
TAIPEI – PORTALBMI.ID – Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) menggelar forum bisnis “Batam Free Zone: Fast Lane to Global Manufacturing” untuk memperkenalkan Batam sebagai pusat manufaktur global sekaligus memperkuat kerja sama perdagangan dan investasi dengan Taiwan.
Kepala KDEI Taipei, Bapak Arif Sulistyo, menegaskan bahwa Batam menawarkan lokasi strategis dengan didukung lebih dari 31 kawasan industri aktif, tenaga kerja terampil, serta biaya kompetitif, sehingga menjadikannya magnet bagi investor asing. Menurut data KDEI Taipei, sejak 2019 hingga semester pertama 2025, investasi Taiwan ke Indonesia mencapai US$1,9 miliar, dengan realisasi sebesar US$166,9 juta khusus di Batam.
Direktur Investasi KDEI Taipei, Eko Wijanarko, menyampaikan bahwa Indonesia mencatat pertumbuhan ekonomi stabil di atas 5 persen per tahun dan menargetkan 8 persen pada 2045, sejalan dengan Visi Indonesia Emas. Pada 2024, realisasi investasi asing langsung (FDI) mencapai US$114,3 miliar, meningkat 20,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Capaian ini menempatkan Indonesia di peringkat ke-14 tujuan investasi global dan kedua di Asia Tenggara.
Eko juga menyampaikan pentingnya hilirisasi, mengingat Indonesia merupakan produsen utama 28 komoditas strategis dunia, di antaranya adalah nikel, timah, pasir silika, kelapa sawit, kelapa, biofuel, karet, kepiting, rumput laut, pala, dan ikan tilapia. Pemerintah telah menyiapkan peta jalan hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah di dalam negeri, menciptakan jutaan lapangan kerja, dan memberikan beragam insentif, mulai dari skema tax holiday hingga 20 tahun, tax allowance, investment allowance, pembebasan bea masuk untuk mesin dan bahan baku, super deduction tax hingga 300 persen untuk perusahaan yang menyelenggarakan kegiatan pendidikan atau pelatihan dan juga penelitian dan pengembangan, hingga berbagai kemudahan perizinan melalui sistem OSS. “Kombinasi kebijakan ini semakin memperkuat daya tarik Indonesia bagi investor global, termasuk dari Taiwan,” jelasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Edmund Lai, Chief Marketing Officer Gallant Venture Ltd, memaparkan perkembangan Batamindo Industrial Park dan Bintan Industrial Estate yang kini menampung lebih dari 100 perusahaan internasional, termasuk Pegatron, Yageo, dan Suntrend dari Taiwan. Kawasan ini dilengkapi infrastruktur modern, fasilitas energi dan air, serta pabrik siap pakai, dan telah ditetapkan sebagai Objek Vital Nasional yang mendapat perlindungan keamanan negara. Peresmian pabrik baru Pegatron seluas 85.000 m² pada April 2025 semakin memperkuat Batam sebagai pusat teknologi regional.
Turut hadir Andik Kurniawan, General Manager BRI Taipei, yang menyatakan peran BRI Taipei sebagai satu-satunya bank Indonesia dengan cabang penuh di Taiwan sejak 2021. Dengan aset setara NT$11,9 miliar (US$400 juta) dan pangsa pasar 17,3% di layanan remitansi Taiwan-Indonesia, BRI Taipei berfokus pada remitansi, pembiayaan investasi, serta dukungan pengurusan Second Home Visa bagi investor.
Kehadiran sektor perbankan, kawasan industri, serta dukungan pemerintah menjadikan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam (Free Trade Zone) bukan hanya pusat manufaktur Indonesia, tetapi juga pintu strategis yang mempererat hubungan ekonomi Indonesia-Taiwan dan membuka peluang kolaborasi lebih luas di perdagangan, investasi, dan teknologi.