
35 pengusaha UMKM dari berbagai penjuru Kota Pontianak mengikuti kegiatan bertajuk Penguatan Kapasitas UMKM melalui Digitalisasi Sistem Keuangan.FOTO: Firdaus06/portalbmi.id
PONTIANAK – PORTALBMI.ID – Suasana di Aula Bapperida Kota Pontianak pada suatu pagi di bulan Maret 2026 terasa berbeda. Puluhan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) duduk dengan penuh perhatian, sebagian membawa buku catatan, lainnya sibuk dengan ponsel di tangan. Mereka datang dengan satu tujuan untuk belajar beradaptasi di era digital.
Sebanyak 35 pengusaha UMKM dari berbagai penjuru Kota Pontianak mengikuti kegiatan bertajuk Penguatan Kapasitas UMKM melalui Digitalisasi Sistem Keuangan. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Pandu Literasi Digital KOMDIGI RI sebagai upaya mendorong pelaku usaha lokal agar lebih siap menghadapi tantangan ekonomi modern.
Bagi banyak peserta, mengelola keuangan secara digital bukanlah hal yang biasa. Sebagian masih terbiasa mencatat pemasukan dan pengeluaran secara manual. Namun, perubahan zaman menuntut cara yang lebih efisien dan akurat.
Di tengah kegiatan, Edi Suprianto, yang hadir sebagai narasumber, menjelaskan pentingnya transformasi digital dalam pengelolaan keuangan usaha. Dengan pendekatan yang sederhana dan praktis, ia menunjukkan bagaimana aplikasi digital dapat membantu pelaku UMKM mencatat transaksi, mengontrol arus kas, hingga membuat laporan keuangan dengan lebih mudah.
“Digitalisasi bukan hanya soal teknologi, tapi tentang bagaimana usaha bisa tumbuh lebih terarah,” ungkapnya di hadapan peserta.
Tak hanya itu, kegiatan ini juga menghadirkan Bpk Ibrahim, S.IP., M.Si., (KADISKUMDAG Kota Pontianak) sebagai keynote speaker. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa UMKM merupakan tulang punggung ekonomi daerah, sehingga perlu didukung dengan peningkatan kapasitas, termasuk dalam hal pengelolaan keuangan.
Menurutnya, kemampuan memahami sistem keuangan digital akan membantu pelaku usaha dalam mengambil keputusan yang lebih tepat dan berkelanjutan. Pemerintah daerah pun terus mendorong berbagai program pelatihan agar UMKM tidak tertinggal dalam arus digitalisasi.
Seiring berjalannya sesi, suasana menjadi semakin interaktif. Para peserta mulai mencoba langsung beberapa tools digital yang diperkenalkan. Diskusi pun mengalir mulai dari kendala penggunaan aplikasi hingga strategi mengelola keuangan usaha secara lebih disiplin.
Bagi sebagian peserta, kegiatan ini menjadi titik awal perubahan. Bukan hanya belajar teknologi baru, tetapi juga mengubah cara pandang terhadap pengelolaan usaha.
Menjelang akhir acara, semangat para pelaku UMKM terlihat jelas. Mereka pulang tidak hanya membawa materi, tetapi juga harapan bahwa dengan langkah kecil menuju digitalisasi, usaha mereka dapat berkembang lebih kuat dan berdaya saing.
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, kisah dari Aula Bapperida ini menjadi pengingat: transformasi digital tidak selalu dimulai dari hal besar. Terkadang, ia berawal dari keberanian untuk belajar sesuatu yang baru.
(Firdaus06-PBMI)








