
Direktur PT Bali Pro Solusi, Ni Nyoman Ayu Putri Ariani, S.E., M.M., FOTO: Ayu05/PORTALBMI.ID
BALI – PORTALBMI.ID – Ni Nyoman Ayu Putri Ariani: “Kalau setiap rupiah melemah kita selalu panik, berarti fondasi ekonomi kita memang belum cukup kuat.”
Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan dan berada di kisaran Rp17.700 per dolar AS. Kondisi ini menjadi perhatian besar bagi pelaku usaha Indonesia karena berdampak langsung terhadap biaya operasional, impor, pembayaran supplier luar negeri, hingga stabilitas dunia bisnis secara keseluruhan. (reuters.com)
Dalam beberapa minggu terakhir, banyak pelaku usaha mulai mengeluhkan meningkatnya biaya subscription software luar negeri, pembayaran berbasis USD, kenaikan harga bahan baku impor, hingga biaya operasional bisnis yang semakin tinggi akibat melemahnya rupiah.
Meski faktor global seperti penguatan dolar AS, suku bunga Amerika Serikat, dan ketidakpastian ekonomi dunia menjadi penyebab utama, banyak pihak menilai bahwa kondisi ini juga menunjukkan masih lemahnya fondasi ekonomi domestik Indonesia.
Menurut Ni Nyoman Ayu Putri Ariani, SE., MM selaku Director dari PT. Bali Pro Solusi, Indonesia tidak bisa terus menerus bergantung pada alasan global setiap kali rupiah mengalami pelemahan.
“Kalau setiap rupiah melemah kita selalu panik, berarti fondasi ekonomi kita memang belum cukup kuat. Negara lain juga menghadapi tekanan global, tetapi tidak semua mengalami dampak sebesar ini,” ujar Ni Nyoman Ayu Putri Ariani.
Beliau menilai bahwa Indonesia masih terlalu bergantung pada impor, investasi asing, dan konsumsi jangka pendek tanpa memperkuat produktivitas nasional secara serius. Banyak pelaku usaha lokal juga masih menghadapi birokrasi yang lambat, regulasi yang berubah-ubah, serta sistem administrasi yang belum efisien.
“Indonesia tidak kekurangan potensi, tetapi masih kekurangan efisiensi. Dunia bisnis bergerak sangat cepat, sementara banyak proses usaha di Indonesia masih berjalan terlalu lambat,” tambahnya.

Menurutnya, yang paling terdampak dari kondisi ini bukan hanya perusahaan besar, tetapi juga UMKM dan bisnis berkembang yang harus bertahan di tengah kenaikan biaya operasional.
Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang legal perusahaan, tax services, software bisnis, dan immigration support, PT. Bali Pro Solusi melihat bahwa banyak pelaku usaha kini mulai dipaksa untuk beradaptasi lebih cepat melalui efisiensi operasional, digitalisasi bisnis, dan penguatan struktur perusahaan.
Di sisi lain, pelemahan rupiah juga membuka peluang bagi investor asing untuk masuk ke Indonesia karena biaya investasi menjadi relatif lebih kompetitif. Bali sendiri masih menjadi salah satu destinasi investasi dan bisnis paling menarik di Asia Tenggara, khususnya di sektor pariwisata, hospitality, teknologi, dan creative business.
Namun menurut Ni Nyoman Ayu Putri Ariani, peluang tersebut harus dibarengi dengan reformasi nyata dalam sistem bisnis dan regulasi Indonesia.
“Kita membutuhkan solusi jangka panjang, bukan hanya respons sementara setiap kali dolar naik. Indonesia memiliki peluang besar menjadi pusat bisnis Asia Tenggara, tetapi pertumbuhan ekonomi tidak bisa hanya bergantung pada konsumsi dan investasi asing. Sudah waktunya memperkuat bisnis lokal, mempercepat digitalisasi, dan menciptakan sistem usaha yang benar-benar kompetitif secara global.”
(Ayu05-PBMI)








