
PMI di Taiwan mengikuti lokakarya pelatihan pemandu wisata pada Sabtu. (Sumber Foto : Mila Widya Sari, 1 November 2025)
TAIPEI – PORTALBMI.ID – Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) Taipei mengadakan dua kegiatan sekaligus pada awal November, yakni pelatihan pemandu wisata pada Sabtu (1/11) dan sosialisasi rumah bersubsidi bagi pekerja migran Indonesia (PMI) pada Minggu.
Kegiatan pelatihan pemandu wisata
Pelatihan pemandu wisata bagi PMI diselenggarakan selama dua hari oleh KDEI Taipei. Hari pertama digelar pada Sabtu di kantor KDEI lantai 1 mulai pukul 09.00 hingga 17.00, sedangkan hari kedua berlangsung di lokasi dekat Taipei Main Station pukul 09.00 hingga11.30, dilanjutkan dengan praktik lapangan di Chiang Kai-shek Memorial Hall pukul 11.30 hingga 12.20.
Menurut Kadir, analis bidang ketenagakerjaan KDEI, kegiatan ini diikuti oleh sekitar 50 peserta.
Kegiatan ini menghadirkan empat pembicara, yaitu Ruth Evelin Pasaribu, Kepala Bidang Pariwisata dan Perhubungan KDEI Taipei; Kao Ching Pin, pramuwisata dan pemandu wisata bersertifikat dari Taiwan; Matius Tinna Sarira, pengajar Pariwisata Nusa Dua Bali; serta Win Wu Yan Hong (Winter Wu), pemandu wisata bersertifikat sekaligus figur publik asal Indonesia yang menetap di Taiwan.
Salah satu pembicara, Win Wu Yan Hong (Winter Wu) memberikan tips menjadi pemandu wisata dan hal-hal yang perlu dipersiapkan dan harus diketahui oleh para pemandu antara lain informasi cuaca, budaya, transportasi bahkan hukum di negara setempat.
Pemandu wisata keturunan Indonesia yang menetap di Taiwan ini turut membagikan kisah awal perjalanannya sebagai pemandu wisata. Ia menjelaskan bahwa ketika pertama kali datang ke Taiwan pada tahun 2010, proses sertifikasi pemandu wisata masih belum begitu ketat. Winter, yang juga berprofesi sebagai pengusaha di bidang konstruksi bangunan dan desain interior, kemudian memperoleh sertifikasinya pada tahun 2017.
Ia pun mengemukakan pengalaman uniknya saat menjadi pemandu wisata untuk rombongan Indonesia yang terjebak taifun di kaohsiung. Ada juga wisatawan yang nekat keluar sendiri saat badai, bahkan ada juga rombongan yang sakit harus dibawa ke rumah sakit.
Winter memberikan tips kepada PMI yang ingin menjadi pemandu wisata agar terlebih dahulu mengenali panggilan hatinya. Menurutnya, seseorang harus memiliki minat yang kuat di bidang tersebut, karena tanpa itu, pekerjaan ini dapat terasa berat akibat harus mengunjungi tempat yang sama berulang kali dan melayani berbagai jenis wisatawan.
“Yakinkan diri apakah bidang ini adalah kesukaan bukan paksaan. Bekerja di bidang jasa, kalau memberatkan, dan tidak menikmati akan tersirat dari ekspresi wajah. Padahal harus melayani dengan sopan dan senyum ramah. Jadi harus dipersiapkan mentalnya sebagai pemandu wisata,” ujarnya.
Selain itu, CNA juga menemui Mila Widya Sari, salah satu PMI yang menjadi peserta pelatihan tersebut. Menurut Mila, kegiatan tersebut sangat bermanfaat karena bisa mengerti materi dan ilmu bagaimana menjadi pemandu wisata.
“Acaranya seru karena selain diberi materi pelatihan bagaimana menjadi pemandu wisata yang baik, kami juga di beri pelatihan praktek menjadi seorang pemandu wisata. Setelah selesai kelas kami naik bus wisata ke taman Chang Kai-Sek, kami diajarkan bagaimana mengambil foto yang baik dengan tempat atau lokasi foto yang cocok untuk wisatawan,” ujarnya.

Kegiatan sosialisasi rumah bersubsidi bagi PMI
Pada Minggu (2/11) KDEI Taipei juga menyelenggarakan sosialisasi rumah bersubsidi bagi PMI yang bekerja sama dengan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI). Kegiatan tersebut berlangsung di ruang serbaguna Taipei Main Station lantai 6. Menurut Kadir, acara tersebut diikuti oleh 300 peserta.
Kegiatan yang dimulai pada siang hari pukul 1 hingga 5 sore tersebut menjabarkan mengenai rumah bersubsidi di Indonesia yang dapat dibeli oleh PMI. Berdasarkan presentasi dari perwakilan KP2MI, latar belakang mengenai program rumah bersubsidi tersebut dikarenakan banyak PMI yang bekerja di luar negeri, tetapi masih belum mempunyai rumah di Indonesia.
Perwakilan tersebut juga membagikan mengenai persyaratan pembelian rumah anatara lain belum pernah memiliki rumah, memiliki e-KTP, memiliki NPWP, memiliki urat pemberitahuan laporan pajak, melengkapi dokumen KPR bersubsidi, mendaftar melalui aplikasi Sistem Informasi KPR Subsidi Perumahan.
Kemudian disusul menyerahkan dokumen paspor dan visa kerja, surat penugasan atau perjanjian kerja, dokumen slip gaji, dan bukti melakukan pemberangkatan menjadi PMI minimal satu kali. Harga rumah berkisar Rp164 juta, dan Rp4 juta disubsidi oleh pemerintah. Jadi, PMI hanya membayarkan sekitar Rp1 juta lebih per bulan, sesuai dengan akad cicilan KPR yang akan ditentukan bersama.
Lukman, salah seorang PMI yang hadir dari Taoyuan mengatakan bahwa kegiatan tersebut sangat membantu PMI yang belum memiliki rumah. Sementara itu peserta lain yang bernama Anggun, pekerja pabrik di Taoyuan mengetakan bahwa kegiatan tersebut sangat menarik dan bermanfaat namun penjelasan intinya mengenai rumah bersubsidi kurang jelas dan hanya singkat saja.
“Sayangnya tidak ada penjelasan resikonya misalnya PMI kena musibah nanti kelanjutannya atau diwariskan pada siapa, karena tidak boleh disewakan atau dikosongkan, rumah tersebut harus dihuni. Padahal kami PMI sudah datang dari jauh, eh malah acara intinya cuma sebentar saja,” ujarnya.








