
JAKARTA – PORTALBMI.ID – Teror kuntilanak Indonesia dilawan ritual-ritual khas Taiwan begitulah tema film “The Rope Curse 4: Kuntilanak” (粽邪4:坤蒂拉娜). Untuk menghadirkan ritual yang dipraktikkan di dunia nyata hingga “memastikan kelancaran” pekerjaan di balik layar, pihak produksi melibatkan ahli spiritual dari kedua negara.
“Kami berharap setidaknya yang ditampilkan adalah budaya taoisme Taiwan yang autentik dan lokal, lalu dibawa ke Indonesia,” kata produser film, Jeff Tsou (鄒介中).
Untuk itu, ahli spiritual melatih para pemeran selama berbulan-bulan, memastikan ketepatan adegan ritual saat syuting, bahkan membantu sutradara Liao Shih-han (廖士涵) dalam penulisan naskah.

Angkat ritual khas Taiwan
Film ini mengangkat sejumlah ritual Taiwan, termasuk pengusiran roh jahat dengan Tiao Zhong Kui (跳鍾馗), di mana praktisinya didandani menjadi Zhong Kui (鍾馗), dewa yang dipercaya mampu menaklukkan roh jahat.
Ahli taoisme Taiwan yang menjadi konsultan untuk film ini, Chen Kuan-hao (陳貫豪), dalam wawancara mengatakan Tiao Zhong Kui dipercaya berbahaya karena “mereka yang tidak terlihat” sedang berusaha ditundukkan, bahkan ada yang meninggal setelah mempraktikannya.
Oleh karena itu, praktisi Tiao Zhong Kui harus benar-benar menunjukkan kepada yang tak kasatmata bahwa ia adalah sosok sang dewa bukan sekadar pemeran, agar tidak diserang, kata Chen. Jadi, meski adegan film tidak persis seperti ritual tradisionalnya, peraturan dan tabu yang diikuti tetap sama.
Misalnya, selama proses syuting, pemeran Zhong Kui tidak boleh sembarangan berbicara dan harus dipanggil sebagai Kui Ye (馗爺), yang berarti Tuan Zhong Kui. Ia juga tidak boleh menoleh andai mendengar nama aslinya, kata Chen.
Dalam penulisan naskah, Chen sempat menentang ide bahwa Jiamin tokoh perempuan utama yang memiliki kemampuan supernatural melakukan Tiao Zhong Kui, karena Zhong Kui seharusnya diperankan laki-laki, sehingga sang pemeran, Wilson Hsu (許安植), dikhawatirkan akan mengalami masalah.

Namun, ini justru menjadi tantangan bagi Jiamin ketika ia berusaha menyelamatkan satu-satunya keluarganya yang tersisa, Bibi Yulan, dari kutukan kuntilanak, tegas Tsou.Selama pengambilan gambar, Chen selalu mendampingi pemeran. Bahkan, ia masuk di salah satu adegan, di samping Jiamin yang sedang melakukan Song Rouzong (送肉粽), ritual membuang energi buruk atau sha (煞) yang ditinggalkan kematian dengan cara menggantung, yang dalam film ini dialami korban kuntilanak.
Dalam Song Rouzong itu, juga tampil Ba Jia Jiang (八家將), parade khas Taiwan di mana sekumpulan orang memerankan sejumlah entitas yang dipercaya dapat menangkap, mengadili, dan menghukum roh jahat. Menurut Tsou, selama proses syuting, para praktisi sesekali tiba-tiba kerasukan dewa.
Alat-alat yang dipakai dalam film pun banyak yang dibawa dari tempat praktik Chen di New Taipei, Jing Shang Tao, termasuk jimat, dupa, tali ular (法索), hingga serba-serbi perlengkapan Zhong Kui.

