
SAMBAS – PORTALBMI.ID – Kita sering berpikir krisis iklim adalah berita yang hanya layak ditonton di televisi. Seolah-olah gelombang panas di Eropa tidak ada hubungannya dengan halaman rumah kita. Padahal, bumi tidak mengenal batas negara. Ia adalah satu sistem kehidupan yang saling terhubung.
Hari-hari ini, sebagian wilayah Eropa dilanda gelombang panas ekstrem. Suhu menembus lebih dari 40°C, memicu kebakaran hutan, mengganggu aktivitas masyarakat, menekan layanan kesehatan, hingga menyebabkan korban jiwa. Para ilmuwan menilai peristiwa seperti ini kini jauh lebih mungkin terjadi akibat perubahan iklim yang dipicu aktivitas manusia. Ini bukan sekadar cuaca yang sedang “marah”. Ini adalah alarm. Alarm bahwa bumi mulai kelelahan.
Ironisnya, manusia adalah makhluk yang paling bergantung pada alam, tetapi sering kali menjadi pihak yang paling giat merusaknya. Kita menebang pohon lebih cepat daripada menanamnya. Kita mengubah ruang hijau menjadi hamparan beton, lalu mengeluh ketika udara semakin panas. Kita membeli pendingin ruangan, tetapi lupa bahwa pendingin terbesar di bumi adalah pepohonan.
Kabar buruknya, kita rela menghabiskan jutaan rupiah untuk mengobati penyakit akibat polusi udara, tetapi merasa sayang mengeluarkan puluhan ribu rupiah untuk membeli bibit pohon. Padahal, setiap tarikan napas yang kita hirup adalah hasil kerja tanpa henti jutaan pohon yang menyerap karbon dioksida dan menghasilkan oksigen. Pohon tidak pernah mengirim bill tagihan. Ia tak pernah cuti terus memberi. Lalu, sampai kapan?
Jangan menunggu Kota Singkawang, Kalimantan Barat, atau Indonesia mengalami panas ekstrem seperti yang kini melanda Eropa, baru kita sadar bahwa menjaga pohon jauh lebih murah daripada memperbaiki kerusakan lingkungan. Mencegah selalu lebih bijaksana daripada menyesali. Karena itu, mari kita mulai sebuah Gerakan Menanam dan Merawat Pohon.
Bukan sekadar menanam untuk kebutuhan “dokumentasi”, tetapi merawat hingga pohon itu tumbuh rindang dan benar-benar menjadi sumber kehidupan. Kabar baiknya, jika setiap keluarga menanam satu pohon. Setiap sekolah memiliki kebun hijau.
Setiap kantor menyediakan ruang teduh. Setiap rumah ibadah menjadi pusat penghijauan. Dalam beberapa tahun, kita tidak hanya mewariskan bangunan kepada anak cucu, tetapi juga udara yang lebih bersih dan lingkungan yang lebih sehat.
Menanam pohon bukan hanya soal menghijaukan bumi. Ia adalah cara kita menjaga pasokan oksigen, menurunkan suhu lingkungan, menyimpan air hujan, dan meninggalkan jejak kebaikan yang terus tumbuh. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Tidaklah seorang Muslim menanam pohon atau menabur benih, lalu dimakan oleh burung, manusia, atau hewan, melainkan itu menjadi sedekah baginya.” (HR. Muhammad) Mari berhenti menjadi generasi yang hanya pandai mengeluh tentang cuaca.
Jadilah generasi yang meninggalkan warisan berupa pohon-pohon yang kelak menaungi anak cucu kita. Sebab ketika pohon bertambah, oksigen bertambah. Ketika oksigen terjaga, kehidupan tetap bernapas. Dan ketika bumi tetap bernapas, harapan manusia masih ada.
(Aep05-PBMI)
Safari Hamzah
Pengamat Pendidikan dan Lingkungan Kalimantan Barat








