
Sinam bukan hanya sekadar nama dan wilayah administratif di Pemangkat, Sinam permah menjadi denyut nadi kreativitas Kab. Sambas. FOTO: Aep05/portalbmi.id
SAMBAS – PORTALBMI.ID – Jika anda berjalan melintasi pesisir utara Kalimantan Barat menuju Kota Sambas, anda akan melewati Kecamatan Pemangkat, yang selalu identik dengan aroma dan hasil laut, hiruk-pikuk pelabuhan, dan tentu saja kuliner beserta seduhan kopi yang memanjakan lidah.
Namun, jika kita memutar jarum jam ke beberapa dekade silam, ada satu narasi visual yang kini perlahan memudar dari ingatan kolektif kita: deretan kerajinan keranjang bambu di kawasan Sinam.
Sinam bukan hanya sekadar nama dan wilayah administratif di Pemangkat, Sinam permah menjadi denyut nadi kreativitas Kab. Sambas yang mampu mengubah bilah-bilah bambu menjadi anyaman yang bernilai ekonomis tinggi bernama Kerajang Bambu yang dikerjakan sepenuh hati, benar benar menggunakan tangan, tanpa mesin. Hebatnya jarang ada pengrajin yang terluka karena sembilu bambu.
Hal ini juga sekaligus menjadi bukti, dahulu Sinam adalah sentra produksi keranjang bambu yang autentik di Kab. Sambas. Tak jarang truk – truk besar berhenti untuk memuat tumpukan keranjang hingga menggunung tinggi. Ekonomi warga berputar kencang dari anyaman bambu ini.

Kejayaan yang Pernah “Berisik”
Kala itu, jika menyusuri jalanan di Sinam telinga kita akan mendengar detuman parang yang memotong dan membelah bambu, gesekan dan rautan bambu mengeluarkan “irama” seperti lagu tanpa nada, berisik tapi ada “cuan” dibaliknya . Hampir di sepanjang jalan Sinam, warga sibuk menganyam keranjang.
Keranjang Sinam bukan sembarang keranjang, hasil keranjang Sinam dikenal kokoh dan multifungsi yang digunakan untuk banyak hal mulai dari keranjang sayur atau buah yang digunakan oleh para pengepul sayur dan buah untuk mengirim hasil bumi ke Pontianak bahkan hingga ke Malaysia. Bisa digunakan untuk wadah Ikan yang menjadi mitra setia para nelayan di Pelabuhan,bisa dipakai untuk perabot rumah tangga, wadah penyimpanan yang memberikan sentuhan estetik natural di rumah.
Mengapa Kini “Tenggelam”?
Istilah “tenggelam” mungkin terdengar seram, melankolis atau bahkan berlebihan, namun itulah realitas yang yang ada di lapangan. Ada beberapa faktor yang membuat sentra kerajinan ini “tenggelam”, meninggalkan masa jayanya, antara lain adanya invasi plastik yang lebih murah, ringan, dan praktis. Selain itu disebabkan oleh regenerasi yang terputus karena mengayam bambu adalah keahlian yang butuh kesabaran.
Generasi muda saat ini lebih memilih sektor pekerjaan formal atau merantau, meninggalkan warisan anyaman yang dianggap “kurang menjanjikan” secara finansial. Bahan baku yang kian jauh adalah faktor lainya, hutan bambu yang dulu mudah didapatkan kini mulai berkurang akibat alih fungsi lahan, membuat biaya produksi semakin tidak kompetitif.

Melawan Lupa
Melihat kondisi Sinam saat ini, kita seperti melihat sebuah monumen hidup yang sedang melapuk. Memang, masih ada satu atau dua perajin yang bertahan, menjaga api tradisi agar tidak benar-benar padam. Namun, tanpa intervensi dan inovasi, mereka hanyalah sisa-sisa dari sebuah kejayaan.
Perlu adanya rebranding, keranjang Sinam tidak boleh lagi hanya dilihat sebagai wadah ikan atau sayur. Ia harus naik kelas menjadi produk eco-friendly, tas belanja modis, elemen interior hotel, atau suvenir khas yang dicari wisatawan saat berkunjung ke Pemangkat.
Pemangkat selalu punya cara untuk dirindukan. Namun, alangkah sedihnya jika di masa depan, kita hanya bisa menceritakan kepada anak cucu bahwa dulu di Sinam ada sebuah masa di mana bambu-bambu “berbicara” melalui tangan para perajinnya.
Menghidupkan kembali Sinam bukan sekadar urusan ekonomi, melainkan upaya menjaga identitas. Sebelum benar-benar tenggelam dalam arus modernisasi, mari kita tengok kembali Sinam. Karena dalam setiap anyamannya, ada keringat, sejarah, dan cinta untuk tanah Pemangkat dan Kab. Sambas.
(Aep05-PBMI)







