
Sejumlah warga terdampak bencana gempa beristirahat di tenda pengungsian di Stadion Gelora Samador Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (15/8/2026). Foto: Mega Tokan/ANTARA FOTO
NTT – PORTALBMI.ID – Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) memperbarui data korban gempa Nusa Tenggara Timur (NTT). Hingga Minggu (16/8) pukul 09.00 WITA, tercatat 51 orang meninggal dunia.
Kepala Basarnas Mohammad Syafii mengatakan, jumlah tersebut bertambah dari data sebelumnya yang mencatat 48 orang meninggal dunia.
“Kami laporkan untuk update per pukul 09.00 tadi pagi hari ini, bahwa total korban meninggal dunia ada 51. Jadi mohon maaf, slide yang kami update tadi pagi masih 48. Untuk update per pukul 09.00 adalah 51,” kata Syafii saat rapat koordinasi penanganan gempa NTT di Kantor Bupati Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Minggu (16/8).
Syafii menjelaskan, tiga korban meninggal dunia ditemukan di Manggarai Timur. Sementara itu, di wilayah Manggarai atau Reo, jumlah korban meninggal bertambah satu orang, dari 23 menjadi 24 orang.
“Penambahan yang pertama, di Manggarai Timur ada tiga warga yang dievakuasi dalam kondisi meninggal dunia. Kemudian untuk yang ada di Manggarai atau Reo, yang tadinya 23 menjadi 24, bertambah satu. Sehingga totalnya ada 51 korban meninggal dunia. Dan untuk yang luka-luka dan luka berat yang mendapatkan perawatan, total 64 warga,” ujarnya.
Operasi SAR masih menghadapi sejumlah kendala di lapangan. Beberapa akses jalan terhambat akibat longsor, sementara gangguan jaringan komunikasi dan listrik terjadi di sejumlah wilayah, khususnya Manggarai Timur dan Nagekeo.
“Namun tim SAR masih menggunakan fasilitas Starlink yang bisa terhubung dengan seluruh unsur-unsur operasi SAR yang ada di Flores,” kata Syafii.
Basarnas juga mengerahkan helikopter untuk mendukung operasi SAR. Helikopter tersebut dalam perjalanan dari Bima menuju Labuan Bajo.
Syafii mengatakan, jika tidak ada warga yang perlu dievakuasi menggunakan helikopter, armada tersebut akan dimanfaatkan untuk membantu distribusi logistik, termasuk kebutuhan kesehatan.
“Begitu juga kapal SAR yang ada di Labuan Bajo ini juga bisa dimanfaatkan untuk pergeseran logistik karena alhamdulillah di hari kedua ini ruas jalan sebagian besar sudah bisa terhubung juga melalui jalan darat,” ujarnya.

Basarnas juga menyiapkan personel tambahan dari sejumlah kantor SAR, di antaranya Makassar, Mataram, dan Surabaya, serta tim Basarnas Special Group (BSG).
Sebelumnya, gempa berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Nagekeo, NTT, pada Sabtu (15/8) pukul 04.58 WIB. Gempa tersebut juga memicu tsunami dengan ketinggian maksimum 0,94 meter di sejumlah wilayah NTT, NTB, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara.
Gempa menyebabkan sejumlah fasilitas kesehatan rusak, termasuk RSUD Komodo dan RSUD Ruteng. Sejumlah pasien harus dipindahkan. Selain itu, kerusakan juga terjadi pada rumah warga, pelabuhan, serta akses jalan di sejumlah kabupaten di NTT.
(Red-PBMI)







