
Foto udara menunjukkan para demonstran berkumpul di luar Parlemen Kathmandu, Nepal, Senin (8/9/2025). Foto: Prabin Ranabhat/AFP
JAKARTA – PORTALBMI.ID – Upaya memblokir media sosial di Nepal berubah jadi demonstrasi yang berakhir ricuh. Perdana Menteri KP Sharma Oli pun akhirnya mengundurkan diri.
Meski pemerintah berusaha untuk memblokir media sosial, namun pemilihan perdana menteri baru malah dilakukan melalui media sosial Discord.
Dikutip dari The New York Times, Sabtu (13/9), karena negara yang berada dalam ketidakpastian politik dan tidak ada pengganti pemimpin yang jelas, warga Nepal ‘berkumpul’ di Discord untuk menggelar konvensi nasional versi digital.
“Parlemen Nepal saat ini ada di Discord,” kata konten kreator dari Kathmandu, Sid Ghimiri (23), menggambarkan bagaimana Discord telah menjadi pusat pengambilan kebijakan politik nasional.
Percakapan di Discord yang berlangsung dalam kombinasi obrolan suara, video, dan chat teks begitu penting sehingga dibahas di televisi nasional dan disiarkan langsung di situs-situs berita.
Pengelola kanal di Discord itu adalah anggota organisasi sipil, Hami Nepal, dan sebagian besar yang berpartisipasi dalam chat itu adalah aktivis Gen Z yang menjadi motor demonstrasi minggu ini.
Namun sejak KP Sharma Oli mengundurkan diri, tampuk kekuasaan di Nepal secara efektif berada di tangan militer. Para panglima militer pun telah bertemu dengan pengelola percakapan di Discord dan meminta mereka untuk mengajukan calon potensial sebagai PM sementara.

Di antara nama yang didiskusikan di Discord, ada Sagar Dhakal dan Kul Man Ghising. Keduanya bahkan berpartisipasi dalam pertemuan selama berjam-jam di ruang chat Discord pada Rabu (10/9).
Pada akhir hari Rabu, setelah diskusi panjang dan berbagai pemungutan suara, pilihan akhirnya mengerucut pada Sushila Karki, mantan Kepala Mahkamah Agung dan akhirnya mengusulkan nama Karki dalam pertemuan langsung dengan militer.
Pada Kamis (11/9), Karki pun bertemu dengan Presiden Ram Chandra Poudel, Panglima Angkatan Darat Jenderal Ashok Raj Sigdel.
“Tujuannya adalah untuk mensimulasikan semacam pemilu mini,” kata pengelola Discord, Shaswot Lamichhane, yang membantu membuat server di Discord dan jadi perwakilan kelompok bertemu dengan militer. Lamichhane telah lulus dari SMA beberapa bulan lalu.
Dia mengatakan, kelompok di Discord itu tidak merepresentasikan seluruh penduduk dan hanya mengusulkan pemimpin sementara yang dapat mengawasi pemilu yang kemudian diputuskan pada Maret 2026.
Hanya dalam 4 hari, jumlah anggota di Discord itu berkembang hingga lebih dari 145 ribu anggota.
“Semua terjadi begitu cepat. Kami tidak memiliki pemimpin yang pasti untuk mewakili kami. Diskusi di Discord tidak terorganisir dan terkadang terasa seperti panggilan media sosial yang acak,” kata Samdip Yadav (23) yang bergabung dalam saluran Discord itu.

Riwayat obrolan di Discord menjadi cermin bagaimana kekacauan dan pertikaian internal terjadi di sana. Semua orang dapat bergabung, sehingga mudah disusupi oleh penyusup atau orang dari luar Nepal. Moderator harus meredam seruan untuk melakukan kekerasan. Karena semua orang bisa berbicara, percakapan sering kali kacau balau.
Penyelenggara harus memilih antara mendukung diskusi bebas atau dengan segera menyepakati perwakilan untuk bertemu dengan militer. Kelompok Gen Z berkompetisi dengan kelompok di luar Discord yang juga berebut pengaruh.
“Tolong putuskan perwakilan sekarang. KITA TIDAK PUNYA WAKTU,” kata moderator pada Rabu (10/9) sebelum akhirnya memutuskan memilih Karki.
Pakar di Carnegie Endowment for International Peace, Steven Feldstein, mengatakan penggunaan Discord dalam skala seperti itu tidak pernah terjadi sebelumnya, khususnya jika digunakan untuk menentukan masa depan politik Nepal.
Namun, Fledstein mengatakan arah umum Nepal sesuai dengan pola global yang lebih luas.
“Meski media sosial sangat efektif dalam fase pertama gerakan, media sosial kurang berhasil dalam menciptakan struktur politik yang stabil dalam jangka panjang,” kata Fledstein.








