
PORTALBMI.ID – Bagi orang Kalimantan terutama Kalimantan Selatan , tentu saja tidak asing dengan buah kecil ini , buah bernama Latin Mangisfera Casturi ini adalah maskot flora Kalimantan Selatan . Buah ini adalah Buah Kasturi , salah satu keluarga Mangga yang berukuran kecil ,dengan Panjang rata-rata 5 sampai 6 Cm , lebar 4 sampai 5 Cm dan berat rata-rata 65 Gram saja .
Namun jangan salah , meski kecil rasanya luar biasa , harum daging buahnya dengan rasa manis menyerupai gula .
Beberapa waktu lalu , ketika diadakan pelatihan di tempat kerja saya , salah seorang pengajar dari Bandung kaget ketika pertama kalinya mencicipi buah lezat ini , dan beliau pun memburunya di pasar untuk dibawa sebagai oleh-oleh.
Buah lezat ini biasa saya nikmati waktu kecil pada musim berbuahnya , yaitu menjelang musim penghujan hingga bulan Januari setiap tahunnya . Namun akhir2 ini saya sudah jarang menemukan Kasturi lagi , dan kebetulan
tadi pagi ketemu di pasar , yang langsung kemudian disantap bersama keluarga kecil saya.
Dan ketika iseng browsing , betapa kagetnya saya , pada tahun 1998 , World Conservation Monitoring Centre menetapkan buah Casturi dalam staus Punah In Situ ( Extintc in the Wild ) . Artinya , Kasturi sudah dinyatakan punah di alam habitatnya / hutan . Yang tersisa hanyalah pohon2 yang ditanam oleh manusia , seperti di kebun ataupun pekarangan rumah.
Yah , saya pun teringat kerabat Kasturi di daerah saya yang disebut Ihem Urang ( bahasa Maanyan ) atau Mangga Udang . Konon buah ini sudah punah sejak lama , yang saya kurang tahu apakah sempat didata secara ilmiah atau tidak ( dan mungkin saja masih ada di hutan yang tak terjamah manusia ) yang nasibnya lebih
tragis dari Kasturi.

Tak dapat dipungkiri , kemajuan dunia industri mau tak mau ikut bertanggungjawab atas kepunahan berbagai spesies langka khususnya spesies endemik Pulau Kalimantan. Buah kedua yang berwarna Pink namanya buah Kalangkala dalam bahasa Banjar Kalsel, atau Wua Tauluh dalam saya, yaitu bahasa Dayak Maanyan. Memiliki satu suku sama Alpukat, yaitu Lauraceae. Karena itu citarasanya mirip. Alpukat, hanya saja lebih gurih dan tidak pahit seperti Alpukat.
Uniknya, di Kalimantan, buah bernama latin Litsea Garciae ini dikonsumsi sebagai lauk makan.. Caranya, buah Kalangkala yang sudah masak, dibuang tangkainya, dicuci bersih, kemudian direndam dengan air panas didalam mangkok.
Rendaman itu kemudian dicampur sedikit garam, irisan bawang dan cabai rawit dan didiamkan hingga lebih setengah jam bahkan tahan berhari2 bila dismoan dalam. Kulkas.
Buah yang telah direndam teksturnya menjadi lembek dengan rasa guriih mirip alpukat,. plus rasa asin pedas karena garam dan cabe.
Nah, setelah itu siap disantap bersama nasi pulen hangat :).
Buah Kalangkala kaya akan Vitamin C dan Antioksidan tinggi sehingga baik untuk kesehatan.
Oh ya, berbeda dengan Mangga Kasturi yang endemik hanya tunbuh di Kalimantan, buah Kalangkala bisa dijumpai juga dihutan Sumatera dan Jawa, di Jawa buah ini disebut Tangkalak.








