
Dewi Nuraini Setyowati Ketua Salimah PSLN Taiwan (dua dari kiri) menyerahkan buku antologi kepada Arif Sulistiyo, kepala KDEI Taipei meresmikan penerbitan buku antologi Salimah dalam rangka milad ke-13. (Sumber Foto : Salimah).
TAIPEI – PORTALBMI.ID – Salimah (Persaudaraan Muslimah) Taiwan rayakan hari jadinya yang ke-13 dengan mengadakan kegiatan talkshow kesehatan mental dan menerbitkan buku yang berisi kumpulan karya dari 19 penulis. Kegiatan yang diadakan pada Minggu (26/7) ini dihadiri 140 lebih peserta dan pengurus aktif, ujar Dewi Nuraini Setyowati Ketua Salimah, Perwakilan Salimah Luar Negeri (PSLN) Taiwan.
Kegiatan talkshow kesehatan mental yang bertajuk “Merawat Hati, Menguatkan Peran: Kesehatan Mental Untuk Peradaban” menarik minat beragam latar belakang warga negara Indonesia (WNI) yang turut hadir. Dewi mengatakan, para peserta tersebut terdiri dari pekerja migran Indonesia (PMI), profesional, mahasiswa serta para istri pendamping suami yang sedang bertugas di Taiwan.
Dewi menuturkan, alasan diselenggarakannya talkshow tersebut karena mengangkat dari kegiatan rutin Salimah, yaitu program Salimah Mendengar.
“Kita memberikan kesempatan bagi semuanya yang punya permasalahan untuk difasilitasi dalam program tersebut. Hasilnya banyak yang tertarik, maka dari hasil rapat kita mengadakan kegiatan tentang talk show kesehatan mental.” Ujar Dewi.

Selain talkshow, Dewi menambahkan, kegiatan lainnya yang juga turut diadakan seperti Salimah award, dengan memberikan penghargaan bagi peserta paling aktif yang mengikuti kegiatan Salimah secara online maupun offline. Ada juga penghargaan untuk peserta aktif bagi anak-anak belajar mengaji, dan juga penghargaan bagi peserta aktif lainnya dari gerakan mengaji bagi muslimah di tiga titik seperti Keelung, Taipei dan Tainan.
Kegiatan talkshow ini menghadirkan tiga pembicara anatara lain, Heni Sri Sundani purna PMI Hongkong seorang aktivis pemberdayaan pendidikan, Ajeng Nova Dumpratiwi seorang psikolog dosen UMS dan mahasiswa doktoral dari NYCU Taiwan, dan Agustina Setyaningsih, analis Kantor Dagang dan Ekonomi (KDEI) Taipei.
Pada acara ini, Salimah juga secara resmi menerbitkan buku antologi gabungan cerita pendek dari 19 penulis, dan memberikan 2 penghargaan untuk penulis terbaik.
Dewi mengungkapkan, kegiatan Salimah sendiri ada yang online seperti kelas Bahasa Mandarin setiap Selasa malam, berbagi ilmu seperti keagamaan atau wawasan kontemporer pada Sabtu malam dan kegiatan offline lainnya yaitu kegiatan anak-anak mengaji beserta ibu-ibunya, di Tainan maupun Taipei.
Sementara itu, Agustina Setyaningsih, analis KDEI Taipei yang akrab disapa Tina, pada kesempatan tersebut ia menyampaikan jumlah WNI di Taiwan mencapai 391.899 orang per Desember 2025, dengan sekitar 70 persen didominasi perempuan, serta permasalahan yang saat ini ditangani KDEI semakin banyak berkaitan dengan persoalan pribadi, keluarga, dan kesehatan mental dibandingkan persoalan ketenagakerjaan.
Berdasarkan data penelitian Taipei Medical University tahun 2023, terhadap 1.031 pekerja migran Indonesia di Taiwan, menemukan sekitar 15 persen mengalami gejala depresi. Sementara, skrining kesehatan mental yang dilakukan Fakultas Ilmu Keperawatan UI di Taipei, Taichung, pada 126 PMI peserta pemeriksa kesehatan gratis tahun 2026 menunjukkan 88,9 persen memiliki depresi dalam berbagai tingkat.
Oleh karena itu, diperlukan penguatan sinergi antara pemerintah dan organisasi masyarakat dalam upaya pencegahan serta pendampingan WNI di Taiwan.

Tina dalam pemaparannya juga menjelaskan bahwa kesehatan mental merupakan bagian penting dari upaya pelindungan PMI di Taiwan. Tekanan psikologis yang paling sering dialami PMI berasal dari beban kerja, perasaan rindu rumah, dan gegar budaya. Termasuk persoalan keluarga lintas negara, serta keterbatasan dukungan sosial dan hambatan bahasa. Selain itu, peserta diberikan pemahaman mengenai gejala awal gangguan kesehatan mental pada aspek fisik, emosional, kognitif, dan perilaku sebagai langkah deteksi dini untuk mencegah berkembangnya gangguan psikologis yang lebih serius.
Tina mengimbau bagi PMI yang mempunyai masalah kesehatan mental di Taiwan, untuk menghubungi layanan psikolog dan psikiater melalui rumah sakit, pemanfaatan National Health Insurance (NHI), Hotline 1955, Hotline 1925, layanan darurat 119 dan 110, serta dukungan komunitas Indonesia sebagai support system.
Selain itu dijelaskan pula peran KDEI Taipei dalam edukasi, koordinasi penanganan kasus, rujukan medis, hingga pendampingan pemulangan PMI apabila kondisi kesehatannya tidak lagi memungkinkan untuk bekerja. Serta, hotline resmi KDEI terkait masalah ketenagakerjaan antara lain: 886 982 690 962, +886 966 536 082, +886 910 906 142, dan + 886 970 984 414. Serta hotline PWNI antara lain: +886 901 132 000, +886 987 587 000.
Salah satu peserta, Sopikah, PMI yang bekerja di Taipei menuturkan, meskipun acara Salimah pada tahun ini berbeda, tidak seperti 2 tahun lalu yang mengundang artis Indonesia, Dewi Sandra, tetapi ia tetap mengapresiasi kegiatan tersebut karena sangat banyak PMI yang membutuhkan talkshow tentang kesehatan mental.
“Sebagai PMI saya sendiri merasakan banyaknya rekan-rekan yang mengalami stres dan depresi karena pekerjaan, jadi acara ini sangat membantu sekali untuk memulihkan kesehatan mereka. Untuk saya pribadi saya sangat terharu sekali dengan adanya program unggulan Salimah yaitu Salimah mendengar. Program konsultasi secara gratis untuk semua WNI di Taiwan,” ujar Sopikah yang sudah 15 tahun bekerja di Taiwan ini.
(Red-PBMI)








