
Kemacetan bahkan kerap mengular hingga berkilometer, mulai dari Desa Mekar Sekuntum hingga Desa Bekut, Kecamatan Tebas. FOTO: Aep05/portalbmi.id
SAMBAS – PORTALBMI.ID – Kemacetan lalu lintas di Kota Tebas kian menjadi perhatian masyarakat. Sejak dioperasikannya Jembatan Sungai Sambas Besar yang menjadi bagian dari Jalan Nasional ruas Singkawang–Sambas, kepadatan kendaraan terus meningkat dan sering menimbulkan antrean panjang.
Kemacetan bahkan kerap mengular hingga berkilometer, mulai dari Desa Mekar Sekuntum hingga Desa Bekut, Kecamatan Tebas. Kondisi ini semakin parah pada momen hari besar keagamaan maupun hari libur, ketika volume kendaraan meningkat signifikan.
Jembatan Sungai Sambas Besar sendiri memiliki panjang kurang lebih 1.262 meter dan dibangun oleh Kementerian Pekerjaan Umum. Infrastruktur tersebut resmi dioperasikan pada 3 Maret 2025 dan menghubungkan Kecamatan Tekarang, Jawai, dan Jawai Selatan dengan Kecamatan Tebas, kehadirannya membuka akses transportasi yang lebih luas, namun di sisi lain juga memicu lonjakan arus kendaraan.
Pemerintah Kabupaten Sambas bersama Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat sebenarnya telah merencanakan pembangunan jalur alternatif, yakni melalui pembangunan jembatan di Desa Tebas Sungai yang menghubungkan Desa Tebas Sungai dengan Desa Sejiram, Makrampai, dan Bekut, Jalur ini diharapkan dapat mengurai kepadatan lalu lintas di pusat Kota Tebas.

Namun hingga kini, yang baru terealisasi hanya jembatan yang membentang di atas sungai Tebas, tapi tidak ada akses jalan diseberangnya. Berdasarkan informasi dari salah satu warga yang enggan disebutkan namanya, terhambatnya pembangunan tersebut diduga karena belum selesainya proses pembebasan lahan oleh Pemerintah Kabupaten Sambas.
“Kemacetan sekarang semakin sering terjadi. Kalau tidak segera ada solusi, kondisi ini akan terus memburuk,” ungkapnya.
Masyarakat pun mendesak Pemerintah Kabupaten Sambas melalui dinas terkait untuk segera mengambil langkah konkret dan mempercepat realisasi pembangunan jalur alternatif tersebut.
Upaya ini dinilai penting untuk mengurangi kemacetan serta mendukung kelancaran mobilitas dan aktivitas ekonomi masyarakat di wilayah Tebas dan sekitarnya.
(Aep05-PBMI)








