
Runtuhnya “Tembok Berlin”
SAMBAS – PORTALBMI.ID – Sidang Majelis Umum PBB baru saja memberikan tamparan keras bagi Berlin. Jerman, sang raksasa ekonomi Eropa yang biasanya melenggang mulus dalam panggung diplomasi internasional, harus menelan pil pahit: gagal mengamankan kursi anggota tidak tetap Dewan Keamanan (DK) PBB setelah kalah voting dari Portugal dan Austria.
Bagi negara penyumbang dana terbesar keempat di PBB dan kontributor utama misi perdamaian global, kekalahan ini bukan sekadar masalah “kalah suara”. Ini adalah alarm keras yang menandakan kegagalan fatal Jerman dalam membaca geopolitik terbaru yang selanjutnya menjadi penanda pudarnya pengaruh diplomasi Berlin di mata dunia. Ini ibarat tembok berlin yang runtuh untuk kedua kalinya, bukan menyatukan tapi menjatuhkan Jerman.
Kalah Start Kampanye dan Overconfidence
Salah satu faktor paling kasatmata dari kegagalan ini adalah masalah teknis-strategis: Jerman kalah start. Mengapa? Karena Jerman terlalu percaya diri dengan kemampuan dan kekuatan ekonomi, politik dan diplomasinya, sementara masih melakukan pendekatan yang sama ditengah geopolitik yang berubah (yang sebenarnya perubahan tersebut mereka ciptakan sendiri). Ketika negara kompetitor seperti Portugal sudah bergerilya menggalang dukungan sejak bertahun-tahun lalu, negara Volkswagen ini masih berdiam diri, sibuk masalah domestik, menghabiskan waktu mengurus Tel Aviv dan Amerika Serikat (AS).
Sikap overconfidence dengan status besarnya bertemu dengan keterlambatan kampanye dan lobby – lobby membuat ruang gerak para diplomat Jerman menyempit, sementara kursi-kursi dukungan sudah telanjur dikunci oleh komitmen negara lain. Namun, menyalahkan keterlambatan kampanye semata adalah penyederhanaan masalah. Akar masalah yang sebenarnya jauh lebih dalam, yakni arah kebijakan luar negeri Jerman yang kian terasing dari mayoritas panggung global.
Gagap Geopolitik dan Sentimen Global South

Alumni Magister Ilmu Politik Universitas Indonesia
Dosen, Peneliti dan Sekretaris LPPM UIC
Urrang Sambas
Kegagalan Jerman merefleksikan adanya jurang pemisah (gap) yang semakin lebar antara prioritas Berlin dengan aspirasi negara-negara berkembang (Global South). Ada dua poros utama yang membuat Jerman kehilangan daya tariknya: Pertama, Sikap Ambigu di Timur Tengah: Jerman secara historis memikul tanggung jawab moral khusus terhadap Israel pasca-Holocaust.
Namun, dalam konteks konflik Timur Tengah akhir-akhir ini, pembelaan tanpa syarat Berlin terhadap Tel Aviv di saat korban sipil di Palestina terus berjatuhan membuat banyak negara di Asia, Afrika, dan Amerika Latin merasa Jerman menerapkan standar ganda dalam penegakan HAM. Termasuk soal Iran, Jerman terlalu terkesan berpihak ke AS disaat negara pesaingya di PBB Austria dan Portugis bersikap netral. Spanyol dan Prancis menolak keras apa yang dilakukan Tel Aviv dan AS terhadap Iran, sementara negara Eropa lainnya menahan diri.
Kedua, Krisis Ukraina: Fokus Jerman yang dinilai terlalu Euro-centric dalam konflik Ukraina membuat negara-negara non-Barat merasa Berlin mengabaikan krisis kemanusiaan dan ekonomi yang terjadi di belahan dunia lain akibat perang tersebut. Meski jujur diakui sikap negara Eropa yang menjaga jarak terhadap masalah Ukraina banyak dipengaruhi oleh Rusia yang menjadi sumber energi banyak negara Eropa.
Ketika Jerman tidak lagi dilihat sebagai “perantara yang jujur” (honest broker) yang bisa menjembatani kepentingan global, negara-negara dunia ketiga lebih memilih memberikan suara mereka kepada Portugal atau Austria yang dianggap memiliki posisi lebih netral dan inklusif.
Pengaruh Rusia dan China?
Jerman gagal membaca geopolitik dunia terutama terhadap negara negara berkembang di Asia, Timur Tengah dan Afrika atau Global South. Dunia ini bukan lagi milik AS dan Eropa, bukan uni polar. Kemunculan China dan Rusia di panggung global dengan kemajuan ekonomi, teknologi dan pertahanannya membuat dunia menjadi multi polar.
Kelompok negara global south tidak lagi bergantung tunggal dengan AS dan Eropa, China dan Rusia telah berhasil masuk lebih dalam dan dalam ke negara negara berkembang. China dan Rusia juga memainkan politik manis muka dan ringan tangan dalam diplomatiknya terutama ke negara konflik dan perlu bantuan ekonomi seperti Iran, Palestina, Taiwan, Ukraina, Kenya, Somalia dan lain sebagainya.
Politik manis muka dan ringan tangan ini gagal dihitung Jerman yang bisa dikapital China dan Rusia di PBB menjadi insentif elektoral jika terjadi pemungutan suara. Dan kini terbukti, balas budi atas kebaikan China dan Rusia ke negara global south membuat Jerman Sang Raksasa Eropa harus tumbang di panggung global yang sangat penting, Anggota Tidak Tetap Dewan Keamanan PBB.
Moskow, melalui juru bicara Kementerian Luar Negerinya, menyentil bahwa kegagalan ini mencerminkan ketidakmampuan diplomasi Jerman dalam membangun konsensus internasional. Gaya kepemimpinan Tim Panser di Majelis Umum PBB dalam setahun terakhir dinilai terlalu memaksakan agenda kelompok Barat ketimbang merangkul keberagaman suara anggota PBB. Menteri Luar Negeri Jerman bahkan harus mengakui bahwa posisi mereka dalam konflik internasional baru-baru ini secara langsung menguras modal politik (political capital) yang selama ini mereka pupuk.
Nasehat untuk Berlin
Kekalahan ini harus menjadi momen refleksi total bagi pemerintahan Jerman. Berlin tidak bisa lagi bernostalgia dengan narasi bahwa “kami adalah donor terbesar, maka kami pasti didengar.” Di era multipolar ini, diplomasi membutuhkan fleksibilitas, empati terhadap isu-isu Global South, dan kecepatan bergerak.
Kegagalan Jerman meraih kursi DK PBB adalah bukti nyata bahwa peta kekuatan diplomasi global telah bergeser. Jika Berlin tidak segera membenahi arah kebijakan luar negerinya yang kaku dan bias, mereka harus bersiap melihat pengaruhnya perlahan-lahan terpinggirkan dari ruang-ruang pengambilan keputusan krusial dunia.
Dapat dipastikan hal ini akan menjalar ke persoalan ekonomi, teknologi, politik dan pertahanan Jerman yang selama ini mereka banggakan.
(Aef05-PBMI)









