
Huang Hsiang-lin, dokter Tzu Chi Foundation yang telah mengabdi lebih dari 20 tahun dalam layanan gratis pemeriksaan kesehatan untuk pekerja migran di Taipei. (Sumber Foto : Huang Hsiang-lin, 18 Maret 2026)
TAIPEI – PORTALBMI.ID – Layanan gratis pemeriksaan kesehatan selama puluhan tahun telah meningkatkan kepedulian pekerja migran terhadap kesehatan diri sendiri, kata Huang Hsiang-lin (黃祥麟), dokter sekaligus koordinator tim medis Tzu Chi Foundation wilayah utara yang telah mengabdikan dirinya untuk kegiatan itu.
Menurut data Departemen Ketenagakerjaan Kota Taipei, jumlah pekerja migran di ibu kota pada Januari tahun ini mencapai 61.155 orang. Dari angka itu, 30.789 merupakan warga negara Indonesia (WNI), yang 27.666 di antaranya bekerja sebagai perawat rumah tangga.
Menyadari pentingnya kesehatan bagi para perawat tersebut, Taipei menyelenggarakan pemeriksaan kesehatan gratis empat kali setahun, termasuk penambahan pemeriksaan ultrasonografi (USG) jantung, perut, dan ginekologi, kata departemen tersebut.
Huang menceritakan kepada CNA bahwa keterlibatan Tzu Chi dalam pemeriksaan gratis itu bermula dari niat tulus membantu, setelah ada kasus pekerja migran yang mencoba mengakhiri hidup karena masalah di kampung halaman.
Ia mengenang masa-masa awal sebelum adanya saluran siaga 1955, di mana pekerja migran sering kali takut berobat karena khawatir kehilangan pekerjaan.
Untuk mengatasinya, para dokter merelakan waktu libur akhir pekan untuk membuka klinik, dan para sukarelawan menjemput pekerja migran di luar jam kerja mereka untuk berobat, kata dia.
Huang mengisahkan satu pengalaman, di mana seorang relawan membantu pekerja migran tidak berdokumen yang menderita penyakit kulit parah.
Meski ada risiko deportasi, para sukarelawan berkoordinasi dengan pihak kepolisian agar pasien dapat diperiksa dokter terlebih dahulu sebelum dipulangkan, bahkan mengumpulkan dana untuk membelikan tiket pesawatnya ke Indonesia, ujarnya.
Enam bulan kemudian, pasien tersebut dikabarkan telah sembuh total setelah melanjutkan pengobatan di tanah air, lanjut Huang.
Huang mengatakan bahwa seiring berjalannya waktu, sistem perlindungan di Taiwan semakin membaik dengan adanya saluran 1955 yang memfasilitasi komunikasi antara agensi, majikan, dan pekerja terkait kebutuhan operasi atau masa pemulihan.
Setelah dua dekade, upaya mengubah “cinta kasih menjadi koordinasi multisektor” telah membuahkan hasil, di mana pekerja migran sudah mengerti pentingnya segera mencari pertolongan medis jika merasa sakit, ucap Huang, yang kedua anaknya kini juga ikut serta dalam pelayanan gratis pemeriksaan kesehatan ini.







