
Ilustrasi Belenggu Digitalisasi. Sumber foto: Chatgpt.com
JAKARTA – PORTALBMI.ID – Di zaman ketika segalanya terasa cepat, instan, dan serba tersedia, ada satu hal yang justru semakin langka yakni kehadiran utuh sebagai manusia. Kita bangun dengan ponsel di tangan, menjalani hari di antara notifikasi, dan tidur dengan kepala yang masih dipenuhi potongan-potongan informasi.
Anehnya, semakin banyak yang kita lihat, semakin sedikit yang benar-benar kita pahami. Dunia terasa penuh, tetapi batin kita sering kosong. Dalam kondisi seperti ini, gagasan lama dari Plato tentang manusia di dalam gua tiba-tiba terasa sangat relevan. Kita mungkin tidak lagi terbelenggu rantai fisik, tetapi kita tetap terikat oleh sesuatu yang jauh lebih halus yaitu perhatian kita sendiri.
Pemikir seperti Jiang Xueqin membaca situasi ini dengan cukup tajam. Ia tidak melihat krisis hari ini sebagai sekadar persoalan politik, ekonomi, atau bahkan teknologi. Bagi Jiang, masalahnya lebih mendasar bahwa kita sedang kehilangan kendali atas kesadaran kita sendiri. Apa yang kita pikirkan, rasakan, dan anggap penting semakin banyak ditentukan oleh sistem di luar diri kita, semua itu kita temukan di dalam algoritma, arus opini, dan struktur kekuasaan yang bekerja tanpa terlihat.
Dari sinilah ia memulai satu gagasan yang terdengar sederhana, tetapi sebenarnya cukup mengguncang bahwa kekayaan sejati bukanlah uang, melainkan perhatian. Selama ini kita terbiasa mengukur nilai hidup dari hal-hal yang bisa dihitung melalui saldo rekening, aset, atau pencapaian material. Namun di dunia yang penuh distraksi, kemampuan untuk fokus justru menjadi sesuatu yang mahal.
Kita bisa memiliki banyak hal, tetapi jika perhatian kita tercerai-berai, semua itu kehilangan maknanya. Sebaliknya, seseorang yang mampu mengarahkan kesadarannya dengan jernih, memilih apa yang layak diperhatikan, dan tidak mudah terseret arus maka sebetulnya dialah yang sebenarnya “kaya”.
Masalahnya, perhatian kita hari ini bukan sekadar terganggu – justru ia diperebutkan. Ada industri besar yang hidup dari ekonomi perhatian. Platform digital, media sosial, hingga sistem hiburan dirancang sedemikian rupa untuk mempertahankan kita selama mungkin di dalamnya. Bukan karena mereka jahat secara sederhana, tetapi karena model bisnisnya memang bergantung pada itu. Semakin lama kita bertahan, semakin besar nilai yang bisa diekstraksi. Dalam situasi ini, perhatian manusia berubah menjadi komoditas.
Di sinilah teknologi, terutama kecerdasan buatan, memainkan peran yang semakin besar. Kita sering melihat AI sebagai alat bantu yang mempermudah pekerjaan, mempercepat proses, atau meningkatkan efisiensi. Namun jika dilihat lebih dalam, AI juga berfungsi sebagai kurator realitas. Ia memilihkan apa yang kita lihat, menyaring apa yang kita baca, bahkan memengaruhi apa yang kita rasakan. Pelan-pelan, kita tidak lagi berhadapan langsung dengan dunia, melainkan dengan versi dunia yang sudah diproses untuk kita.
Jiang menyebut kecenderungan ini sebagai bentuk kontrol baru—bukan kontrol yang keras dan memaksa, tetapi yang lembut dan nyaris tidak terasa. Kita tidak dipaksa untuk patuh melainkan dibuat nyaman. Kita tidak dilarang berpikir melainkan kita diberi terlalu banyak hal untuk dipikirkan, hingga akhirnya tidak sempat berpikir secara mendalam. Ini yang membuat situasinya menjadi rumit. Karena tidak terasa seperti penindasan, kita jarang menyadarinya sebagai masalah.
Dalam konteks yang lebih luas, perubahan ini juga berjalan seiring dengan pergeseran tatanan global. Dunia yang dulu relatif stabil dengan aturan main yang jelas kini mulai retak. Figur seperti Donald Trump sering dilihat sebagai simbol dari perubahan ini—bukan penyebab tunggal, tetapi bagian dari gelombang yang lebih besar.
Politik menjadi lebih transaksional, kerja sama internasional melemah, dan kepentingan nasional kembali menguat. Dalam kondisi seperti ini, konflik tidak lagi semata-mata soal ideologi, tetapi soal hal-hal yang sangat konkret dapat berupa energi, pangan, air, dan keberlangsungan hidup.
Di balik semua dinamika ini, ada satu hal yang jarang dibicarakan secara jujur yakni bagaimana kekuasaan direproduksi. Pengalaman Jiang di Universitas Yale membuka sisi lain dari narasi meritokrasi yang sering kita dengar.
Kita diajarkan bahwa siapa pun bisa berhasil selama cukup pintar dan bekerja keras. Namun dalam praktiknya, jaringan, akses, dan kedekatan sosial sering kali memainkan peran yang sama besar, bahkan lebih besar. Institusi elit bukan hanya tempat belajar, tetapi juga ruang di mana kekuasaan diwariskan dan diperkuat.
Semua ini bisa terasa cukup pesimistis jika berhenti di sini. Namun Jiang tidak berhenti pada kritik. Ia justru menutup dengan sesuatu yang sederhana, tetapi penting bahwa setiap individu tetap memiliki arti. Di tengah sistem yang besar dan kompleks, kita memang tidak selalu punya kendali atas segalanya. Tetapi kita masih punya kendali atas satu hal yang paling mendasar yakni perhatian kita sendiri.
Memilih untuk sadar di tengah dunia yang penuh distraksi bukanlah hal yang mudah. Ia membutuhkan disiplin, keberanian, dan kadang-kadang kesediaan untuk merasa tidak nyaman.
Artinya, kita harus berani mempertanyakan apa yang kita konsumsi setiap hari, berani mengambil jarak dari arus yang terlalu bising, dan berani berpikir sendiri ketika semua orang tampak sepakat.
Mungkin di situlah letak perlawanan yang paling nyata hari ini. Bukan dalam bentuk yang spektakuler, tetapi dalam keputusan-keputusan kecil yang konsisten, memilih untuk fokus, untuk memahami, dan untuk peduli.
Dalam dunia yang terus berusaha merebut perhatian kita, kemampuan untuk mengatakan “tidak” pada distraksi dan “ya” pada kesadaran adalah bentuk kebebasan yang tidak bisa direbut begitu saja.
Pada akhirnya, pertanyaannya bukan lagi apakah dunia ini semakin kompleks, sebab pertanyaan itu sudah pasti. Namun pertanyaan yang paling tepat adalah, di tengah kompleksitas itu, apakah kita masih hadir sebagai manusia yang utuh, atau hanya menjadi penonton yang larut dalam arus?. Karena bisa jadi, kekayaan terbesar yang kita miliki bukanlah apa yang kita kumpulkan, melainkan apa yang berhasil kita sadari.







