
Tren wisata berbasis pengalaman atau experiential tourism turut menciptakan ruang baru bagi pelaku usaha. FOTO: Ayu05/PORTALBMI.ID
DENPASAR – Perkembangan industri pariwisata Bali tidak hanya membuka peluang pada sektor akomodasi dan properti. Tren wisata berbasis pengalaman atau experiential tourism turut menciptakan ruang baru bagi pelaku usaha untuk mengembangkan produk wisata yang mengangkat seni, budaya, dan kehidupan masyarakat lokal.
Salah satu yang dinilai memiliki potensi adalah cultural tour, termasuk program wisata yang memperkenalkan musik tradisional Bali secara lebih interaktif kepada wisatawan.
Pakar dan Konsultan Bisnis, Ni Nyoman Ayu Putri Ariani, SE., MM., mengatakan perubahan pola perjalanan wisatawan menjadi salah satu faktor yang mendorong munculnya peluang tersebut.
“Wisatawan saat ini tidak hanya mencari tempat untuk dikunjungi, tetapi juga pengalaman yang memiliki cerita dan dapat mereka rasakan secara langsung. Bali memiliki kekayaan budaya yang sangat kuat untuk dikembangkan menjadi bagian dari produk wisata,” ujar Ayu Putri.
Musik Tradisional sebagai Pengalaman Wisata
Menurut Ayu Putri, musik tradisional Bali dapat dikemas menjadi pengalaman wisata yang tidak sekadar berupa pertunjukan.
Wisatawan dapat diajak mengenal instrumen secara langsung, mempelajari dasar-dasar permainan, hingga berinteraksi dengan seniman atau komunitas lokal.

Beberapa instrumen yang dapat diperkenalkan antara lain suling bambu Bali, gangsa, pemade, reyong, rindik, ceng-ceng, gong, dan kendang.
Konsep interaktif tersebut memberikan kesempatan kepada wisatawan untuk memahami kesenian Bali dari perspektif yang berbeda.
“Ketika wisatawan tidak hanya melihat pertunjukan, tetapi juga mencoba memainkan instrumen dan berinteraksi dengan seniman lokal, pengalaman tersebut menjadi lebih personal. Ini yang menurut saya dapat menjadi nilai tambah dalam pengembangan produk wisata budaya,” jelasnya.
Peluang bagi Pelaku Usaha Lokal
Pengembangan cultural tour juga berpotensi membuka ruang kolaborasi antara pelaku usaha pariwisata dengan seniman, sanggar, komunitas budaya, maupun masyarakat lokal.
Dengan model bisnis yang tepat, kegiatan wisata tidak hanya memberikan pengalaman kepada wisatawan, tetapi juga dapat menciptakan peluang ekonomi bagi pihak-pihak yang terlibat dalam ekosistem budaya tersebut.
Namun demikian, Ayu Putri menekankan bahwa pengembangan bisnis berbasis budaya tetap harus memperhatikan aspek profesionalitas dan legalitas usaha.
“Budaya adalah nilai tambah yang sangat besar, tetapi ketika sudah dikemas menjadi kegiatan komersial, bisnis tersebut tetap harus memiliki struktur yang jelas. Jangan hanya fokus pada konsep dan pemasaran, sementara legalitas dan hubungan kerja sama dengan pihak-pihak yang terlibat tidak dipersiapkan,” katanya.
Legalitas Menjadi Bagian Penting
Bagi investor maupun pelaku usaha yang ingin mengembangkan bisnis tour and travel atau cultural tour di Bali, sejumlah aspek perlu diperhatikan sejak awal.
Mulai dari pemilihan kegiatan usaha dan KBLI yang sesuai, perizinan melalui OSS, struktur perusahaan, kewajiban perpajakan, kontrak kerja sama, hingga mekanisme kerja sama dengan penyedia jasa dan komunitas lokal.
Menurut Ayu Putri, kesesuaian antara kegiatan bisnis di lapangan dengan legalitas perusahaan merupakan salah satu hal yang tidak boleh diabaikan.
“Struktur bisnis harus mengikuti kegiatan yang benar-benar dijalankan. Ini penting agar ketika bisnis berkembang, pemilik usaha tidak harus melakukan banyak pembenahan karena sejak awal kegiatan usahanya sudah tidak sesuai dengan struktur legalnya,” ujarnya.
Bali Memiliki Keunggulan yang Sulit Ditiru
Ayu Putri menilai kekuatan utama Bali dalam mengembangkan wisata budaya terletak pada budaya yang masih hidup dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Hal tersebut menjadi keunggulan yang berbeda dibandingkan produk wisata yang hanya mengandalkan fasilitas fisik.
Menurutnya, tantangan bagi pelaku usaha bukan sekadar bagaimana menjadikan budaya sebagai komoditas wisata, tetapi bagaimana mengemasnya secara profesional dengan tetap menghormati nilai, tradisi, dan masyarakat yang menjadi bagian dari budaya tersebut.
“Bali memiliki kekayaan budaya yang luar biasa. Tantangannya adalah bagaimana mengembangkan potensi tersebut menjadi produk bisnis yang profesional, berkelanjutan, dan tetap menghormati masyarakat serta budaya lokal,” pungkas Ayu Putri.
(Ayu05-PBMI)








