
Bambang Hermansyah, S.Sos, M.I.P Dosen, Peneliti dan Sekretaris LPPM UIC Urrang Sambas. FOTO: Aep05/portalbmi.id
SAMBAS – PORTALBMI.ID – Berita terbaru memberikan informasi bahwa perang antara Iran Vs Amerika Serikat (AS) dan bestinya (penulis tidak ingin menuliskan namanya) dinyatakan berakhir, ditengah perang tersebut sikap negara negara Eropa (Uni Eropa) yang mbalelo perintah Washington menarik untuk kita dalami.
Sebagaimana kita ketahui hampir semua negara Uni Eropa adalah mitra strategis AS baik dalam bidang ekonomi, sosial, budaya, politik termasuk pertahanan dan keamanan yang tergabung dalam Organisasi Pertahanan Atlantik Utara atau North Atlantic Treaty Organization (NATO). Sikap dan respon negara Uni Eropa dalam perang Iran Vs AS dan bestienya, terutama negara besar Eropa seperti Jerman, Inggris, Prancis dan Spanyol mulai menunjukkan retakan pada narasi tunggal akan kuasa AS.
Diantara negara Uni Eropa dan NATO yang paling lantang dan terlihat menolak perintah AS dan secara terang terangan memberikan dukungan Palestina Merdeka dan cenderung membela Iran adalah Spanyol. Langkah Madrid (Ibu Kota Spanyol) yang cenderung berseberangan dengan garis keras Washington bukan sekadar urusan domestik, melainkan sebuah sinyal kuat: pusat gravitasi dunia sedang bergeser meninggalkan Samudra Atlantik menuju Asia.
Retaknya Konsensus Transatlantik
Selama beberapa dekade, kebijakan luar negeri negara-negara Eropa hampir selalu seirama dengan Amerika Serikat di bawah payung kemitraan Transatlantik. Namun, dalam isu Iran dan Palestina, Spanyol menunjukkan otonomi strategis yang sangat mencolok. Spanyol menyadari bahwa pendekatan konfrontatif yang dipaksakan oleh hegemoni Atlantik sering kali berujung pada destabilisasi kawasan yang justru merugikan Eropa sendiri, mulai dari krisis pengungsi, keamanan dalam negeri hingga gangguan pasokan energi.
Sikap Madrid mencerminkan realitas baru bahwa kepentingan Eropa tidak lagi selalu identik dengan kepentingan Amerika apalagi kepentingan domestik. Spanyol mulai melihat bahwa stabilitas di kawasan Timur Tengah yang merupakan pintu gerbang menuju Asia adalah kunci bagi kelangsungan ekonomi masa depan dunia, bukan lagi ditentukan AS.
Terlebih dalam perang dengan Iran, AS sangat “dipermalukan” dengan banyaknya alat pertahanan AS yang konon dikabarkan paling canggih di dunia mampu dirontokan oleh Iran dengan alat pertahanan yang jauh lebih canggih dan jauh lebih murah, padahal Iran puluhan tahun di embargo AS dan sekutunya.
Iran juga memiliki strategi, taktik dan teknologi perang yang mampu mematahkan kebesaran, kehebatan dan kesombongan AS. Iran juga memiliki struktur politik dan pemerintahan yang tidak mudah digoyang oleh tekanan dari dalam dan luar negeri, termasuk jika pucuk pimpinan negara “menghilang” dan paling penting adalah mental, semangat dan loyalitas rakyat Iran terhadap pemerintah dan negaranya sangat luar biasa tinggi.
Sumber Daya Energi yang berlimpah dan posisi geografis yang strategis (Selat Hormuz) membuat negara Uni Eropa berpikir ulang untuk menuruti Presiden Paman Sam, Donald Trump. Banyak keputusan keputusan konyol dan tidak konsiten yang dibuat oleh Donald Trump membuat negara Uni Eropa muak dan kehilangan kepercayaan akan AS.
Selain itu fakta kerusakan dan penderitaan kemanusian yang dialami oleh rakyat dan negara Palestina hingga hari ini membuka mata hati dan batin banyak negara Uni Eropa bahwa AS dan bestienya mengacak – ngacak kemanusian, ketentraman, ketenangan dan perdamainan dunia.
Asia: Jembatan dan Energi Dunia, Penentu Arus Utama
Secara geografis dan ekonomi, Asia adalah jembatan dan titik simpul dari pertemuan banyak negara di dunia baik melalui jalur darat, laut dan udara dan sejarah masa lalu juga membuktikan hal ini. Asia juga memiliki sumber daya yang berlimpah terutama energi mulai dari minyak, nikel, batu bara, tanah jarang, emas dan lain sebagainya.
