
Batu belimbing, singkawang. FOTO: Aep05/portalbmi.id
SAMBAS – PORTALBMI.ID – Sumber Daya Alam (SDA) akan habis pada waktunya, ada limitasi, ada batasnya, “emas hijau” yang dahulu menjadi primadona Kalimantan saat ini tidak lagi menjadi pilihan masyarakat sebagai mata pencaharian. Salah satu pilihan yang mampu untuk meningkatkan kesejahteraan, mempercepat pembangunan dan dalam waktu yang bersamaan sebagai “alat” untuk menjaga kelestariaan alam dan budaya Kalimantan adalah pariwisata.
Karena sektor ini bisa menggerakan semua hal, terjadi konsolidasi sarana dan prasarana yang cukup luas dan terintegrasi. Misalnya dari sisi budaya yang berimbas dengan terjaganya kearifan lokal warga, sanggar-sanggar seni menjadi hidup, industri-industri kreatif hidup, industri rumahan bergerak, terjadi pertukaran budaya dan informasi yang dapat menjadi sumber “periuk-periuk nasi” masyarakat.
Selain itu dengan bergeraknya pariwisata dapat mempercepat perbaikan atau penyediaan infrastruktur seperti jalan, jembatan dan kesehatan, yang menjadi pelayanan dasar terkonsolidasi dengan baik. Selain itu akibat pariwisata aksesibilitas dan amenitas pendukung pariwisata menjadi prioritas utama untuk dibangun.
Syarat layaknya suatu objek wisata dapat dikembangkan menjadi destinasi wisata, apabila memiliki 4 (empat) syarat, pertama, attraction adalah segala sesuatu yang menjadi ciri khas atau keunikan dan menjadi daya tarik wisatawan agar mau datang berkunjung ketempat wisata tersebut. Kedua, accessbility, yaitu kemudahan cara untuk mencapai tempat wisata tersebut.

Ketiga, amenity, yaitu fasilitas yang tersedia didaerah objek wisata seperti akomodasi dan restoran. Keempat, institution, yaitu lembaga atau organisasi yang mengolah objek wisata tersebut. Dengan memperhatikan ulusan diatas tepat kiranya disebut bahwa pariwisata merupakan “ekonomi kembang api”, berdampak luas terhadap seluruh sektor terutama sektor ekonomi dan infrastruktur.
Pariwisata merupakan sektor yang mudah dikembangkan dan digerakan untuk menghasilkan pendapatan daerah dan negara yang bermuara pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Mengapa? pertama sudah disediakan Tuhan, seperti gunung, pantai, batu, air terjun, sungai, laut dan bentang alam lainya. Kedua, hasil cipta dan karya maunusia, baik sekarang atau pun masa lampau seperti candi, tarian, makanan, kerajinaan, rumah tradisional, tradisi dan atraksi budaya lainnya.
Pemberian Tuhan dan cipta karya manusia tadi untuk zaman kekinian sangat mudah untuk dipasarkan, dipromosikan atau “dijual” agar orang datang ke daerah atau Negara kita yaitu dengan bantuan kecanggihan tekonologi, misalnya media sosial seperti facebook, instagram, twitter dan lain-lain.
Pariwisata akan semakin meningkat dengan berkembangnya trend masyarakat terutama anak-anak muda yang sangat suka dengan dunia traveling alias jalan-jalan, kulineran “makan-makan” serta fashion yang bernuansa etnik, lokal dan lingkungan. Semua daerah di Indonesia memiliki potensi pariwisata dengan ciri khasnya masing-masing, termasuk daerah-daerah yang ada di Kalimantan, tinggal bagaimana pemerintah daerah dengan melibatkan masyarakat mengemas potensi pariwisata menjadi daya tarik wisata.
Mengembangkan pariwisata merupakan salah satu cara tercepat untuk mendatangkan orang dan uang sebanyaknya-banyaknya untuk masuk ke daerah atau Negara kita. Sehingga pendapatan masyarakat, daerah dan Negara meningkat, hal ini terbukti bahwa pariwisata menjadi sumber salah satu devisa terbesar Indonesia.
Berdasarkan data Kementerian Pariwisata Republik Indonesia pada tahun 2025 sektor pariwisata menyumbang devisa negara sebesar Rp 231 triliun atau 3,98% (persen) dari PDB.
Fakta lainya adalah Kab. Bantaeng (Sulawesi Selatan), Kab. Gunung Kidul (Yogyakarta) dan Kab. Banyuwangi (Jawa Timur) dari daerah tertinggal di Indonesia menjadi daerah maju karena menempatkan pariwisata sebagai sektor utama dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat, tentu dengan tidak melupakan pelayanan dasar lainnya, seperti pendidikan, kesehatan dan infrastruktur. Data statistik berikut akan memberikan gambaran perkembangan 3 (tiga) kabupaten tersebut yang maju karena pariwisatanya.
Misalnya Kabupaten Bantaeng yang berada di provinsi Sulawesi Selatan angka kemiskinan sebelum dikembangkannya pariwisata berjumlah 21 persen dan sekarang tinggal 5 persen, pengangguran dari 12 persen menjadi 2,3 persen. Pendapatan perkapita masyarakat dari 5 juta menjadi 27 juta, pertumbuhan ekonomi dari 4,7 persen menjadi 9,5 persen. Pendapatan dari sektor wisata dari 34 juta menjadi 3,2 milyar.
Sebelumnya dikembangkannya pariwisata masyarakat Bantaeng ramai-ramai menuju Makassar untuk berwisata, sekarang masyarakat Makassar yang ramai-ramai ke Bantaeng untuk berwisata.