Selain ritual, ada berbagai mantra khas dalam bahasa Hokkien Taiwan, seperti yang menyebut “sesegera mungkin, layaknya perintah hukum” (急急如律令), untuk melapor kepada pasukan dan jenderal di langit bahwa ada urusan mendesak dan meminta tolong agar mereka cepat turun untuk membantu, kata Chen.
Juga ada berbagai gerakan jari yang memang ada, termasuk yang berkaitan dengan Wang Lingguan (王靈官) dewa pelindung dan penjaga hukum yang memiliki konotasi perlindungan, kewibawaan, dan penaklukan kekuatan jahat serta Guanyin Zhi (觀音指) yang dikaitkan dengan Bodhisatwa Kwan Im, kata Chen.
Ritual Indonesia masuk panggung internasional

Tidak hanya dari Taiwan, sejumlah ritual di Nusantara, baik secara Tionghoa maupun kepercayaan lokal, turut ditampilkan. Oleh karena itu, film juga melibatkan konsultan spiritual dari Indonesia, Arifin Kurniawan.”Itu tuh udah di luar dari ekspektasi saya, dan benar-benar jadinya keren banget,” kata Arifin setelah menonton, menggambarkan adegan tokoh ahli spiritual Indonesia, Master Lin, yang diperankan aktor Ferry Salim.
Arifin, praktisi kepercayaan Tionghoa di Kwan Sing Tang Jakarta sekaligus spiritual Nusantara, dalam wawancara mengatakan Master Lin melakukan ritual “ilmu hitam dan putih” yang memang dipraktikkan di Indonesia.
Misalnya, dalam melawan kuntilanak, Master Lin menggunakan kepercayaan tradisional seperti sesajen, tetapi juga membawa praktik Tionghoa yang mengundang dewa merasuki dirinya sebagai medium, kata Arifin.
Master Lin terlebih dahulu mengibarkan bendera Pat Kwa sembari bergerak ke empat arah untuk membuka “empat mata angin” dan mengizinkan semua dewa datang, sehingga di film ditunjukkan angin berembus kencang.

Setelahnya, ia menutup kepalanya dengan kain Pat Kwa untuk lebih fokus agar benar-benar bisa mengundang dewa masuk, kata Arifin.
Namun, sebelum dewa masuk, Master Lin, didorong egonya, beralih ke cara tradisional Nusantara dengan menggunakan palu dan paku untuk mengembalikan kuntilanak ke wujud manusianya semula, kata Arifin.
Selain itu, ada adegan kepercayaan Nusantara dengan memotong ayam cemani, kata Arifin, yang salah satu gurunya juga mempelajari kepercayaan rakyat Tionghoa hingga ke Taiwan.
Arifin juga meminta Ferry untuk menjalankan vegetarian selama syuting, yang disebutnya bertujuan membersihkan diri. “Nah, di situ aura-aura itu terpancar langsung saat di depan kamera.”
TantanganPara ahli spiritual tidak hanya membantu penciptaan apa yang tampil di depan layar, tetapi juga di belakangnya, bahkan yang konon tak kasatmata, seiring berbagai ritual yang dilakukan untuk syuting nyata.
Sebelum proses syuting di Indonesia dibuka, dilakukan doa pembukaan secara Islam dan Tao untuk memohon kelancaran. Tokoh muslim, Chen, dan Arifin pun bergantian memimpin.

Rupang Zhong Kui yang dibawa dari Taiwan juga selalu mendampingi di lokasi, bahkan ketika di Indonesia. Sejumlah kru dan pemeran selalu terlebih dahulu mempersembahkan makanan mereka di hadapannya sebelum mulai makan, kata Chen.
Sementara itu, tim juga sembahyang dan memberi tahu para arwah di sekitar bahwa mereka hanya syuting, bukan benar-benar sedang mengusir roh jahat, kata Chen, menambahkan bahwa mereka selalu menyiapkan persembahan makanan bagi para penunggu.
Senada, Arifin mengatakan bahwa sebelum syuting, dilakukan ritual hingga mediasi, yang disebutnya bertujuan meminta izin dari para penunggu sekitar, mengungkapkan tim tidak berniat mengganggu, sekaligus meminta tolong agar dilindungi.
Meski demikian, tetap terjadi sejumlah kejadian aneh. Para pemeran, Hsu, Vera Chen (陳雪甄), dan Hangee Liu (劉國劭) dalam sejumlah wawancara mengaku sempat mengalami berbagai peristiwa mistis selama berada di hotel. Menghadapi itu, ahli spiritual turut membantu menangani.
Para pemeran mengatakan mereka juga jadi selalu mencari perlindungan pada Zhong Kui, dengan berusaha terus berada di dekat rupangnya selama syuting.
Perpaduan Manis

