
Ilustrasi belanja di toko online kesehatan. Foto: shutterstock
JAKARTA – PORTALBMI.ID – Ekonom sekaligus Peneliti Center of Digital Economy and SMEs INDEF, Fadhila Maulida, menjelaskan berbagai tantangan UMKM di era digital saat ini. Untuk itu, para pelaku UMKM diminta untuk menyiapkan diri karena persaingan digital semakin ketat.
Selain itu, pelaku usaha yang mulai membangun website mandiri di tengah sorotan terhadap biaya platform digital dinilai menjadi momentum bagi UMKM untuk memperkuat kapasitas usaha. Penguatan kemampuan bisnis dinilai lebih penting dibanding sekadar mencari alternatif kanal penjualan.
Menurut Fadhila, digitalisasi UMKM yang selama ini didorong pemerintah patut diapresiasi karena berhasil membuka akses pelaku usaha masuk ke ekosistem digital. Namun, kemudahan akses tersebut belum sepenuhnya diiringi dengan peningkatan kualitas dan kesiapan bisnis.
“Jumlah UMKM yang masuk ke ekosistem digital meningkat signifikan. Tapi kemampuan untuk bersaing menjadi pertanyaan berikutnya, apakah UMKM sudah cukup siap? Faktanya masih banyak yang belum,” ujar Fadhila dalam keterangannya, Kamis (7/5).
Dia menjelaskan, kesiapan UMKM mencakup berbagai aspek, mulai dari strategi penetapan harga, kemampuan digital marketing, pengelolaan biaya usaha, hingga pemanfaatan data pelanggan untuk membaca perilaku pasar.
Selain itu, marketplace saat ini juga telah berkembang menjadi infrastruktur distribusi digital yang menyediakan layanan terintegrasi, mulai dari sistem pembayaran, logistik, proteksi transaksi, hingga mesin akuisisi pelanggan dalam skala besar.
“Pada akhirnya yang terjadi adalah kompetisi yang semakin tajam serta kapasitas UMKM yang masih perlu ditingkatkan,” kata dia.
Di sisi lain, pelaku usaha mulai melihat biaya marketplace sebagai bagian dari strategi distribusi bisnis. Pendiri brand perawatan tubuh Bonvie, Septio Sadikin, menilai biaya admin marketplace masih relatif kompetitif dibandingkan jalur distribusi lain.
“Di bisnis kami di industri personal care, kami menganggap biaya admin marketplace itu sebagai distribution cost. Justru di kategori distribution cost, saat ini marketplace salah satu yang paling murah,” ujar Septio dalam unggahannya di Threads @septiosadikin.
Ia membandingkan, masuk ke jaringan modern trade offline dapat memerlukan margin sebesar 25-42 persen, belum termasuk rebate, listing fee, dan kewajiban mengikuti program promosi tertentu. Sementara membuka toko sendiri juga membutuhkan biaya sewa, pegawai, dan operasional yang tidak sedikit.
Septio juga menilai pembangunan website mandiri tidak selalu menjadi solusi instan bagi semua pelaku usaha. Menurutnya, marketplace masih menjadi pilihan utama konsumen karena menawarkan kemudahan transaksi, logistik, dan perlindungan pembayaran dalam satu ekosistem.
“Marketplace nge-bundle semua, akses ke jutaan pembeli, sistem pembayaran, logistik, dan proteksi transaksi. Jadi kurang lebih 20 persen itu bukan cuma biaya platform, tapi distribution cost yang sudah all-in,” jelasnya.
INDEF menilai pengembangan ekonomi digital ke depan perlu diarahkan pada penciptaan ekosistem yang sehat dan berkelanjutan. Selain memperluas akses digital, penguatan kapasitas UMKM dinilai menjadi kunci agar pelaku usaha mampu bertahan dan berkembang di tengah perubahan lanskap bisnis digital yang semakin kompetitif.







