
Aufar Sambas Pemerhati Lingkungan dan Pendidikan Kalimantan Barat. FOTO: Aef05/PORTALBMI.ID
SAMBAS – PORTALBMI.ID – Ketika hutan terakhir ditebang, sungai terakhir tercemar, dan satwa terakhir kehilangan habitatnya, barulah disadari bahwa keuntungan ekonomi tidak dapat menggantikan keberlanjutan kehidupan. Kalimantan Barat saat ini berada pada sebuah persimpangan penting dalam perjalanan pembangunannya.
Di satu sisi, perkebunan kelapa sawit telah menjadi salah satu pilar utama perekonomian daerah. Luas arealnya telah melampaui 2,1 juta hektare atau sekitar seperempat wilayah provinsi. Ribuan tenaga kerja bergantung pada sektor ini sebagai sumber penghidupan. Devisa meningkat, investasi berkembang, dan aktivitas ekonomi terus bergerak. Namun di sisi lain, terdapat konsekuensi yang perlu menjadi perhatian bersama.
Dalam dua dekade terakhir, jutaan hektare tutupan hutan telah mengalami kehilangan. Sungai-sungai yang dahulu menjadi penopang kehidupan masyarakat menghadapi tekanan akibat pencemaran. Banjir yang sebelumnya dianggap sebagai peristiwa berkala kini semakin sering terjadi pada musim hujan. Di tengah upaya mendorong pembangunan perkebunan yang berkelanjutan, berbagai persoalan mendasar masih terus ditemukan. Titik api kebakaran masih teridentifikasi di sejumlah area konsesi. Konflik agraria masih terjadi di berbagai wilayah. Satwa liar terus kehilangan habitat alaminya.
Bahkan perusahaan yang telah memperoleh sertifikasi keberlanjutan tidak selalu terlepas dari tantangan dalam aspek tata kelola. Kondisi ini menunjukkan bahwa sertifikasi bukanlah tujuan akhir. Yang lebih penting adalah konsistensi dan integritas dalam penerapan prinsip-prinsip keberlanjutan.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat patut memperoleh apresiasi atas diterbitkannya Peraturan Gubernur Nomor 3 Tahun 2022 tentang Rencana Aksi Daerah Kelapa Sawit Berkelanjutan. Kebijakan ini mencerminkan komitmen pemerintah dalam mewujudkan keseimbangan antara kepentingan ekonomi dan pelestarian lingkungan. Namun demikian, regulasi yang baik tidak akan memberikan hasil yang optimal tanpa pengawasan yang efektif.
Dokumen perencanaan yang komprehensif tidak akan mampu mencegah kebakaran hutan apabila implementasinya tidak berjalan dengan baik. Peta kawasan konservasi tidak akan memberikan perlindungan yang memadai apabila pelanggaran terus terjadi. Sertifikasi juga akan kehilangan maknanya apabila praktik di lapangan tidak sejalan dengan laporan yang disampaikan. Di sinilah letak tantangan utama Kalimantan Barat. Bukan pada ketiadaan aturan. Melainkan pada konsistensi dalam pelaksanaannya. Bukan pada kurangnya komitmen yang terdokumentasi. Melainkan pada keberanian untuk menegakkan hukum secara adil dan tanpa pengecualian.
Kelapa sawit bukanlah pihak yang harus diposisikan sebagai musuh, komoditas ini telah menjadi bagian penting dari pembangunan daerah. Namun demikian, keberadaannya tidak boleh dijadikan alasan untuk mengorbankan keberlanjutan lingkungan hidup. Pada akhirnya, keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari luas areal perkebunan yang berhasil dikembangkan. Tetapi juga dari luas kawasan hutan yang mampu dipertahankan. Tidak hanya dari jumlah produksi yang
dihasilkan. Tetapi juga dari kualitas lingkungan yang masih dapat diwariskan kepada generasi mendatang. Kalimantan Barat tidak perlu memilih antara pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan. Kalimantan Barat memerlukan keduanya secara seimbang.
