
TAIPEI – PORTALBMI.ID – Sebuah yayasan kesejahteraan lansia di Taiwan baru-baru ini bekerja sama dengan gerai toserba 7-Eleven untuk menggelar program simulasi “pengalaman demensia” bagi perawat migran agar bisa memahami dunia dan alasan di balik perilaku pasien yang dirawat.
Lewat program yang sudah dimulai 2025, para peserta diajak mengenakan peran sebagai pelancong untuk masuk ke dalam dunia penderita demensia guna menciptakan pembelajaran yang imersif, kata Yayasan Kesejahteraan Lanjut Usia Hongdao selaku penyelenggara.
Berkat dukungan dari program “Kepedulian Demensia” melalui donasi di gerai 7-ELEVEN tahun ini, kata yayasan, pihaknya berkolaborasi dengan juru bahasa untuk menyelenggarakan sesi “Pengalaman Demensia” serta bimbingan perawatan langsung di rumah.
Inisiatif ini dirancang khusus agar para perawat migran dapat “mendengar, memahami, dan mempraktikkan” langsung ilmu yang didapat, sehingga mereka tidak perlu berjuang sendiri menghadapi tekanan merawat pasien, menurut yayasan.
Sasa perawat asal Indonesia mengaku terinspirasi setelah mengikuti program tersebut. Ia baru menyadari penolakan sang nenek terhadap air mandi disebabkan oleh ketakutan akibat demensia, sehingga ia kini terbiasa membasahi punggung tangan sang nenek terlebih dahulu agar merasa aman, kata yayasan itu.
Direktur Eksekutif Yayasan Hongdao, Lee Juo-chi (李若綺), menyatakan bahwa kendala bahasa dan komunikasi merupakan tantangan terbesar bagi para perawat asing, yang ditambah dengan kompleksitas penyakit demensia membuat beban perawatan menjadi berlipat ganda. Sesi khusus bagi perawat migran ini dihadirkan untuk menjembatani hambatan bahasa, membangun empati terhadap pasien demensia, membekali keterampilan merawat, sekaligus memberikan ruang pemulihan mental bagi mereka, kata dia.
Berdasarkan data survei Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Taiwan (MOHW), jumlah penduduk di atas usia 65 tahun dengan demensia di Taiwan telah melampaui 380.000 jiwa. Survei terbaru mengenai profil pengasuh pasien demensia di rumah menunjukkan bahwa hampir 60 persen pengasuh mengalami beban fisik dan mental yang tinggi, serta sangat membutuhkan ruang istirahat terdekat. Dari seluruh keluarga lokal penderita demensia, 50 persen di antaranya menggunakan jasa perawat asing, di mana 90 persen berasal dari Asia Tenggara, menurut survei.
Sebanyak 40 persen perawat migran bekerja 24 jam sehari dengan libur hanya dua hari sebulan tanpa ruang pribadi yang memadai. Lebih dari 80 persen dari mereka juga tidak bebas bepergian, sehingga gerai 7-ELEVEN terdekat menjadi tempat singgah singkat untuk melepas penat, kata yayasan itu.
Sejak September hingga November 2026, perusahaan 7-ELEVEN meluncurkan program kepedulian demensia bekerja sama dengan Yayasan Hongdao, Yayasan Katolik SOLC, dan Bjorgaas Foundation agar dapat merangkul lansia demensia, keluarga, serta para perawat migran.
(Red-PBMI)







