
Acara ini dibuka secara resmi oleh Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unsoed, Prof. Dr. Ir. Endang Hilmi. FOTO: Imam07/portalbmi.id
BANYUMAS – Sebagai langkah nyata menyelamatkan ekosistem perairan darat yang kian terancam, sebuah pertemuan strategis bertajuk Focus Group Discussion (FGD) telah diselenggarakan pada Rabu, 29 April 2026.
Pertemuan ini mempertemukan berbagai pemangku kepentingan untuk membahas pengembangan kawasan konservasi perikanan berbasis masyarakat di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Serayu.
Upaya Penyelamatan di Tengah Krisis Ekologis DAS Serayu saat ini memegang peran vital bagi kehidupan masyarakat di empat kabupaten, namun lebih dari 50% kondisinya kini berada di ambang kritis ekologis akibat polusi, degradasi habitat, hingga praktik penangkapan ikan destruktif.

Kondisi ini memicu urgensi dilakukannya restorasi populasi ikan asli (native species) seperti Nilem, Baceman, Senggaringan, Tor/Kancra, Sidat, dan Udang Galah yang populasinya terus menyusut.
Acara ini dibuka secara resmi oleh Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unsoed, Prof. Dr. Ir. Endang Hilmi. Dalam sambutannya, beliau menekankan bahwa FGD ini harus mampu menghasilkan rumusan atau blue print pengelolaan DAS Serayu berkelanjutan.
Prof. Endang juga mendorong agar kolaborasi ini diperluas mencakup pihak bisnis dan media guna memastikan keberlanjutan program secara holistik.
Sejalan dengan hal tersebut, Direktur UT Purwokerto, Dr. Prasertyarti Utami, menegaskan kesiapan institusinya dalam mendukung upaya strategis ini, terutama dalam aspek pelestarian habitat dan keanekaragaman hayati sumber daya ikan.

Hadir dalam forum ini perwakilan dari:
• Dinas Kelautan Perikanan Provinsi Jawa Tengah.
• Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan.
• Penyuluh Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
• Fakultas Sains dan Teknik Universitas Terbuka serta UT Purwokerto.
• Garda Terdepan Masyarakat: Anggota Kelompok Masyarakat Pengawas (POKMASWAS) Jaga Kali (Ajibarang), Lestari Kaliku (Rawalo), dan Arus Lestari (Gumelar).

Dr Taufik Budhi Pramono dan tim menggagas Tiga Strategi Tiga Pilar dalam “Mengembalikan Nadi Serayu”, pengembangan kawasan konservasi ini akan difokuskan pada tiga pilar utama:
- Konservasi Partisipatif: Melalui zonasi perairan dengan membentuk “Lubuk Larangan” atau Area Perlindungan Perikanan (APP) sebagai tempat pemijahan alami (spawning ground).
- Restorasi Ikan Asli: Melalui pembangunan Village Hatchery Unit (Pusat Pembenihan Desa) dan pelepasan liarkan benih berbasis sains (scientific restocking).
- Ekonomi Hijau: Mentransformasi desa menjadi “Desa Konservasi” yang mampu menciptakan nilai tambah ekonomi melalui ekowisata perikanan dan budidaya ikan lokal berkelanjutan.
Langkah ini tidak hanya bertujuan memulihkan keanekaragaman hayati sesuai target SDGs 14 (Life Below Water) dan 15 (Life on Land), tetapi juga menjadi instrumen penting dalam mendukung pencapaian kinerja lingkungan unggul bagi sektor bisnis di kawasan tersebut.
Melalui sinergi ini, DAS Serayu diharapkan kembali menjadi nadi kehidupan yang lestari bagi generasi mendatang.

(Imam07-PBMI)








