
(Sumber Foto : Kementerian Ketenagakerjaan Taiwan)
TAIPEI – PORTALBMI.ID – Sebanyak 35 pekerja teknis profesional dari Indonesia tiba di Taiwan pada Senin (14/9) untuk bekerja di sektor perhotelan, menandai pertama kalinya Taiwan membuka sektor tersebut bagi pekerja asing.
Para pekerja tersebut tiba di Bandara Internasional Taoyuan pada Senin pagi dan disambut oleh pejabat Kementerian Ketenagakerjaan (MOL) Taiwan, Kantor Dagang dan Ekonomi Taipei (KDEI) Taipei, serta manajemen hotel tempat mereka akan bekerja.
Kepala KDEI Taipei Arif Sulistyo mengatakan kedatangan para pekerja tersebut merupakan momen istimewa dan bersejarah bagi penempatan tenaga kerja Indonesia di Taiwan.
“Ini pertama kalinya Taiwan membuka sektor perhotelan untuk pekerja migran, dan luar biasanya, kesempatan pertama itu diberikan kepada Pekerja Migran Indonesia (PMI),” ujarnya.
Selain itu, Arif menambahkan, program ini juga dirasa sejalan dengan program “SMK Go Global” di Indonesia yang menargetkan pelatihan serta penempatan 500.000 tenaga kerja tingkat menengah dan menengah-atas ke luar negeri dalam kurun waktu empat tahun.
Sebelumnya, Regent Taipei telah menerima persetujuan dari pemerintah untuk mempekerjakan 37 pekerja asal Indonesia, namun dua calon pekerja terpaksa menunda keberangkatan karena tidak lolos pemeriksaan kesehatan dan dijadwalkan berangkat pada gelombang berikutnya, ujar Arif.
Pejabat Kementerian Ketenagakerjaan yang turut hadir dalam penjemputan, Huang Wei-cheng (黃偉誠) juga menyampaikan bahwa program ini merupakan buah dari kebijakan “Skema Penyempurnaan Tenaga Kerja Lintas Batas” yang digulirkan pemerintah Taiwan, dan para pekerja profesional gelombang perdana ini ditempatkan di Hotel Regent Taipei.

“Mereka akan mengisi posisi teknis penting seperti resepsionis, tata graha, dan kebersihan. Berbeda dari pekerja migran biasa, mereka direkrut melalui jalur khusus yang mensyaratkan latar belakang pendidikan, keahlian, dan komitmen penguasaan bahasa,” jelasnya.
Bagi alumni magang perhotelan di Taiwan kesempatan ini menjadi babak baru yang menjanjikan, seperti Martin Lawrence (19) asal Medan dan I Nyoman Miyoga (23) asal Bali.
Setelah pembekalan awal di ruang Foreign Worker Arrival Service Center, Martin menuturkan bahwa pengalaman magang sebelumnya membuat proses adaptasi terasa lebih mulus.
“Suasana kerja di sini sangat nyaman, meski tantangan terbesar tetap ada pada peningkatan kemampuan bahasa Mandarin,” kata Martin.
Senada, Miyoga yang akrab disapa Yoga menilai bekerja di Taiwan bisa meningkatkan kemampuan, terutama Bahasa Mandarin, dan menjadi bekal ke depannya terutama di Indonesia, sehingga bisa bersaing secara internasional maupun nasional.
Group Director of Human Resources Regent Taipei, Jason Feng (馮昌俊), menyambut antusias kehadiran para tenaga kerja Indonesia tersebut dan berharap kerjasama panjang ini bisa memberikan peluang baru bagi pihaknya.
“Ini adalah pengalaman baru yang sangat positif. Mereka dulunya adalah peserta magang yang sangat berprestasi, dan kini kembali sebagai karyawan tetap dengan standar pelatihan profesional penuh dari kami,” kata Feng.
(Red-PBMI)








