
SAMBAS – PORTALBMI.ID – Sikap tegas dan seruan moral disuarakan oleh tokoh masyarakat Melayu asal Sambas, Lukmanul Hakim, M.Pd. Menanggapi dinamika sosial serta bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang melanda Kalimantan Barat, Lukmanul menekankan pentingnya menjaga marwah pendekar Melayu sekaligus mengambil langkah konkret dalam aksi kemanusiaan.
Dalam penyampaiannya, Lukmanul mengecam keras tindakan kekerasan terhadap mahasiswa yang menyuarakan aspirasi rakyat. Ia menegaskan bahwa nilai-nilai kebudayaan Melayu sangat menjunjung tinggi rasa kasih sayang dan perlindungan terhadap kaum muda.
“Pantang kita Melayu memukul mahasiswa. Pendekar itu bukan untuk memukul mahasiswa atau perwakilan rakyat. Medan juang kita yang sebenarnya adalah bagaimana menyelesaikan masalah Karhutla di Kalimantan,” tegas Lukmanul Hakim. Minggu (25/10/2026) di Sambas.
Lukmanul Hakim juga menyambut baik dan mendukung penuh sikap tegas Gubernur Norsan yang meminta penindakan terhadap oknum preman yang melakukan tindakan kekerasan kepada mahasiswa. Menurutnya, pemimpin Kalbar adalah sosok yang mengayomi dan menyayangi rakyatnya.
Melihat kondisi asap yang masih menyelimuti wilayah Kalbar dan mengganggu kesehatan masyarakat, Lukmanul merangkul seluruh Keluarga Besar Melayu dari 14 kabupaten/kota, mulai dari Sambas, Singkawang, Bengkayang, Mempawah, Kubu Raya, Sanggau, Sintang, Kapuas Hulu, Ketapang, Sekadau, hingga Landak, untuk bersatu membentuk gerakan relawan lapangan.
Gerakan ini bertujuan mencari solusi jangka panjang agar bencana kabut asap dan Karhutla tidak lagi menjadi agenda tahunan di Kalimantan Barat.Selain pembentukan relawan, Lukmanul Hakim menyoroti ketimpangan fasilitas pemantauan kualitas udara di daerah. Saat ini, Kota Pontianak telah memiliki alat pendeteksi kualitas udara (ISPU/AQI) yang memadai, sementara wilayah seperti Kabupaten Sambas masih minim fasilitas serupa.
“Ke depan, kita dorong bersama agar fasilitas pengukur kualitas udara di Sambas dan daerah lainnya dapat direalisasikan. Hal ini penting agar kita bisa mengambil langkah serta kebijakan yang terukur dan akurat berdasarkan data,” tambahnya.
Lukmanul Hakim optimistis, jika gerakan masyarakat dan kolaborasi lintas daerah ini dapat terwujud, bencana Karhutla di Kalimantan bukan hal yang mustahil untuk dicegah secara berkelanjutan.
(Nop06-PBMI)








