
Aksi ini menjadi langkah awal warga memetakan faktor utama penyebab banjir dan potensi longsor di sepanjang aliran sungai. FOTO: Henny06/PORTALBMI.ID
CIPUTAT – PORTALBMI.ID – Forum Potensi Tangsel bersama Forum Peduli Sungai Ciputat (FPSC) menggelar aksi Susur Sungai Ciputat pada Minggu (31/5).
Aksi ini menjadi langkah awal warga memetakan faktor utama penyebab banjir dan potensi longsor di sepanjang aliran sungai.
Bencana musiman ini melintasi tiga wilayah kecamatan, yaitu Pamulang, Ciputat, dan Ciputat Timur.
Kondisi Banjir MencemaskanKetua FPSC, Ahmad Mutaqin, menyatakan bahwa banjir di kawasan ini sudah berada pada tahap yang mencemaskan warga. Luapan air kini tidak hanya terjadi saat curah hujan tinggi dalam durasi lama.

Pemukiman warga mulai tergenang bahkan saat intensitas hujan cenderung ringan.
Sebanyak empat perumahan tercatat menjadi titik terdampak banjir paling parah. Wilayah tersebut meliputi Kompleks Perumahan Payung Mas, Asrama Polisi Udara, Perumahan Pondok Hijau, dan Perumahan Inhutani.
“Sebagai bagian dari masyarakat terdampak dan korban di bantaran sungai, kami merasa perlu ada perhatian mendalam. Kondisi banjir di berbagai wilayah Tangsel, terutama aliran Sungai Ciputat, kini makin masif,” ujar Ahmad Mutaqin.
Bergerak Mandiri Tanpa MenyalahkanKeresahan ini direspons cepat oleh FPSC yang baru resmi terbentuk pada 10 Mei 2026. Persiapan logistik dan teknis dilakukan secara maraton selama 21 hari hingga aksi nyata susur sungai perdana ini berhasil terlaksana.
Rute penyusuran tahap pertama mengambil etape dari kawasan Universitas Terbuka hingga berakhir di area Graha Hijau.
Koordinator Forum Potensi Tangsel sekaligus inisiator kegiatan, Dudi Iskandar, memberikan apresiasi tinggi atas sinergi seluruh pihak.

Menurutnya, aksi ini menjadi bukti kepedulian nyata masyarakat terhadap kelestarian lingkungan.
“Harapannya, melalui aksi mandiri masyarakat dan relawan ini, kita dapat mengetahui serta memahami apa yang menyebabkan terjadinya banjir di aliran Sungai Ciputat tanpa harus menyalahkan pemerintah,” tegas Dudi.
Ratusan Relawan Lintas SektorAksi lingkungan ini mendapatkan respons dan dukungan masif. Sebanyak 210 peserta dan 10 unit ambulans dikerahkan langsung untuk mengawal kelancaran kegiatan di lapangan.
Peserta terdiri dari warga sekitar, Karang Taruna dari empat perumahan terdampak, serta puluhan lembaga, NGO, dan organisasi mahasiswa pencinta alam (Mapala).
Beberapa unsur yang terlibat antara lain:

Komunitas & Lembaga: Potensi Tangsel, DRTB Baznas Tangsel, Semut Tangsel, Sahabat Yatim, OI Crisis Center, dan LKBHMI Ciputat.
Organisasi Pencinta Alam (KPA):
KPA Arkadia UIN Jakarta, KPA Whidarsa Stikes Pamulang, KPA Archa Buana Unpam, KPA Wanatel STIE Ganesha, Pattupala 95, dan Kelana Mahestri.
Akademisi:
Civitas akademika dan alumni UIN Jakarta, Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), dan STIE Ganesha.
Aparat & Kebencanaan: Personel Polisi Udara, Satpol PP, dan BPBD Kota Tangerang Selatan.
Untuk memaksimalkan pemantauan, ratusan partisipan dibagi ke dalam beberapa divisi khusus.
Panitia membentuk Tim Medis, Tim Logistik, 5 tim susur sungai, serta 5 tim darat yang bertugas melakukan assessment langsung kepada warga.
Melalui pembagian tugas ini, data mengenai sumbatan sampah, pendangkalan, maupun kerusakan tanggul sungai dapat dipetakan secara akurat demi merumuskan solusi penanganan banjir ke depan.
(Henny06-PBMI)







