
Nenek Yohana Raih Penghargaan Pelestarian Tenun Kebat Dayak Mualang. FOTO : Aep05-PBMI
JAKARTA – PORTALBMI.ID – Kalimantan Barat (Kalbar) tidak hanya kaya dengan keindahan alamnya tetapi juga dengan budayanya, salah satunnya adalah Tenun Kebat yang merupakan kerajinan Suku Dayak.
Rabu, 17 Desember 2025, Ciputra Artpreneur Theater, Jakarta menjadi saksi tentang kekayaan budaya yang “dikebat” diikat dengan tradisi, ketekunan, dan cinta terhadap budaya lokal diganjar pengahargaan oleh Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Kategori Pelestari Tenun Kebat Dayak Mualang yang diberikan kepada Nenek Yohana berusia 100 tahun yang berasal dari pedalaman di Kalbar tepatnya di Desa Kumpang Ilong, Kec. Belitang Hulu, Kab. Sekadau.
Jarak dari Ibu Kota Provinsi Kalbar (Kota Pontianak) ke Desa Nenek Yohana sekitar 7- 8 jam lamanya melalui jalur darat. Namun disudut Kampung yang tak dikenal banyak orang inilah Nenek Yohana mendedikasikan hidupnya untuk menjaga, melestarikan dan mewariskan budaya leluhur Tenun Kebat Dayak Mualang yang sudah berusia ratusan tahun.
Sebelumnya, Nenek Yohana juga menerima Piagam Anugerah Maestro dari Gubernur Ria Norsan dalam gelaran Anugerah Kebudayaan Indonesia di Pendopo Gubernur Kalbar atas dedikasinya sebagai sosok pembina bagi generasi muda untuk meneruskan budaya Tenun Kebat di Dusun Kumpang Ilong, Kecamatan Belitang Hulu, Kab. Sekadau, Kalbar.
Tanpa penghargaan pun Nenek Yohana tetap akan melestarikan tradisi dan budayanya, namun dua penghargaan ini semakin meneguhkan bahwa dedikasi itu harus dihargai, agar tetap hidup dan bernyawa sebagai penguat identitas daerah dan bangsa.
Kerja dan karya budaya Nenek Yohana memang jauh dari sorot kamera dan dulu waktu Nenek Yohana muda tanpa lampu listrik sebagai penerang, namun Nenek Yohana sudah memulai menenun sejak usia 8 tahun dan telah menenun selama hampir 100 tahun.
Motif Tenun Kebat Nenek Yohana memiliki ciri khas, terdapat sekitar 30 motif karya beliau tercatat di Desa Kumpang Ilong, dan sebagian besar terdokumentasi oleh Misionaris Belanda di buku tentang konsep bertenun. Jangan sampai sudah mau diakui negara lain, kita nanti baru “bekallot”.Tenun kebat ini tidak hanya sebagai benda pakai, tetapi juga sebagai jembatan penghubung antara manusia, alam, leluhur atau spritual.
Selamat dan terima kasih Nenek Yohana.
(Aep05-PBMI)








