
Kondisi Pelabuhan Tanjung Batu di Kecamatan Pemangkat, Kabupaten Sambas, kini kian memprihatinkan. FOTO: Aef05/portalbmi.id
SAMBAS – PORTALBMI.ID – Kondisi Pelabuhan Tanjung Batu di Kecamatan Pemangkat, Kabupaten Sambas, kini kian memprihatinkan. Sedimentasi atau pendangkalan yang semakin parah di area alur pelayaran dan kolam dermaga dilaporkan mulai melumpuhkan aktivitas bongkar muat dan distribusi logistik di wilayah tersebut.
Sejumlah pelaku usaha, nelayan dan nakhoda kapal mengeluhkan sulitnya kapal untuk bersandar, bahkan kapal kecil sekalipun. Jika dipaksakan, risiko kapal kandas sangat tinggi, terutama saat kondisi air laut sedang surut.

Pendangkalan yang Kian Masif
Pelabuhan Tanjung Batu Pemangkat merupakan salah satu urat nadi penting bagi perekonomian Sambas, khususnya Kecamatan Pemangkat terutma bagi nelayan, sembako dan angkutan penumpang. Berdasarkan pantauan di lapangan, tumpukan lumpur telah mengurangi kedalaman air secara signifikan.
Jika beberapa tahun lalu kapal dengan ukurang menengah masih bisa masuk, sekarang kapal kecil pun tidak bisa leluasa masuk ke dermaga, harus menunggu air pasang terlebih dahulu. “Kami harus menunggu berjam jam, menunggu air pasang besar dan menunggu keluar masuk kapal karena alurnya menjadi mengecil sementara jumlah kapal banyak. Ini sangat membuang waktu dan menambah biaya operasional logistik,” keluh Angah salah satu nelayan.

Seorang penumpang Kapal Pak Andah, mengeluhkan jika harus hendak menyebrang dari Tanjung Batu ke Kalang Bau atau sebaliknya harus berjalan ke ujung dermaga dengan membawa sepeda motor dengan kondisi dermaga yang juga sangat memperihatinkan.
“Jika air surut, dasar sungai atau alur pelabuhan terlihat sangat jelas dan kapal penumpang termasuk nelayan harus menunggu pasang air laut atau kapal berjalan perlahan agar tidak kandas. Kami juga harus berjalan ke ujung dermaga, sambil membawa motor dengan kondisi dermaga yang rusak dan kami harus berhati hati, ujar Pak Andah.
Harapan Kepada Pemerintah
Masyarakat, nelayan dan pengusaha berharap Pemerintah Kabupaten Sambas maupun Pemerintah Pusat melalui Kementerian Perhubungan segera turun tangan. Pengerukan (dredging) atau pun penyedotan sedimentasi lumpur harus segera dilakukan, sebagai solusi tunggal yang tidak bisa ditunda lagi.

“Sudah bertahun-tahun tidak ada pengerukan besar-besaran. Kalau dibiarkan, pelabuhan ini bisa mati perlahan, nelayan dan kapal penumpang serta logistik bisa berhenti beroperasi. Dangkalnya pelabuhan dan sungai juga menjadi salah satu penyebab banjir di Kota Pemangkat” ujar seorang tokoh masyarakat Pemangkat.
Hingga berita ini diturunkan, warga berharap adanya penganggaran khusus di tahun 2026 ini untuk revitalisasi alur pelayaran agar denyut nadi ekonomi di Kabupaten paling utara Kalimantan Barat ini kembali normal.
(Aef05-PBMI)








