
Gaya PM Jepang Sanae Takaichi pakai tas lokal saat melantik kabinetnya di Tokyo, Jepang, Selasa (21/10/2025). Foto: Dok, Kantor PM Jepang
JAKARTA – PORTALBMI.ID – Kementerian Pertahanan China memperingatkan Jepang akan mengalami kekalahan telak dari militer China jika berusaha menggunakan kekuatan untuk mengintervensi situasi di Taiwan.
Pernyataan Kementerian Pertahanan China ini menanggapi pernyataan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi yang mengatakan serangan China ke Taiwan dianggap sebagai situasi yang mengancam kelangsungan hidup dan dapat memicu tanggapan militer Jepang.
Juru bicara Kementerian Pertahanan China, Jiang Bin, mengatakan pernyataan Takaichi sangat tidak bertanggung jawab dan berbahaya.
“Jika pihak Jepang gagal mengambil pelajaran dari sejarah dan berani mengambil risiko atau bahkan menggunakan kekuatan untuk mengintervensi dalam masalah Taiwan, Jepang hanya akan kalah telak melawan Tentara Pembebasan Rakyat yang berkemauan keras dan akan menanggung risikonya,” kata Jiang dalam pernyataannya, dikutip dari Reuters, Jumat (14/11).
Pada Kamis (13/11) kemarin, Wakil Menteri Luar Negeri China Sun Weidong memanggil Duta Besar Jepang untuk China Kenji Kanasugi dan mengajukan protes keras atas pernyataan Takaichi.
Ini pertama kalinya Beijing memanggil duta besar Jepang dalam dua tahun terakhir. Pada Agustus 2023, Sun memanggil Hideo Tarumi yang saat itu menjabat duta besar atas keputusan Jepang membuang air limbah dari pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima Daiichi ke laut.
Sementara itu, media Jepang NTV melaporkan bahwa Kedutaan Besar China di Tokyo telah menginstruksikan stafnya tidak berpergian karena khawatir akan sentimen anti-China yang tengah meningkat.
China Minta PM Jepang Sanae Takaichi Tarik Pernyataannya soal Taiwan
Kementerian Luar Negeri China mendesak Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menarik pernyataannya soal Taiwan. China memperingatkan Jepang akan menanggung konsekuensinya jika pernyataan itu tak segera dicabut.
Dalam konferensi pers di Beijing pada Kamis (13/11), juru bicara Kemlu China Lin Jian menyatakan pernyataan Takaichi merupakan campur tangan kasar atas urusan dalam negeri China dan menjadi pukulan berat bagi hubungan bilateral kedua negara.

“Jika Jepang berani melakukan intervensi militer di Selat Taiwan, itu akan menjadi tindakan agres, dan China akan membalas dengan tegas,” kata Lin, dikutip dari Reuters, Jumat (14/11).
Sejumlah media pemerintah China juga mengkritik pernyataan Takaichi. TV pemerintah, CCTV, menyebut Takaichi pembuat onar dan memperingatkan dia harus bertanggung jawab jika terus menyebarkan omong kosong tanpa batas.
Sementara surat kabar People’s Daily menyebut Jepang tengah berusaha menghidupkan kembali militerisme masa depang lewat pernyataan Takaichi.
“Dalam beberapa tahun terakhir, Jepang telah melesat di jalur pembangunan militer,” kata People’s Daily.
“Dari kunjungan rutin ke Kuil Yasukuni, menyangkal Pembantaian Nanjing, hingga dengan gencar menggemborkan ‘teori ancaman China’, setiap langkah Takaichi mengikuti jejak lama rasa bersalah historis, berusaha menutupi sejarah agresi dan menghidupkan kembali militerisme,” lanjut surat kabar itu.
Jepang Panggil Konjen China di Osaka yang Ancam Akan Penggal Kepala PM Takaichi
Sementara itu, Jepang telah memanggil Konjen China di Osaka, Xue Jian, atas unggahannya di media sosial yang mengancam akan memenggal kepala Takaichi. Menlu Jepang Toshimitsu Motegi menyayangkan unggahan Xue.

“Jepang akan terus mendesak pihak China untuk mengambil langkah yang tepat supaya ini tidak memengaruhi arah hubungan Jepang-China,” kata Motegi di sela pertemuan KTT G7 di Kanada.
Meski demikian, Motegi tidak menjawab saat ditanya apakah Xue harus diusir dari Jepang.








