
DENPASAR, BALI – PORTALBMI.ID – Antrean panjang bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Bali masih menjadi persoalan serius. Hingga Rabu (14/10/2026), gangguan pasokan BBM belum sepenuhnya teratasi dan berdampak pada kelancaran lalu lintas serta aktivitas masyarakat.
Situasi ini menambah beban mobilitas warga di tengah padatnya aktivitas harian Bali. Pengendara harus menghadapi antrean untuk mendapatkan bahan bakar, sementara kepadatan kendaraan di sejumlah ruas jalan membuat perjalanan berpotensi memakan waktu lebih lama.
Antrean BBM Meluas, Kemacetan Jadi Sorotan persoalan antrean BBM dilaporkan terjadi di berbagai wilayah, termasuk Denpasar dan Kabupaten Badung. Sejumlah SPBU di kawasan Mengwi, Dalung, Abiansemal, hingga wilayah selatan Badung sebelumnya juga dilaporkan mengalami antrean panjang.

Pada Rabu pagi, antrean masih dilaporkan terjadi di sejumlah titik Denpasar, antara lain kawasan Gatot Subroto Tengah, Ubung, Ahmad Yani Utara, Gatot Subroto Timur, dan Tohpati. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pemulihan distribusi BBM masih menjadi pekerjaan yang perlu segera dituntaskan.
Situasi ini tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan bahan bakar, tetapi juga berpotensi mengganggu kelancaran perjalanan masyarakat, kegiatan usaha, distribusi barang, serta mobilitas pekerja dan pelaku pariwisata.
Bagi Bali yang sangat bergantung pada kelancaran transportasi, gangguan BBM dapat menimbulkan efek berantai apabila berlangsung berkepanjangan.
Distribusi BBM Belum Pulih MerataGangguan pasokan menjadi salah satu faktor yang disoroti dalam persoalan ini. Sebelumnya, Pertamina menjelaskan adanya keterlambatan pasokan Pertalite. Perusahaan juga menyampaikan langkah penguatan suplai untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Pada 13 Oktober, Pertamina Patra Niaga dilaporkan memperkuat pasokan BBM ke Bali melalui pengiriman bertahap dengan volume yang diberitakan mencapai lebih dari 26.000 kiloliter, termasuk Pertalite dan Pertamax.
Namun, penambahan pasokan tidak serta-merta berarti kondisi di seluruh SPBU telah kembali normal. Distribusi ke masing-masing lokasi, ketersediaan stok, dan tingginya permintaan tetap menjadi faktor yang perlu diperhatikan.
Dampak Tidak Berhenti pada Antrean di SPBUBagi masyarakat, persoalan ini berarti waktu yang seharusnya digunakan untuk bekerja, menjalankan usaha, atau mengurus kebutuhan keluarga dapat tersita untuk mencari dan mengisi BBM.
Sektor usaha yang mengandalkan kendaraan juga berpotensi terdampak. Pengiriman barang, layanan transportasi, operasional usaha kecil, hingga perjalanan wisata dapat mengalami keterlambatan apabila antrean dan kemacetan terus berlangsung.
Dalam jangka lebih panjang, gangguan mobilitas dapat menambah biaya operasional dan menekan produktivitas. Karena itu, penyelesaian persoalan BBM perlu dilihat tidak hanya dari jumlah pasokan yang masuk, tetapi juga dari seberapa cepat bahan bakar tersedia kembali bagi masyarakat di berbagai wilayah.

Pemerintah dan Pertamina Diharapkan Memastikan PemulihanGubernur Bali Wayan Koster sebelumnya membahas langkah penanganan antrean BBM bersama Pertamina. Pada 13 Oktober, ia menyampaikan bahwa rencana penerapan bekerja dari rumah (WFH) dan pembelajaran daring dibatalkan setelah disiapkan skema penanganan untuk mengatasi antrean.
Meski demikian, masyarakat tetap membutuhkan kepastian bahwa distribusi berjalan efektif dan pelayanan di SPBU berangsur normal.Percepatan distribusi, informasi stok yang transparan, serta koordinasi pengaturan lalu lintas di titik antrean menjadi langkah penting agar persoalan tidak terus mengganggu aktivitas masyarakat.
Masyarakat juga diimbau membeli BBM sesuai kebutuhan dan tidak melakukan pembelian berlebihan karena kekhawatiran kehabisan stok dapat meningkatkan tekanan permintaan secara bersamaan.
Pemulihan pasokan BBM perlu diukur dari kondisi nyata di lapangan: apakah antrean mulai berkurang, apakah SPBU kembali melayani masyarakat secara normal, dan apakah kemacetan akibat antrean semakin terkendali.
Bali membutuhkan distribusi energi yang andal agar aktivitas warga, roda usaha, dan sektor pariwisata dapat kembali berjalan tanpa gangguan berkepanjangan.
(Ayu05-PBMI)