Sebab kemakmuran yang tidak disertai kelestarian hanya akan menghasilkan manfaat jangka pendek, sementara kerusakan lingkungan akan menjadi beban yang harus ditanggung oleh generasi berikutnya. Saat ini masih tersedia kesempatan untuk memperbaiki arah pembangunan. Namun waktu terus berjalan. Dan alam tidak dapat berkompromi dengan kelalaian manusia.
Tulisan ini sangat dan tetap berimbang karena mengakui kontribusi ekonomi sawit sekaligus menuntut pengawasan yang lebih tegas. Agar menyatu dengan tulisan utama, bagian Sambas sebaiknya tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi contoh nyata bahwa ekspansi sawit di Kalimantan Barat kini telah memasuki fase baru: bukan hanya didorong korporasi besar, tetapi juga menjadi pilihan ekonomi masyarakat kecil. Menariknya, ekspansi sawit di Kalimantan Barat hari ini tidak lagi hanya terjadi melalui perusahaan-perusahaan besar.
Fenomena baru mulai terlihat hingga ke tingkat desa dan lahan-lahan milik masyarakat. Di kawasan pesisir Kabupaten Sambas, misalnya, lahan-lahan kecil milik petani perlahan mulai berubah menjadi kebun kelapa sawit. Kebun campuran, lahan pertanian, bahkan sebagian lahan yang sebelumnya dibiarkan sebagai cadangan keluarga, kini mulai ditanami sawit.
Alasannya sederhana, sawit dianggap lebih mudah dikelola, memiliki pasar yang jelas, dan menawarkan harapan peningkatan kesejahteraan yang lebih cepat dibandingkan beberapa komoditas pertanian lainnya. Di tengah biaya hidup yang terus meningkat dan ketidakpastian harga hasil pertanian, banyak petani melihat sawit sebagai pilihan rasional untuk memperbaiki ekonomi keluarga. Fenomena ini menunjukkan bahwa sawit telah menjadi bagian dari aspirasi masyarakat pedesaan untuk hidup lebih sejahtera. Karena itu, membahas sawit tidak cukup hanya melihatnya dari perspektif lingkungan atau korporasi semata.
Kita juga harus memahami bahwa di balik setiap hektare kebun sawit rakyat terdapat harapan orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya, memperbaiki rumahnya, atau meningkatkan kualitas hidup keluarganya. Namun justru karena sawit semakin diminati masyarakat, edukasi mengenai pengelolaan lahan berkelanjutan menjadi semakin penting.
Sebab tantangan Kalimantan Barat ke depan bukan lagi sekadar bagaimana meningkatkan produksi sawit, melainkan bagaimana memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi tersebut tidak mengorbankan fungsi ekologis yang menjadi penopang kehidupan masyarakat itu sendiri. Jika seluruh bentang alam diarahkan hanya untuk satu komoditas, maka risiko ketergantungan ekonomi, penurunan keanekaragaman hayati, gangguan tata air, hingga kerentanan terhadap fluktuasi harga komoditas akan semakin besar.
Di sinilah peran pemerintah, perguruan tinggi, perusahaan, dan organisasi masyarakat menjadi sangat penting. Edukasi kepada petani tidak boleh berhenti pada cara meningkatkan hasil panen, tetapi juga harus mencakup konservasi sumber air, perlindungan kawasan bernilai ekologis tinggi, diversifikasi usaha tani, dan pemahaman mengenai daya dukung lingkungan. Karena sesungguhnya pertanyaan besar yang sedang dihadapi Kalimantan Barat bukanlah apakah sawit harus ada atau tidak.
Sawit sudah menjadi bagian dari realitas ekonomi daerah.
Pertanyaannya adalah: mampukah Kalimantan Barat menjadikan sawit sebagai sumber kemakmuran tanpa kehilangan hutan, sungai, dan bentang alam yang menjadi warisan bagi generasi mendatang? Jawaban atas pertanyaan itulah yang akan menentukan apakah pembangunan perkebunan sawit benar-benar menjadi berkah, atau justru meninggalkan persoalan yang lebih besar bagi anak cucu kita di masa depan.
Penulis: Aufar Sambas
Pemerhati Lingkungan dan Pendidikan Kalimantan Barat
(Aef05-PBMI)








