
Rony Ramadhan Putra, Ketua Yayasan Borneo Bela Negara. FPTO: Nop06/ portalbmi.id
SAMBAS – PORTALBMI.ID – Rony Ramadhan Putra, Ketua Yayasan Borneo Bela Negara, menyampaikan pandangannya terkait peristiwa penyerangan menggunakan bom molotov yang melibatkan seorang pelajar di SMPN 3 Kabupaten Kubu Raya. Ia menyebut peristiwa tersebut menjadi perhatian serius.
Rony menjelaskan bahwa berdasarkan pengalamannya, kelompok atau individu yang terpapar paham ekstrem umumnya tidak bergerak secara tunggal, melainkan memiliki keterkaitan melalui jaringan tertentu.
Ia menyebut adanya komunitas digital yang menjadi ruang interaksi bagi anak-anak tersebut.
“Secara jaringan, mereka saling berkaitan dan tergabung dalam komunitas tertentu,” ujarnya, Rabu (4/2/2026).
Hal ini sejalan dengan pernyataan Juru Bicara Densus 88 Kombes Pol Mayndra Eka Wardhana, latar belakang siswa SMP Negeri 3 Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, yang diduga terlibat dalam aksi pelemparan bom molotov di lingkungan sekolah diakibatkan karena terpapar konten kekerasan.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat anak-anak rentan mencari ruang penerimaan di dunia digital.
“Dari situ mereka mendapatkan pengakuan, sekaligus paparan konten yang mengarah pada tindakan ekstrem,” jelas Rony.
Lebih lanjut, Rony menyampaikan pentingnya penguatan komunikasi dan kolaborasi antara seluruh pihak terkait, termasuk dengan para penyintas dan pihak-pihak yang memiliki pengalaman langsung dalam pencegahan paham ekstrem.
Ia juga menilai, secara geografis, Kabupaten Kubu Raya memiliki wilayah yang sangat luas. Di laut, berbatasan dengan Kabupaten Kayong Utara, di darat, bertetangga dengan Kota Pontianak, dan Kabupaten Sanggau. Sementara di jalur udara, terdapat Bandara Supadio, sehingga memerlukan kewaspadaan bersama terhadap potensi pergerakan hilir-mudik bahan peledak.
“Pendekatan pencegahan perlu dilakukan secara menyeluruh dan merata, tidak hanya terpusat di wilayah perkotaan,” katanya.
Akademisi 34 tahun tersebut, juga menambahkan bahwa sosialisasi pencegahan paham radikal, intoleransi, dan terorisme perlu terus diperluas, sebab selama ini memang selama ini terbilang minim, khususnya di Kabupaten Kubu Raya.
Ia juga mengimbau peran aktif orang tua dan lingkungan sekitar untuk memperhatikan aktivitas anak-anak, khususnya dalam penggunaan media sosial dan ruang digital.
(Nop06-PBMI)








