
Penandatanganan kerja sama proyek panas bumi dengan total kapasitas 45 MW antara PLN Indonesia Power bersama PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE). Foto: PLN IP
JAKARTA – PORTALBMI.ID – PLN Indonesia Power bersama PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) menggarap dua proyek panas bumi dengan total kapasitas 45 megawatt (MW). Kerja sama ini menjadi langkah konkret dalam mengoptimalkan potensi panas bumi Indonesia menjadi listrik bersih sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan Letter of Intent (LoI) untuk pembelian tenaga listrik dari proyek Ulubelu Binary (Bottoming) Unit berkapasitas 30 MW di Lampung dan Lahendong Binary (Bottoming) Unit berkapasitas 15 MW di Sulawesi Utara.
Kedua proyek tersebut memanfaatkan teknologi bottoming untuk mengolah panas dari fluida panas bumi (brine) yang belum termanfaatkan menjadi tambahan energi listrik bersih dari pembangkit geothermal eksisting. Langkah ini menjadi bentuk optimalisasi potensi sumber daya panas bumi pada wilayah kerja panas bumi (WKP) eksisting sekaligus meningkatkan kapasitas pembangkitan tanpa sepenuhnya bergantung pada pengembangan lapangan WKP baru.
Direktur Utama PLN Indonesia Power Bernadus Sudarmanta menyampaikan bahwa Indonesia memiliki potensi panas bumi yang sangat besar. PLN Indonesia Power terus mendorong optimalisasi potensi tersebut menjadi energi bersih yang andal.
“Indonesia memiliki potensi panas bumi yang sangat besar. Melalui kolaborasi PLN Indonesia Power dan PGE pada Lahendong dan Ulubelu, kami ingin mengoptimalkan potensi tersebut menjadi energi bersih yang andal sekaligus memperkuat kemandirian energi nasional,” ujar Bernadus dalam keterangannya, Minggu (23/9).
Menurut Bernadus, percepatan transisi energi membutuhkan kolaborasi lintas pemangku kepentingan. Sinergi antara PLN, PLN Indonesia Power, PGE, pemerintah, investor, dan seluruh pelaku industri menjadi kunci untuk mempercepat hadirnya pembangkit bersih yang andal dan berkelanjutan.
Penandatanganan LoI dilakukan oleh Direktur Utama PLN Indonesia Power Bernadus Sudarmanta dan Direktur Utama PGE Ahmad Yani dalam rangkaian The 12th Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC).
Acara tersebut turut dihadiri Wakil Ketua MPR Eddy Soeparno, Kepala Staf Kepresidenan Dudung Abdurachman, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia, serta Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Eniya Listiani Dewi.

Pengembangan proyek Ulubelu dan Lahendong menjadi bagian dari upaya mempercepat pemanfaatan energi panas bumi yang memiliki potensi besar di Indonesia. Dalam pipeline perencanaan kerja sama strategis antara PLN Indonesia Power, PLN, dan PGE, total potensi kapasitas pengembangan dapat mencapai 230 MW.
Potensi panas bumi tidak boleh berhenti sebagai angka, tetapi harus berubah menjadi energi yang benar-benar dirasakan masyarakat. Hal ini sejalan dengan pernyataan Bahlil pada IIGCE 2026 mengenai besarnya potensi geothermal Indonesia, percepatan pengembangan, serta pentingnya kolaborasi pemerintah dan pelaku usaha.
“Indonesia dianugerahi potensi panas bumi yang luar biasa besar. Namun, potensi itu tidak boleh hanya tersimpan di dalam bumi atau berhenti menjadi angka. Energinya harus kita hadirkan menjadi listrik yang memberi manfaat bagi masyarakat, menggerakkan ekonomi, dan memperkuat kemandirian energi bangsa,” ujar Bahlil.
Menurut Bahlil, percepatan pengembangan geothermal membutuhkan keberanian untuk mengubah potensi menjadi proyek nyata melalui kolaborasi.
Berdasarkan paparan Eniya Listiani Dewi pada pembukaan IIGCE 2026, ia menekankan momentum 100 tahun panas bumi Indonesia sejak pengeboran di Kamojang. Menurutnya, geothermal memiliki karakteristik yang mampu memasok listrik selama 24 jam.
“Kamojang mengajarkan kita bahwa panas bumi bukan sekadar sumber energi, tetapi warisan energi yang terus hidup. Seratus tahun sejak pengeboran pertama dilakukan pada 1926, uapnya masih mengalir dan terus memberi manfaat bagi negeri. Dari Kamojang, kita melihat bahwa geothermal memiliki kekuatan untuk menjadi energi bersih yang andal, berkelanjutan, dan menjadi bagian penting dalam perjalanan Indonesia menuju kemandirian energi,” ujar Eniya.
(Red-PBMI)







