
CEO KDEB Waste Management Selangor Malaysia, Dato Ramli bersama PT Gibrig Indonesia Bersih, diterima oleh Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono. FOTO: Imam07/portalbmi.id
BANYUMAS – PORTALBMI.ID – Pengelolaan sampah Kabupaten Banyumas kembali menjadi rujukan internasional setelah rombongan dari Selangor, Malaysia datang untuk belajar langsung di Banyumas Rabu (15/4/2026) di Ruang Joko Kaiman.
Kunjungan yang dipimpin oleh CEO KDEB Waste Management Selangor Malaysia, Dato Ramli bersama PT Gibrig Indonesia Bersih, diterima oleh Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono, didampingi oleh Asisten Perekonomian dan Pembangunan Junaedi dan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Banyumas Widodo Sugiri. Kunjungan tersebut membuka peluang kerja sama teknologi hingga investasi di sektor persampahan.
Dalam kesempatan tersebut, CEO KDEB Waste Management Selangor Malaysia, Dato Ramli menyampaikan ketertarikan mendalam pihaknya untuk mengadopsi sistem pengelolaan sampah berbasis komunitas yang diterapkan di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Model ini dinilai sebagai salah satu yang terbaik di Indonesia dan layak untuk diimplementasikan di Malaysia.
Ia mengungkapkan bahwa pihaknya telah meninjau secara langsung teknik pengolahan sampah di Banyumas yang dilakukan secara desentralisasi hingga tingkat desa atau kampung. Penggunaan mesin pengolah sampah yang efektif di level lokal menjadi fokus utama yang ingin dipelajari dan diterapkan di Selangor.
“Di Selangor, kami memiliki hampir 275 kampung tradisi. Kami melihat upaya di Banyumas ini sebagai model yang sangat baik untuk dipelajari guna meningkatkan pengelolaan sampah di kampung-kampung kami,” ujar Dato Ramli.
Menurutnya Kunjungan ini menjadi langkah awal potensi kerja sama teknologi antara Negeri Selangor dan Kabupaten Banyumas. Dato Ramli menekankan pentingnya keterbukaan terhadap inovasi dari daerah lain demi kemajuan bersama.
Beberapa poin utama dalam rencana kolaborasi tersebut meliputi transfer teknologi mesin pengolahan sampah dari Banyumas ke Selangor, pembelajaran sistem manajemen desentralisasi pengelolaan sampah berbasis kampung dan penyusunan MoU sebagai dasar kerja sama formal
Sementara itu, Bupati Banyumas Sadewo menegaskan, capaian Banyumas tidak diraih secara instan. Ia mengingatkan bahwa daerah ini pernah mengalami krisis sampah pada 2018.
“Saat itu sampah dimana-mana. Landfill banyak ditutup karena masyarakat menolak,” jelasnya.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintah daerah menggelontorkan anggaran besar. Pada saat itu, biaya pengelolaan sampah mencapai Rp30 hingga Rp40 miliar per tahun

Terkait kerja sama Sadewo menegaskan bahwa tidak hanya terbatas pada hubungan antar pemerintah (government to government) melalui konsep Sister City, tetapi juga melibatkan business to business. Sadewo menambahkan bahwa pendekatan pengelolaan sampah di Banyumas berfokus pada penciptaan nilai ekonomi, bukan sekadar pembuangan limbah. Berbeda dengan konsep Zero Waste to Energy yang membutuhkan biaya besar, Banyumas mengembangkan konsep zero waste to money.
“Saya kepenginnya zero waste to money, jadi sampahnya hilang dan menghasilkan uang yang bisa digunakan kembali untuk biaya pengelolaan sampah tersebut,” jelasnya.
Dalam rencana kerja sama tersebut, terdapat peluang investasi sektor B2B untuk pengadaan mesin pengolah sampah di Banyumas dengan beberapa fokus utama produksi palet limbah sebagai material lantai, pengolahan biji plastik kw 2 menjadi produk seperti ember dan ekspor hasil olahan limbah ke Malaysia
Pertemuan ini merupakan kelanjutan dari komunikasi dan kunjungan sebelumnya antara kedua pihak. Delegasi Malaysia tercatat telah beberapa kali berkunjung ke Banyumas, sementara Pemerintah Kabupaten Banyumas juga pernah diundang ke Kuala Lumpur untuk memaparkan sistem pengelolaan sampah yang telah diterapkan.
(Imam07-PBMI)








