
Banjir di Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Jumat (5/12) pagi. Foto: kumparan
BANDUNG – PORTALBMI.ID – Arus lalu lintas di Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, lumpuh total setelah banjir kembali merendam kawasan langganan banjir tersebut sejak Kamis (4/12) malam.
Hingga Jumat (5/12) pagi, banjir masih menutup sejumlah ruas jalan utama dan membuat mobilitas warga terkunci.
Pantauan di lokasi, air mulai menutup akses sejak Jembatan Cipurut arah Bojongsoang hingga kawasan Metro dari jalur Moh. Toha menuju Dayeuhkolot.
Di beberapa titik, terutama depan Masjid Ash Shofia dan Pasar Dayeuhkolot, ketinggian air mencapai sekitar 1 meter.
Beberapa ruko dan pedagang pasar dekat akses tersebut memilih tutup lantaran banjir masuk ke sebagian ruko.
Hanya kendaraan besar seperti truk yang dapat melintas. Pengguna kendaraan kecil, termasuk pemotor dan pekerja pabrik yang hendak menuju kawasan industri, terpaksa menepi atau mencari jalur alternatif.
Beberapa sepeda motor yang nekat menerobos banjir terjebak di tengah jalan dan mogok. Bahkan sebuah truk bermuatan kayu turut mati mesin setelah memaksakan menerjang tingginya air.
Sebagian warga memilih memutar arah karena kedalaman air tak memungkinkan untuk dilalui. Namun di sisi lain, beberapa anak tampak bermain air seolah tak ada yang perlu dikhawatirkan.

Kata Warga: Langganan Banjir
Nita Nurhalisa (26), warga Bojong Asih, mengatakan banjir mulai menggenangi wilayah itu sejak Kamis sore.
“Ini dari kemarin. Kemarin hujan dari siang sampai sore, airnya naik,” ujar Nita saat ditemui di lokasi banjir usai pulang dari rumah saudaranya.
Menurutnya, ketinggian air di Bojong Asih bahkan lebih parah.
“Tadi [di sini] sepinggang. Di Bojong Asih mah tinggi, soalnya dalam banget. Ada yang sampai 1,5 meter kayaknya yang dekat Citarum,” tuturnya.
Rumah Nita juga ikut terendam. Ia mengaku sudah terbiasa dengan kondisi banjir yang terus berulang setiap musim hujan.
“Saya dari lahir tinggal di sini. Sering [banjir], tiap musim hujan. Langganan,” katanya.
Meski begitu, Nita tak menampik rasa lelahnya menghadapi situasi yang tak kunjung membaik.
“Sebenernya sih bosan, tapi mau gimana lagi. Pemerintah juga kan sudah coba bantu kayak bikin retensi, peninggian jalan. Tapi lihat cuaca sama keadaannya ya gitu lagi,” ucapnya.
Ia berharap pembenahan saluran air bisa lebih dioptimalkan. “Mungkin pengairannya bisa lebih diperbaiki,” ujar Nita.
Selain mengganggu mobilitas, banjir juga berdampak pada pekerjaannya di usaha konveksi rumahan.
“Terkendala pengiriman kalau banjir tinggi. Suka mati listrik juga,” jelasnya.
Nita berharap pemerintah bisa lebih sigap menangani banjir tahunan ini.
Takut Telat, Rifki Nekat Menerobos
Sementara itu, Rifki (32) yang sedang mengendarai motor mengaku nekat menerobos karena harus segera sampai ke tempat kerja.
“Saya kira enggak sedalam itu. Pas sudah di tengah malah makin dalam, motor langsung mati. Ya mau gimana, kalau muter bisa tambah satu jam lagi mana macet,” ujarnya sambil mendorong motornya ke tepi jalan.
Ia mengatakan banjir di Dayeuhkolot sudah sering terjadi dan menyulitkan pengendara.
“Setiap tahun begini terus. Susah kalau kerja pagi, takut telat, jadi kadang nekat,” tambah Rifki.
Hingga berita ini dirilis, arus lalu lintas di sejumlah titik di Dayeuhkolot masih tersendat dengan banyak pengendara motor yang tetap memaksakan melintas meski risiko mogok sangat tinggi.








