
LEBAK – PORTALBMI.ID – Perkumpulan Urang Banten (PUB) akan menyelenggarakan kegiatan “Baduy Lestari dan Milad PUB ke-8” pada Minggu, 25 Oktober 2026, bertempat di Rumah Adat Kajaroan, Kampung Kaduketug Babakan Jaro, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten.
Mengusung tema “Menanam Harapan, Menjaga Kehidupan”, kegiatan ini tidak sekadar menjadi peringatan hari jadi organisasi, tetapi juga momentum untuk meneguhkan kepedulian terhadap kelestarian alam, keberlanjutan kehidupan masyarakat adat, dan pelestarian nilai-nilai luhur budaya Baduy. Sabtu (24/10/26).
Sesuai keputusan lembaga adat Baduy tangtu telu Jaro tujuh sebagaimana disampaikan oleh Jaro Oom, bahwa “kesederhanaan acara puncak Baduy Lestari merupakan bagian dari pelaksanaan amanat Karuhun”. Menurutnya, menjaga dan melestarikan alam tidak harus diwujudkan melalui acara yang meriah atau hura-hura, tetapi melalui tindakan nyata yang memberikan manfaat bagi kehidupan.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa esensi pelestarian lingkungan bukan terletak pada kemegahan acara, banyaknya seremoni, atau besarnya perayaan, melainkan pada kesungguhan dalam merawat alam dan menjaga keberlanjutan kehidupan.
Bagi masyarakat Baduy, menjaga alam merupakan bagian penting dari tatanan kehidupan yang diwariskan oleh para leluhur. Hutan, tanah, air, dan seluruh lingkungan hidup bukan sekadar sumber daya yang dimanfaatkan, melainkan bagian dari keseimbangan kehidupan yang harus dijaga dan dihormati.
Karena itu, semangat Baduy Lestari perlu diwujudkan melalui langkah-langkah konkret, seperti menanam dan merawat pohon, menjaga sumber mata air, melindungi kawasan hutan, serta mempertahankan keseimbangan lingkungan sesuai dengan ketentuan adat dan kearifan lokal yang berlaku.
Sejalan dengan pesan tersebut, PUB menjalankan program penyaluran dengan target 70.000 bibit tanaman sebagai bagian dari rangkaian Milad PUB ke-8. Program ini merupakan bentuk kepedulian terhadap kelestarian lingkungan sekaligus upaya mendorong gerakan penghijauan yang berkelanjutan di kawasan Baduy.
Bibit yang disalurkan meliputi berbagai jenis tanaman, antara lain gaharu, nangka, jambu, lerak, durian, alpukat, petai, jengkol, aren, albasia, matoa, dan jenis tanaman lainnya.
Penyaluran bibit dilaksanakan secara bertahap melalui delapan pintu masuk kawasan Baduy untuk selanjutnya didistribusikan ke berbagai perkampungan adat Baduy Dalam dan Baduy Luar. Pelaksanaannya memperhatikan kondisi wilayah, kebutuhan masyarakat, serta kearifan lokal setempat.
Namun, gerakan ini tidak berhenti pada penyerahan bibit. Tantangan sesungguhnya adalah memastikan bibit yang ditanam dapat tumbuh, dirawat, dan memberikan manfaat bagi lingkungan serta generasi mendatang.
Dengan demikian, keberhasilan Baduy Lestari tidak semata-mata diukur dari jumlah bibit yang disalurkan, tetapi juga dari keberlanjutan perawatan tanaman, tumbuhnya kesadaran masyarakat, dan semakin terjaganya keseimbangan alam.
Pesan Jaro Oom, mengandung makna penting bagi seluruh pihak yang terlibat dalam gerakan pelestarian lingkungan. Bahwa “menjaga alam tidak cukup hanya dengan menyampaikan imbauan, membuat slogan, atau menyelenggarakan kegiatan seremonial. Pelestarian harus menjadi tindakan nyata yang dilakukan secara konsisten
“.Kesederhanaan acara puncak Baduy Lestari justru menegaskan bahwa nilai utama kegiatan ini adalah pengabdian, kebersamaan, dan kepedulian terhadap alam. Semangat tersebut sejalan dengan tema “Menanam Harapan, Menjaga Kehidupan”, yang mengajak masyarakat untuk menanam bukan hanya pohon, tetapi juga harapan bagi masa depan lingkungan yang lebih baik.
Peringatan Milad PUB ke-8 pun diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat peran organisasi dalam membangun kepedulian sosial, melestarikan kebudayaan, dan menjaga lingkungan di Provinsi Banten.Ketua Umum PUB, Komjen Pol. (Purn.) Taufikurrahman Ruki, S.H., bersama seluruh jajaran PUB mendorong agar semangat pelestarian lingkungan terus dikembangkan melalui kerja nyata dan kolaborasi dengan masyarakat adat, pemerintah, organisasi kemasyarakatan, komunitas lingkungan, serta berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap kelestarian alam.
Pelaksanaan kegiatan di Rumah Adat Kajaroan juga menjadi bentuk penghormatan terhadap masyarakat adat Baduy, nilai-nilai leluhur, dan tatanan kehidupan yang selama ini dijaga.
Ki Yani, selaku ketua panitia berharap “kegiatan Baduy Lestari berkembang menjadi gerakan berkelanjutan yang menginspirasi masyarakat luas untuk menjaga alam melalui tindakan sederhana, nyata, dan konsisten”.
Sebagaimana pesan yang ditekankan Jaro Oom, yang terpenting bukan kemeriahan acaranya, melainkan bagaimana amanat Karuhun diwujudkan dalam kehidupan nyata melalui upaya menjaga dan melestarikan alam.
Sebab, alam yang terjaga merupakan penyangga kehidupan, dan pelestarian yang dilakukan hari ini adalah warisan berharga bagi generasi mendatangMenanam Harapan, Menjaga Kehidupan.
KABULA, KABALE, KABALANDONGAN
(Achie06-PBMI)








