sisi lain, aspek keamanan pangan tetap menjadi prioritas, terutama untuk mengendalikan potensi bahaya mikrobiologi,” terangnya.
Setelah melalui proses produksi, minuman tersebut dikemas secara optimal dan disimpan pada suhu rendah guna mencegah kerusakan senyawa bioaktif yang terkandung di dalamnya. Untuk memastikan manfaatnya, tim peneliti juga melakukan berbagai pengujian ilmiah.
“Kami melakukan pengujian kandungan bioaktif, uji in silico, hingga uji praklinik dan uji klinik pada kelompok prahipertensi. Hasilnya menunjukkan adanya penurunan tekanan darah, baik sistolik maupun diastolik,” ungkapnya.
Hasil penelitian tersebut menunjukkan adanya efek sinergis dari komponen bioaktif yang terdapat pada lemon dan madu.
Kendati demikian, Prof Ahmad Sulaiman menegaskan bahwa minuman ini bukan obat, hanya sebagai asupan tambahan saja. “Produk ini bukan obat, tetapi dapat disebut sebagai complementary alternative medicine atau CAM. Artinya, minuman ini dapat menjadi pelengkap bagi terapi hipertensi yang dianjurkan dokter,” tegasnya.
Inovasi minuman ini telah berhasil masuk ke dalam daftar 117 Inovasi Indonesia 2025. Kemudian, potensi minuman sehat ini juga bisa dikembangkan menjadi produk UMKM.
“Peluang hilirisasi sangat terbuka, terutama melalui UMKM. Namun proses produksinya harus mengikuti standar cara produksi obat tradisional yang baik (CPOTB) agar dapat didaftarkan secara resmi,” tutupnya.







