
Dosen Ilmu Politik FISIP UNTAN, Firdaus, S.IP., M.Sos. sebagai pemateri dengan tema “Menelusuri Jejak, Menguatkan Identitas Himapol”. FOTO: Firdaus06/portalbmi.id
PONTIANAK – PORTALBMI.ID – Penyampaian materi sejarah Himpunan Mahasiswa Ilmu Politik FISIP UNTAN berlangsung di Gedung Konferensi Universitas Tanjungpura, tepatnya di Ruang E-Learning 3, pada pukul 09.45–10.30 WIB.
Kegiatan tersebut menghadirkan akademisi sekaligus dosen Ilmu Politik FISIP UNTAN, Firdaus, S.IP., M.Sos. sebagai pemateri dengan tema “Menelusuri Jejak, Menguatkan Identitas Himapol”.

Acara dipandu oleh moderator Lidya Novita Paristy yang membuka sesi dengan memperkenalkan diri serta memantik diskusi melalui pertanyaan mengenai sejarah terbentuknya Himapol. Pertanyaan tersebut kemudian menjadi awal pembahasan perjalanan panjang organisasi mahasiswa Ilmu Politik di lingkungan FISIP UNTAN.
Dalam pemaparannya, Firdaus menjelaskan bahwa gagasan pembentukan Himapol lahir dari keresahan mahasiswa Ilmu Politik yang merasa kurang mendapatkan perhatian dibandingkan organisasi mahasiswa lainnya. Ia mengungkapkan bahwa sebelum resmi mendapatkan surat keputusan pada tahun 2009, perjuangan mendirikan Himapol dilakukan dengan penuh tantangan bersama rekan-rekannya.
Firdaus juga menceritakan bahwa inspirasi mendirikan Himapol muncul setelah dirinya membaca buku karya Efriza mengenai organisasi mahasiswa Ilmu Politik di Universitas Gadjah Mada. Dari sana lahir keinginan untuk membentuk wadah serupa di UNTAN. Bahkan, perjuangan tersebut dilakukan dengan menggunakan dana pribadi demi mewujudkan berdirinya Himapol.

Menurut Firdaus, perjuangan tersebut didasari prinsip “berani karena benar, takut karena salah”. Ia menilai keberanian menentang sistem yang dianggap tidak adil menjadi fondasi penting dalam membangun Himapol. Selain itu, ia juga menyampaikan rasa terima kasih kepada pihak FISIP yang tetap menerima kritik dan turut membesarkan dirinya selama berproses di dunia akademik maupun organisasi.
Dalam kesempatan itu, Firdaus turut membagikan perjalanan hidupnya semasa kuliah. Ia mengaku pernah memperoleh beasiswa pada tahun 2010 sebesar Rp2,5 juta per bulan. Saat menempuh pendidikan S2, dirinya aktif di berbagai organisasi, radio, dan kegiatan jurnalistik, termasuk di Himpunan Mahasiswa Islam.
Tidak hanya membahas sejarah, Firdaus juga mendorong Himapol agar terus berkembang dan memiliki kekuatan organisasi yang besar. Ia berharap Himapol mampu membentuk badan usaha milik organisasi sebagai langkah membangun kemandirian. Selain itu, ia juga memiliki rencana mendirikan sekolah politik sebagai upaya membuka lapangan pekerjaan bagi lulusan Ilmu Politik.
Di akhir materi, Firdaus menegaskan bahwa mahasiswa Ilmu Politik harus menjadi pribadi yang produktif. Menurutnya, lulusan Ilmu Politik tidak hanya memiliki peluang menjadi legislator, tetapi juga dapat berkarier sebagai analis politik, penyelenggara pemilu di KPU, hingga menjadi pebisnis. Ia menilai peluang dalam bidang Ilmu Politik sangat luas dan menjanjikan.
(Firdaus06-PBMI)








