
FOTO: screenshot unggahan video Instagram Silvia Tjan
JAKARTA – PORTALBMI.ID – Influencer Silvia Tjan turut menanggapi video yang beredar terkait kericuhan saat diskusi “Kopdar Bareng Mas Dar” yang digelar di lingkungan Kampus Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, bersama Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, dan Budiman Sudjatmiko.
Video tersebut diunggah oleh akun Instagram Total Politik dan memperlihatkan sejumlah mahasiswa berupaya menghentikan jalannya diskusi yang tengah berlangsung secara ricuh.
Menanggapi hal itu, Silvia Tjan mengaku tidak menemukan bentuk kritik yang substantif dalam aksi tersebut.
Menurutnya, yang terlihat justru tindakan saling menghina, menghujat, dan mengusir pihak yang hadir dalam forum diskusi.
“Dari tadi saya melihat videonya, saya sama sekali tidak menemukan kritiknya. Yang saya temukan justru mengatai orang pengkhianat, menghujat, menghina, dan mengusir. Saya juga tidak paham esensi dari pola tingkah laku seperti itu,” kata Silvia Tjan, dikutip dalam unggahan video di akun Instagram pribadinya, Jumat (19/6/2026).
Ia menilai forum tersebut sejatinya merupakan ruang yang selama ini diharapkan mahasiswa, yakni kesempatan untuk berdialog langsung dengan perwakilan pemerintah.
Menurutnya, kehadiran tiga pejabat pemerintah dalam satu forum seharusnya dimanfaatkan untuk menyampaikan aspirasi, bertukar opini, dan memperjelas berbagai persoalan yang menjadi keresahan masyarakat.
“Selama ini yang mengherankan bagi saya, mahasiswa selalu meminta ruang untuk didengarkan. Nah, ketika ruang itu diberikan dan ada tiga wakil pemerintah yang hadir, seharusnya bisa dimanfaatkan untuk saling berdialog, bertukar opini, bahkan bertukar informasi sehingga keresahan masyarakat yang diwakili mahasiswa bisa didengar pemerintah dan mungkin juga diperjelas oleh pemerintah,” ujarnya.

Silvia juga menyinggung sikap Budiman Sudjatmiko dalam forum tersebut. Ia mengingatkan agar pejabat publik tidak memperkeruh suasana dengan gestur atau tindakan yang dapat memancing emosi peserta diskusi.
“Ini juga kritik untuk Pak Budiman Sudjatmiko, tidak usah memanas-manasi masyarakat, apalagi mahasiswa. Gestur-gestur seperti itu tidak perlu. Lebih baik seperti Pak Sudaryono dan Pak Nusron, cukup tersenyum saja,” katanya.
Ia menambahkan bahwa pejabat publik harus menjaga sikap dan tidak merespons emosi masyarakat dengan tindakan yang berpotensi memperburuk keadaan.
“Pejabat publik juga tidak boleh merespons emosi masyarakat dengan cara yang sama. Sementara masyarakat, ketika diberikan ruang yang selama ini selalu diminta, seharusnya memanfaatkan kesempatan itu sebaik mungkin,” ujarnya.
Di akhir pernyataannya, Silvia mengaku heran melihat luapan emosi yang dinilainya berlebihan dalam forum tersebut.
“Saya sebenarnya agak heran melihat emosi yang terlalu meledak-ledak. Padahal, emosi seperti itu juga tidak akan menyelesaikan apa pun,” kata Silvia.
(Budi05-PBMI)