film yang dipersiapkan selama tiga tahun dan syuting pada akhir 2025 ini turut menyimpan kenangan manis bagi para konsultan spiritual yang dilibatkan.
Chen, misalnya, ikut berjalan-jalan menyusuri pecinan Indonesia hingga mencicipi hidangan gerobak kaki lima. Ia pun mengaku jatuh cinta pada sate.Sementara itu, Arifin mengatakan ia berharap film ini makin sukses, terlebih dengan membawa dan memadukan warisan budaya Indonesia dan Taiwan.
Tsou mengatakan pihak produksi telah memilih ritual khas Taiwan sejak awal “The Rope Curse” dimulai sekitar sepuluh tahun lalu, karena ingin mengambil tema lokal. Untuk film pertamanya pun mereka telah mengangkat Tiao Zhong Kui hingga Song Rouzong yang menampilkan Guan Jiang Shou (官將首).
Menanggapi ramainya penonton dari luar negeri melalui platform Netflix, serta banyaknya warga asing yang percaya taoisme, kata Tsou, pihak produksi membawa kisahnya ke Indonesia untuk film keempat, dan memilih kuntilanak yang latar belakang menyedihkannya dianggap relevan dengan cerita tokoh Jiamin dan Bibi Yulan.

“Selama ini, orang kerap menyebut ‘The Rope Curse’ sebagai film horor. Namun, sebenarnya film itu juga membahas sebagian tradisi budaya taoisme Taiwan dan perpaduannya dengan unsur-unsur dari luar Taiwan,” ucapnya.
Refan Aditya, peneliti independen Academia Sinica yang mendalami agama rakyat Tionghoa di Jawa, mengatakan bahwa film yang mengangkat adat dan tradisi Tionghoa di Indonesia sebenarnya sudah lama eksis, seiring budaya mereka telah menjadi bagian dari Indonesia itu sendiri.
Poin yang menurutnya menarik adalah bahwa film ini mengangkat kuntilanak, terutama apakah sosok itu “mempan” dilawan dengan mantra-mantra Tao dan Buddha, sedangkan di Indonesia biasanya dihadapi secara Islam ataupun Kristen.
Kao Chen-hung (高振宏), asisten ahli di Jurusan Sastra Tionghoa National Chengchi University yang mendalami taoisme dan kepercayaan rakyat, mengatakan kepada CNA bahwa ia mengapresiasi diangkatnya tradisi rakyat Taiwan ke dalam budaya populer.
“Menurut saya, itu sangat bagus. Tradisi rakyat yang dahulu dianggap tabu atau enggan dibicarakan kini dapat diangkat menjadi tema film dan karya audiovisual. Hal ini sendiri merupakan bentuk pemahaman dan identifikasi terhadap budaya lokal,” kata Kao.

Melalui pendekatan seperti ini, justru dapat tercipta lebih banyak ruang diskusi, sekaligus memberikan kesempatan lebih luas kepada masyarakat untuk mengenal ritual-ritual tradisional, terlepas dari bagaimana mereka memahaminya, ucapnya.
“The Rope Curse 4: Kuntilanak” dirilis di Taiwan pada 27 Agustus dan Indonesia pada 23 Oktober, sebelum juga direncanakan menyapa Kamboja pada 29 Oktober, Malaysia 5 November, dan Vietnam 11 November, menurut pihak produksi.
(Red-PBMI)







