
Ajung Vierra melawan Retinoblastoma (kanker mata anak) hingga embusan napas terakhirnya. FOTO: Ayo05/portalbmi.id
BALI – PORTALBMI.ID – Kehilangan buah hati adalah patah hati terdalam bagi setiap orang tua. Namun bagi Gunk Ophie, kepergian putri kecil tercintanya, Ajung Vierra, pada 14 Februari 2026, bukan sekadar duka. Ini adalah kesaksian tentang ketabahan luar biasa seorang balita yang melawan Retinoblastoma (kanker mata anak) hingga embusan napas terakhirnya.
Tujuh Bulan Perjuangan Tanpa Keluh
Ajung didiagnosis menderita Retinoblastoma, sebuah kanker agresif yang menyerang area mata pada anak-anak. Sejak saat itu, hari-hari Ajung berubah menjadi rangkaian prosedur medis yang sangat berat. Mulai dari operasi pengangkatan mata kiri hingga menjalani kemoterapi intensif selama tujuh bulan.

“Terima kasih sudah selalu kuat selama ini, sayang. Ajung bertahan dengan rasa sakit yang tidak bisa Ajung katakan. Berjuang dari angkat mata kiri dan kemo tanpa drama sedikit pun,” ungkap Gunk Ophie dengan penuh ketegaran. Kedewasaan Ajung dalam menghadapi rasa sakit menjadi sumber kekuatan utama bagi sang ibu yang mendampinginya setiap detik.
Edukasi: Mengenal Gejala Retinoblastoma pada Mata Anak
Melalui kisah perjuangan Ajung, Gunk Ophie ingin memberikan pesan penting bagi para orang tua untuk lebih waspada terhadap gejala Retinoblastoma. Penyakit ini sering kali tidak terdeteksi hingga mencapai stadium lanjut karena anak belum bisa mengungkapkan rasa sakitnya secara verbal.
Salah satu ciri utama yang perlu diwaspadai adalah Leukokoria, atau munculnya pantulan cahaya putih pada pupil mata (seperti mata kucing) saat terkena sinar atau lampu flash kamera.
Deteksi dini adalah kunci penyelamatan. Jika orang tua melihat adanya kelainan seperti arah pandangan mata yang juling, perubahan warna iris, atau kemerahan yang tidak kunjung sembuh, segera konsultasikan ke dokter spesialis mata. Waktu sangatlah berharga dalam melawan sel kanker yang tumbuh cepat.
Perpisahan Indah di Hari Kasih Sayang
Setelah sempat mengalami penurunan kondisi (drop) selama dua minggu, Ajung akhirnya “terbang” setinggi-tingginya tepat di Hari Kasih Sayang. Tanggal 14 Februari kini memiliki makna baru bagi keluarga—sebuah simbol cinta abadi yang melampaui batas dunia.

Meski raga tak lagi bisa digapai, semangat Ajung tetap hidup dalam ingatan. Foto-fotonya saat bermain dengan ceria menjadi bukti bahwa kanker mungkin bisa menyerang tubuh, tetapi tidak pernah bisa merenggut senyum dan cahaya di hati seorang anak hebat.
Pesan Terakhir untuk Bidadari Kecil
Bagi Gunk Ophie, Ajung adalah guru kesabaran yang sesungguhnya. Pesan terakhirnya untuk sang putri sangat menyentuh hati siapa pun yang membacanya.
“Selamat jalan anakku sayang, anak kuat, anak hebat, anak pintar. Sekarang Ajung sudah tidak sakit lagi ya. Baik-baik di sana sayang, di tempat terindah untuk anakku yang cantik,” tutupnya dengan penuh kasih.
(Ayu05-PBMI)








