
illustrasi kilang minyak terbesar di Indonesia.
JAKARTA – portalbmi.id – PT Petrokimia Gresik (PGEO) dan PT Medco Energi Internasional (MEDC), dua emiten di sektor energi, akan membagikan dividen tahun 2025 pada Jumat (4/7/2025). Kedua saham tersebut telah menunjukkan pergerakan naik selama sepekan terakhir, didorong oleh antisipasi investor menjelang pembagian dividen berdasarkan hasil keuangan tahun 2024.
Hingga Kamis (3/7/2025), saham PGEO membukukan kenaikan mingguan sebesar 7,46%, sementara saham MEDC naik sebesar 0,40% pada periode yang sama. Menurut data Bloomberg pada Jumat (4/7/2025), mayoritas analis yang meliput PGEO dan MEDC terus menyatakan pandangan positif.
Secara spesifik, 16 dari 19 analis yang mengkaji MEDC telah mengeluarkan rekomendasi ‘beli’, sementara tiga sisanya menyarankan untuk menahan saham tersebut. Target harga konsensus saat ini untuk MEDC berada di angka Rp1.641,67, menyiratkan potensi kenaikan sebesar 30,3% dari harga penutupan terakhirnya di angka Rp1.260.
Dari sembilan sekuritas yang meliput PGEO, lima mengeluarkan rekomendasi beli, sedangkan empat sisanya menyarankan untuk menahan saham tersebut. Menurut konsensus 12 bulan di antara para analis, target harga saham PGEO diproyeksikan sebesar Rp1.331,43.
Dividen MEDC dan PGEO 2025
Manajemen Medco Energi, dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), menyatakan bahwa nilai tukar rupiah yang digunakan untuk mengkonversi dividen tunai tahun fiskal 2024 didasarkan pada kurs tengah Bank Indonesia per 17 Juni 2025, yaitu Rp16.296 per dolar AS.
Dengan demikian, total dividen tunai yang akan dibagikan sebesar US$37,95 juta setara dengan sekitar Rp618,40 miliar. Dengan dividen sebesar US$0,0015 per saham, setiap pemegang saham akan memperoleh Rp25 per saham setelah konversi.
“Dividen sebesar US$0,0015 per saham yang akan dibagikan kepada pemegang saham yang berdomisili di Indonesia, baik warga negara Indonesia maupun warga negara asing, sebesar Rp25 per saham,” jelas manajemen Medco Energi, Rabu (18/6/2025).
Sebelumnya, Medco Energi Internasional telah menyetujui total pembagian dividen sebesar US$63,29 juta untuk tahun buku 2024. Dari jumlah tersebut, sebesar US$25,33 juta telah dibayarkan sebagai dividen interim pada 1 November 2024.
“Total dividen tersebut meliputi dividen interim sebesar US$25.338.499 (Rp15,75 per saham) yang telah dibagikan kepada pemegang saham pada 1 November 2024, dan dividen final sebesar Rp25 per saham (sekitar US$37.955.538) yang akan dibayarkan pada 4 Juli 2025,” demikian pernyataan perseroan dalam keterbukaan informasi, Selasa (3/6/2025).
Sedangkan dividen interim yang dibagikan MEDC kepada pemegang saham sebesar Rp394,79 miliar (kurs Rp15.581 per dolar AS). Di sisi lain, Direktur Keuangan PT Petrokimia Gresik, Yurizki Rio, menyatakan pemegang saham telah menyetujui alokasi US$136,4 juta dari laba bersih untuk dibagikan sebagai dividen atau setara dengan 85,11% dari total laba bersih perseroan.
“Pada RUPST ini, pemegang saham PGEO sepakat untuk mengalokasikan laba bersih perusahaan, yang meliputi pembagian dividen sebesar US$136,4 juta dan laba ditahan sebesar US$24 juta,” kata Yurizki dalam keterangan resmi, Selasa (3/6/2025).
Pada 2024, PGEO membukukan laba bersih sebesar US$160,49 juta atau sekitar Rp2,67 triliun (kurs Rp16.666 per dolar AS). Angka ini turun tipis 1,89% dari laba bersih tahun 2023 sebesar US$163,59 juta atau sekitar Rp2,72 triliun.
Berdasarkan laporan keuangan untuk tahun yang berakhir Desember 2024, PGEO membukukan total pendapatan sebesar US$407,12 juta, naik 0,20% dibandingkan US$406,28 juta pada 2023. Sebagian besar pendapatan ini berasal dari penjualan uap dan listrik yang menyumbang US$390,53 juta.
Dari total pendapatan tersebut, transaksi dengan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN mencapai US$240,51 juta, sedangkan PT PLN Indonesia Power menyumbang US$150,01 juta. Sisanya berasal dari tunjangan produksi pihak ketiga sebesar US$16,58 juta.
Dibandingkan dengan pembagian dividen tahun buku 2023 yang mencapai US$128,4 juta, dividen tahun ini naik 5,85%.
“Meski demikian, perusahaan tetap menjaga profitabilitas yang solid, menjaga arus kas operasional yang kuat, dan konsisten menerapkan langkah-langkah efisiensi biaya,” imbuhnya.








