
Presisi teknokratis mendiang BJ Habibie dan narasi optimisme nasional ala Presiden Prabowo Subianto. FOTO: Ayu05/PORTALBMI.ID
JAKARTA – PORTALBMI.ID – Lonjakan nilai tukar Rupiah yang kini menembus level Rp17.600 per Dolar AS memicu memori kolektif bangsa akan krisis moneter 1998. Di tengah situasi ini, publik secara tajam membandingkan dua gaya kepemimpinan yang berbeda dalam merespons tekanan global: presisi teknokratis mendiang BJ Habibie dan narasi optimisme nasional ala Presiden Prabowo Subianto.
BJ Habibie: Strategi ‘Pesawat’ untuk Menjinakkan Dolar
Catatan sejarah menempatkan BJ Habibie sebagai presiden yang paling fenomenal dalam mengendalikan kurs. Menjabat di tengah puing-puing krisis 1998 saat Rupiah terpuruk hingga Rp16.800, Habibie menggunakan pendekatan seorang insinyur yang presisi.
Ia memprioritaskan independensi Bank Indonesia melalui UU No. 23 Tahun 1999 dan berani mengambil keputusan pahit demi kesehatan fiskal negara. “Kondisi ekonomi itu seperti pesawat yang sedang jatuh bebas (stall). Kita butuh keseimbangan untuk menghentikan gravitasinya,” ungkap Habibie kala itu. Hasilnya, dalam waktu singkat, ia berhasil menarik Rupiah kembali ke level Rp6.500 per Dolar AS—sebuah rekor stabilitas yang belum terpecahkan hingga hari ini.
Prabowo Subianto: Narasi Ketahanan di Tengah Badai
Berbeda dengan pendekatan teknis Habibie, Presiden Prabowo Subianto menanggapi kenaikan Dolar saat ini dengan ketenangan politik dan pesan nasionalisme yang kuat. Prabowo menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap kokoh selama ketahanan pangan dan energi terjaga di level domestik.
Pernyataan ikonik bahwa “rakyat di desa tidak bertransaksi menggunakan Dolar” menjadi landasan komunikasinya untuk mencegah kepanikan massal. Presiden memilih untuk membakar semangat optimisme, meyakinkan bahwa Indonesia jauh lebih siap menghadapi gejolak global dibandingkan negara-negara tetangga.
Analisis Pakar: Dampak domino pada Sektor Riil
Mencermati dua fenomena kepemimpinan ini, Direktur PT. Bali Pro Solusi sekaligus pakar bisnis, Ni Nyoman Ayu Putri Ariani, S.E., M.M., memberikan catatan kritis. Menurutnya, meskipun narasi optimisme penting untuk menjaga psikologi pasar, realitas di lapangan menunjukkan adanya tantangan serius bagi pelaku usaha.
“Kita harus waspada terhadap dampak domino yang merembes ke sektor riil. Meskipun masyarakat kecil tidak memegang Dolar secara langsung, struktur biaya produksi kita—mulai dari logistik, komponen impor, hingga bahan baku industri tertentu—tetap akan terkoreksi mengikuti kurs,” papar Ayu Putri.
Ia menambahkan bahwa tantangan terbesar saat ini adalah menjaga agar margin usaha, khususnya bagi UMKM, tidak tergerus habis oleh kenaikan biaya operasional di tengah daya beli masyarakat yang sedang diuji.
Kesimpulan: Menanti Langkah Nyata
Publik kini menanti apakah gaya “optimisme” Prabowo akan diikuti dengan langkah struktural sekuat era Habibie. Pengamat menilai bahwa stabilitas moneter tidak bisa hanya dijaga dengan kata-kata, melainkan butuh penguatan arus modal masuk dan langkah nyata untuk menekan ketergantungan pada barang impor.
Akankah sejarah mencatat Prabowo mampu membawa stabilitas yang sama nyatanya dengan warisan BJ Habibie, ataukah optimisme ini harus berhadapan dengan realitas pasar global yang kian dinamis?
Redaksi Portal: Artikel ini disusun sebagai bahan refleksi atas kebijakan ekonomi nasional dan dampaknya terhadap iklim bisnis di Indonesia.
(Ayu05-PBMI)








