
Bambang Hermansyah Alumni Magister Ilmu Politik Universitas Indonesia Dosen, Peneliti dan Sekretaris LPPM UIC Urrang Sambas
SAMBAS – PORTALBMI.ID – Amerika Serikat (AS) yang juga mewakili Eropa yang selanjutnya kita sebut Barat telah memimpin, menghegemoni, mendominasi dan menjadi negara adi daya yang sudah berlangsung kurang lebih 81 tahun lamanya sejak berakhirnya Perang Dunia II tahun 1945.
Terlebih ketika Uni Soviet runtuh tahun 1991, membuat AS menjadi “pemain tunggal” yang mendominasi dunia dalam bidang politik, pertahanan, keamanan, keuangan, teknologi, informasi, ekonomi singkat kata barometer kemajuan dan modernisasi termasuk kebenaran ada pada AS. Namun sejak 1987 perlahan tapi pasti AS memiliki pesaing, kalau bukan atau belum menjadi pemenang global minimal sebagai penyeimbang dunia, siapa lagi kalau bukan China.
Hanya dalam waktu hampir 40 tahun, China berhasil menjadi negara yang mampu “berlari” mengejar ketertinggalannya dengan AS. Bayangkan tahun 1990, jalan – jalan besar di Beijing masih jarang ada lampu, Shanghai hanya ada Sepeda dan beberapa mobil dan bus tua.
Sekarang China memimpin produksi listrik lengkap dengan kecanggihannya, BYD bersaing dengan Tesla, Xiomi dan Huawei teknologinya hampir sama dengan Apple dan Samsung, namun harganya jauh lebih murah. Kemajuan infrastruktur, manufaktur dan teknologinya tidak hanya dirasakan di negara China saja, tetapi sudah diekspor menyebar kebanyak negara, melintasi benua, bahkan benda sekecil peniti saja semua made in China.
Jika anda ke Tanah Suci Mekkah dan Madinah, baju muslim laki- laki dan perempuan, sajadah, kopiah dan banyak lagi lainnya adalah produk China. Seperti fitrahnya, ketika suatu negara yang kaya, yang sudah selesai dengan urusan dalam negerinya, yang mampu memenuhi kebutuhan hidup rakyatnya, memiliki kelebihan produksi, tenaga kerja berlimpah, menghasilkan kemajuan teknologi informasi, harga barang yang murah maka negara tersebut akan melebarkan sayapnya, melakukan ekspansi dan ekspor bahkan mampu masuk lebih dalam ikut mempengaruhi kestabilan ekonomi dan politik atau melakukan hegemoni, dominasi bahkan paksaan ke suatu negara.
Saat ini hanya dua aktor utama di dunia yang sedang menjalankan takdir dan fitrahnya tersebut yaitu AS dan China. Jika kita kaji lebih dalam ada perbedan pendekatan kedua raksasa dunia “mengetuk pintu” negara mitra, pendekatan tersebut sangat kontras, seperti seorang guru moral versus seorang kontraktor bangunan.
Gaya AS: Nilai-Nilai dan Militer
Pendekatan AS selama ini banyak membuat banyak negara jalan di tempat, didikte dalam pemerintahan dan kebijakan, diberikan bantuan finansial namun dengan tumpukan syarat yang rumit dan mencekik, mulai reformasi politik, isu hak asasi manusia, hingga tuntutan penghematan anggaran. Washington membungkus hubungan dengan negara – negara dunia dengan narasi besar tentang nilai-nilai barat: demokrasi, hak asasi manusia, tata kelola pemerintahan yang baik (good governance), dan pemberantasan korupsi.
Melalui berbagai macam program kerja sama atau bantuan kemanusiaan seperti USAID, AS memposisikan diri sebagai mitra yang ingin memperbaiki sistem dari dalam. Bantuan yang datang dari Barat selalu disertai “catatan kaki” berupa syarat-syarat politik yang ketat. Ketika sebuah negara dinilai mengalami kemunduran demokrasi, mencederai HAM, AS tidak segan-segan menjatuhkan sanksi atau memutus bantuan bahkan tanpa pikir panjang dengan menurunkan pasukan militer.
Pendekatan ini tidak lagi berlaku dibanyak negara, banyak negara menolaknya, Amerika sudah ketahuan “belangnya” oleh dunia. Sebagai anti tesis, China sebagai negara yang mendekati menjadi negara Adi Daya masuk ke negara mitra memainkannya dengan gaya yang berbeda, dalam senyap perlahan tapi pasti mereka masuk dan menusuk. Membuat AS kaget. Gaya China ini banyak disukai oleh pemimpin dan rakyat dibanyak negara seperti Afrika, Asia, Timur Tengah bahkan Eropa.
Gaya China: Tetap Komunis tapi Borjuis
China secara politik dan ideologi adalah komunis namun pendekatan ekonominya kebanyak negara adalah dengan gaya ekonomi ala borjuis, membawa modal, datang dengan pendekatan yang murni bisnis dan infrastruktur serta mendekati pejabat dan birokrasi khususnya untuk perizinan. Konglomerat terkaya Afrika, Aliko Dangote, sempat menyentil fenomena ini.
