
Pendiri sekaligus Ketua Dewan Pembina Keluarga Cendekiawan Buddhis Indonesia (KCBI) Ibu Dra. S. Hartati Murdaya, secara resmi melakukan Pengukuhan Dewan dan Pelantikan Dewan Pengurus Pusat KCBI masa bakti 2024–2029
JAKARTA – PORTALBMI.ID – Pendiri sekaligus Ketua Dewan Pembina Keluarga Cendekiawan Buddhis Indonesia (KCBI) Ibu Dra. S. Hartati Murdaya, secara resmi melakukan Pengukuhan Dewan dan Pelantikan Dewan Pengurus Pusat KCBI masa bakti 2024–2029 dalam acara yang berlangsung di Ruang Lawu 1–2, Gedung Pusat Niaga, JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat pada hari Minggu, 14/9/2025.
Pelantikan ini dihadiri Wakil Menteri Ekonomi Kreatif RI Ibu Irene Umar, B.A. dan Direktur Jenderal Bimas Buddha Kementerian Agama Bapak Drs. Supriyadi, M.Pd., serta ratusan cendekiawan Buddhis dari berbagai daerah.

Rangkaian prosesi dimulai dengan pembacaan Surat Keputusan (SK) DPP KCBI oleh Sekretaris Jenderal DPP KCBI Bapak Willy Wiyatno, Ph.D., diikuti para pengurus dan dewan yang dipanggil naik ke atas panggung. Selanjutnya, Ibu Hartati Murdaya memimpin pembacaan naskah pelantikan dan janji KCBI yang diikuti oleh seluruh pengurus dan dewan.
Momen khidmat terjadi ketika penyerahan Bendera KCBI dari Ibu Hartati Murdaya kepada Ketua Umum KCBI Y.M. Bhikkhu Dhammavuddho Thera/Victor Jaya Kusuma, S.Kom., M.M., BKP, sebagai simbol estafet kepemimpinan dan pengabdian.
Dalam sambutannya, Ibu Hartati Murdaya yang juga Ketua Umum WALUBI menegaskan peran KCBI sebagai wadah cendekiawan Buddhis untuk mengabdi pada Dharma Agama dan Dharma Negara.
“KCBI ini adalah sudah seperti keluarga saya, melalui KCBI kita akan mengabdi untuk bangsa dan negara, melakukan kontribusi nyata. Pelantikan hari ini adalah momentum untuk membawa umat Buddha berperan aktif dalam pembangunan Indonesia dengan semangat saling mengasihi, yang kuat membantu yang lemah,” ujarnya.
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif RI Ibu Irene Umar yang hadir sebagai keynote speaker, menekankan sinergi dan keterlibatan umat Buddha melalui ekonomi kreatif.

“Indonesia itu adalah negara beragama. Agama Buddha atau agama apapun sebenarnya menebarkan benih-benih kebaikan dan menyebarkan cinta supaya kita jangan terpecah belah. Kita harus menjadi satu karena landasan dari negara Indonesia beragama dan gotong royong menuju Indonesia Emas,” ungkap Wamen Ekraf Irene Umar.
Wamen Ekraf Irene pun mengajak Cendekiawan Buddhis untuk menjaga kerukunan bersama satu sama lain, apapun agama yang dianutnya, tetap harus punya rasa saling mencintai. Lebih lanjut, Wamen Ekraf Irene menjelaskan seperti apa ekonomi kreatif menjadi kunci dalam pengembangan diri saat menghadapi berbagai tantangan global terkini.
Setelahnya, Wamen Ekraf Irene juga menyebut pentingnya agama dan kreativitas dalam mendorong pertumbuhan dan pembuatan kebijakan ekraf.

“Ekonomi kreatif muncul sebagai new engine of growth yang memiliki 17 subsektor didalamnya. Ekonomi kreatif akan memetakan ekosistem dengan segala sesuatu rantai nilai didalamnya. Hal ini juga sejalan dengan banyak ajaran-ajaran agama Buddha yang selalu menjembatani kebaikan seperti ajaran welas asih dan meditasi untuk mendapat kekuatan energi positif,” ujar Wamen Ekraf Irene. Sementara itu, Dirjen Bimas Buddha Bapak Supriyadi, menegaskan dukungan pemerintah terhadap peran KCBI.
“Kami melihat KCBI sebagai mitra strategis yang bisa menghubungkan umat dengan negara melalui gagasan cerdas dan gerakan nyata. Kehadiran para cendekiawan akan memperkuat posisi umat Buddha di ruang publik,” ungkapnya.
Ketua Umum KCBI Y.M. Bhikkhu Dhammavuddho Thera/Victor Jaya Kusuma, menekankan arah organisasi di periode baru ini. “KCBI akan terus menjunjung tinggi Dharma Agama dan Dharma Negara. Kami berkomitmen untuk membangun kebersamaan serta melahirkan program konkret bagi kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Ketua Dewan Pakar KCBI Prof. Idris Gautama So, Ph.D., juga menegaskan pentingnya kontribusi intelektual umat Buddha. “KCBI harus mendorong cendekiawan tampil di ruang publik, memberi masukan etis pada kebijakan negara, sekaligus menghadirkan solusi nyata seperti pendidikan, pengentasan kemiskinan, dan dialog antaragama. Dengan demikian umat Buddha tidak hanya hadir, tetapi memberi dampak bagi bangsa,” paparnya.