Banyuwangi adalah kabupaten yang berada di Jawa Timur yang telah sukses menikmati pembangunan karena keberhasilannya menggerakan sektor pariwisata. Banyuwangi berhasil menekan angka kemiskinan dari sebelumnya 15 persen, menjadi 7 persen. Pendapatan daerah melonjak menjadi 134 persen, produk domestik bruto mengalamani kenaikan dari Rp 32 triliun menjadi Rp 78 triliun. Berkat pariwisata ini juga, Bandara Banyuwangi memiliki fasilitas yang lebih baik dari sebelumnya, rute penerbangan tidak hanya Jakarta, Surabaya tetapi juga sudah bisa langsung ke Manado, Makassar bahkan Kuala Lumpur. Dalam sehari ada sekitar 1.000 – 1.400 orang berkunjung ke Banyuwangi melalui Bandara.
Gunung Kidul kabupaten yang berada di Yogyakarta, data statistik kemiskinannya menyebutkan turun dari 19, 34 persen menjadi 17, 12 persen setelah mengembangkan pariwisata, penurunan angka kemiskinan ini tertinggi se DIY. Tahun 2021 Kab. Gunung Kidul optimis angka kemiskinan akan turun menjadi 15 persen.
Bupati Gunung Kidul mengakui kunci penurunan angka kemiskinan di daerahnya disebabkan oleh pariwisata di Gunung Kidul yang beberapa tahun belakangan sangat meningkat dan banyak masyarakatnya yang terlibat di sektor wisata. Hal ini juga tidak terlepas karena melibatkan kaum muda, media sosial dan pihak swasta dalam pembangunan pariwisata di Gunung Kidul.
Semoga pemerintah daerah provinsi, kabupaten dan kota di Kalimantan berlomba-lomba meningkatkan potensi wisatanya dan menjadikan pariwisata alam salah satu sektor unggulan untuk meningkatkan pendapatan daerah dan kesejahteraan masyarakat. Mengingat setiap kabupaten dan kota di Kalimantan memiliki potensi wisata yang sangat menarik dan unik, yang semuanya adalah wisata alam dan budaya.

Misalnya, Kab. Kapuas Hulu (Kalbar) dengan Danau Sentarumnya, Kota Singkawanng (Kalbar) dengan Festival Cap Go Mehnya, Kab. Sambas dengan Keraton Alwatzikoebillah dan keunggulan budayanya. Kalimantan Tengah ada Taman Nasional Tanjung Putinya yang terkenal, di Kalimantan Selatan ada wisata pasar terapung yang sudah mendunia, Kalimantan Timur dengan budaya adat Dayaknya, begitu juga Kalimantan Utara dengan budaya Bugis dan Dayak, serta banyak lagi lainya belum lagi kalau kita bicara wisata kuliner dan religinya.
Jika Cina dengan kemajuan manufakturnya, Thailand dengan agrikulturnya, Amerika dengan tekonologinya, maka Indonesia harus bisa maju karena pariwisatanya, diantaranya wisata alam dan budaya. Perlu diingat, manufaktur dan tekonlogi bisa ditiru, tapi pariwisata tidak bisa ditiru atau diimitasi oleh negara lain, siapa yang bisa meniru Candi Borobudur, negara mana yang bisa memindahkan Taman Nasional Danau Sentarum dan Tanjung Puting?
Sisakan satu Pulau saja di Indonesia untuk alam dan budaya yang tumbuh berdampingan dengan majunya pembangunan. Pulau Kalimantan bisa menjadi pilot projectnya, yuk dimulai!
(Aep05-PBMI)