Ia menggambarkan bahwa ketika institusi Barat meminta komitmen finansial di muka yang berat untuk sebuah proyek industri, China justru datang menawarkan pembiayaan jangka panjang dengan syarat awal yang jauh lebih longgar. China tidak peduli apakah sebuah negara dipimpin oleh seorang demokrat atau diktator, yang mereka peduli adalah bisnis. Mereka mendapatkan infrastruktur fisik yang nyata tanpa perlu dikhotbahi soal pemilu yang bersih. Beijing tidak (atau mungkin belum) menjual ideologi, mereka menjual solusi fisik, cuan.
China telah melakukan apa yang gagal atau enggan dilakukan oleh AS selama bertahun-tahun namun dibutuhkan oleh banyak negara, yaitu pembangunan ekonomi dan infrastruktur skala masif. Melalui inisiatif Belt and Road Initiative (BRI), di mana pun anda berdiri saat ini mulai dari negara – negara Afrika, Asia, Timur Tengah bahkan Eropa jika ada pembangunan mulai dari pelabuhan, kereta cepat, gedung-gedung pemerintahan, pusat komersil, Hp yang ada di tangan anda, mobil di jalanan, pembangkit listrik bahkan jarum pentul sekalipun dapat dipastikan ada jejak kapital, teknologi, dan pengaruh Negeri Tirai Bambu yang nyaris mustahil untuk dilewatkan.
Langkah agresif Beijing yang memberlakukan kebijakan nol tarif (tarif 0%) bagi komoditas ekspor dari berbagai negara dunia semakin mempertegas posisi China yang tampil beda dengan AS tapi tetap efektif. Bagi banyak pemimpin dunia, tawaran China saat ini (belum tau nanti) sangat menggiurkan karena mengusung prinsip non-interference (tanpa campur tangan urusan domestik). Berbeda dengan bantuan Barat yang sering kali menuntut reformasi politik atau standar hak asasi manusia tertentu.
Insentif Diplomatik di Panggung Global
Perbedaan gaya kedua negara besar ini bisa dirangkum dalam kalimat singkat: AS menjual Nilai sementara China memberi Cuan.
Ketika kita berkendara di atas jalan tol modern yang membelah Kenya atau naik kereta cepat di Indonesia, kita melihat logo perusahaan China. Sementara itu, kehadiran AS lebih sering terasa di ruang-ruang seminar, program beasiswa, atau pusat bantuan kemanusian.
Namun masyarakat dunia saat ini membutuhkan: barang ada, harga murah, mobilitas lancar dan lapangan kerja tersedia. Gaya China lebih tepat dan dibutuhkan dunia saat ini, daripada janji demokrasi, nilai – nilai dan militer ala AS.
Beda gaya antara Amerika dan China ini menjadi tantangan langsung terhadap hegemoni AS di panggung global. Dengan menabur uang di banyak negara, China tidak hanya diuntungkan secara ekonomi terutama dalam dua hal vital, yaitu sumber daya alam, pasar dan tempat tinggal baru bagi produk-produk industrinya serta tempat tinggal baru bagi penduduk China yang mengalami over populasi. Dengan gaya komunis – borjuis ini, China sekaligus mendapatkan insentif diplomatik di panggung global.
China berhasil memperkuat legitimasinya dengan mendapatkan dan mengamankan dukungan dalam isu-isu global, mulai dari Taiwan hingga Laut China Selatan termasuk persoalan dunia lainnya seperti Timur Tengah dan Ukraina. Dengan demikian AS bukan lagi pemain tunggal dunia, China berhasil membentuk tata dunia multipolar namun tetap menguntungkan China.
Amerika dan Eropa kini mendapat lawan yang sepadan. Banyak negara tidak lagi mau dipaksa memilih antara Washington atau Beijing, sebaliknya, mereka menerapkan strategi multipolar: mengambil bantuan infrastruktur dari China, disaat bersamaan mereka memanfaatkan akses pasar dan bantuan kemanusian dari AS.
Jika AS tidak mau kehilangan pengaruhnya, AS harus mengubah “cara mainnya”, AS dan negara Barat secara keseluruhan harus berhenti berceramah dan mengeintervensi dalam negeri negara mitra dan mulai berinvestasi pada proyek-proyek riil yang berdampak langsung pada ekonomi masyarakat lokal.
Sementara bagi China, tantangan terbesar mereka adalah memastikan bahwa proyek-proyek mereka berkelanjutan, tidak merusak lingkungan, dan benar-benar menyerap tenaga kerja dan produk lokal, bukan hanya membawa buruh dan produk dari China.
Pada akhirnya, siapa pun yang ingin memenangkan hati negara mitra apakah itu Amerika dengan demokrasinya atau China dengan cuannya harus memperlakukan negara mitra yang setara, bukan lagi sebagai halaman belakang tempat berebut pengaruh.
Indonesia? Harus cerdas memainkan peran geopolitik dan geoekonominya salah satunya dengan memberesakan masalah – masalah dalam negeri dengan tidak sering – sering bepergian ke luar negeri. Bukankah negara yang kuat itu yang “didatangi” bukan “mendatangi”?
(Aef05-PBMI)