Negara negara Uni Eropa sangat membutuhkan dan bergantung dari sumber energi Asia tersebut, sehingga jika Asia kacau atau dimusuhi oleh mereka maka akan berpengaruh terhadap perekonomian, kehidupan dan kondisi domestik negara negara benua Eropa.
Berbagai proyek raksasa Asia, mulai dari Belt and Road Initiative (BRI) milik China hingga koridor transportasi internasional Utara-Selatan adalah bukti eksistensi ekonomi Asia di mata dunia, terutama Eropa. Asia bukan masa lalu yang hanya menjadi pasar dari AS dan Uni Eropa, namun kini Asia adalah pusat inovasi teknologi, pabrik yang mampu memproduksi dan menyerap produknya sendiri dengan harga yang jauh lebih murah namun berkualitas dibanding negara negara Barat.
Sehingga dalam banyak hal, Asia tidak lagi banyak bergantung dari Barat, justru Barat yang kini banyak bergantung dari Asia. Asia menjadi pertumbuhan ekonomi yang paling menjanjikan di dunia dengan jumlah penduduk 4,8 milyar atau sekitar 60 persen penduduk global ada di Asia, membuat Asia menjadi pasar dan tempat produksi ekonomi paling produktif di muka bumi.
Keberhasilan China memainkan peran diplomatiknya tanpa harus menyebabkan konflik baru dibanyak negara terutama di Timur Tengah termasuk Iran menunjukkan bahwa aktor Asia mampu “menyembuhkan luka” tanpa menambahkan “air garam.” Pakistan yang menjadi tuan rumah dan inisiator pertemuan untuk mendamaikan AS dan Iran menjadi bukti bahwa negara Asia mampu dipercaya dan menjadi juru damai dunia, bukan Eropa.
Indonesia dengan politik bebas aktif juga memainkan peran yang signifikan menjadi mitra strategis diplomatik dibanyak negara, merengkuh perdamaian untuk Eropa, Asia, Amerika, Australia dan juga Afrika. Penyelesaian konflik global kini mulai beralih ke tangan aktor-aktor Asia, bukan lagi eksklusif milik Gedung Putih.
Pengaruh dan kemajuan negara negara Asia yang diwakili oleh China, India, Pakistan, Iran, Arab Suadi, Jepang, Korea Selatan dan Indonesia membuat Eropa mulai berpikir ulang, berpaling atau paling tidak mulai “bandel” akan instruksi Patung Liberty.
Ketika Spanyol memilih untuk tetap membuka jalur dialog dengan Teheran, menolak perintah Trump, saling berbantah dengan Washington sesungguhnya sikap tersebut mengkonfirmasi bahwa Madrid secara tidak langsung mengakui sebuah fakta tak terbantahkan: ekonomi masa depan dunia bergantung pada konektivitas dengan Asia bukan AS dan sekutunya.
Iran bukan lagi negara terisolasi dalam kacamata Timur, Iran telah menjadi mitra energi dan logistik bagi raksasa-raksasa baru seperti China dan India. Dunia tidak lagi bergerak dalam satu komando (unipolar), melainkan banyak kutub di mana suara Asia memiliki bobot yang setara, bahkan lebih tinggi, dalam menentukan stabilitas global.
Masa Depan Dunia di Asia
Sikap Spanyol terhadap isu Iran adalah mikrokosmos dari transisi besar yang sedang terjadi. Ketika sebuah negara yang secara historis terikat kuat pada aliansi Barat mulai berani “bermain di dua kaki” atau mencari jalan tengah yang lebih menguntungkan secara regional, itu adalah bukti bahwa daya tarik hegemoni Atlantik mulai memudar.
Dunia sedang bergerak menuju timur. Pembangunan, teknologi, dan stabilitas geopolitik masa depan tidak lagi ditentukan di Washington atau London, melainkan di sepanjang jalur sutra modern yang membentang dari Shanghai hingga Teheran.
Spanyol telah membaca arah angin ini; kini pertanyaannya adalah, seberapa cepat seluruh Eropa akan menyadari bahwa matahari kini terbit dari Asia? Pertanyaan berikutnya seberapa siap, kuat dan hebat Indonesia ikut memainkan peranya di Asia dan dunia hari ini dan di masa depan?
(Aep05-PBMI)









